Puasa dan Sifat Saling Menghormati

0
95

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman. (QS âli ‘Imrân [3]: 139)

 

BincangSYariah.Com- Akhlak sebagai muara amalan ibadah puasa erat kaitannya dengan akhlak dalam keluarga. Ini ka­rena keluarga merupakan satuan atau unit terkecil masyarakat. Apabila keluarga-keluarga yang menjadi pe­nyu­­sun masyarakat dalam kondisi baik, dengan sendirinya masyarakat pun akan menjadi baik pula. Barangkali, itulah sebabnya ajaran Islam sangat memperhatikan keutuhan dan keberadaan keluarga lewat ajaran akhlak pada anggota ke­luarga.

Pilar utama dalam pembentukan akhlak dalam keluar­ga adalah adanya tanggung jawab orangtua untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan ajaran Islam. Dan anak-anak, sejalan dengan ajaran Islam, dianjurkan menghormati dan berbakti kepada ibu-bapaknya.

Hal yang demikian itu sesuai dengan yang diperintah­kan dalam Al-Quran bahwa sesungguhnya Allah Swt. telah mendekritkan (qadhâ) dua hal kepada kaum beriman. Yang pertama berkenaan dengan kehar­usan menegakkan tauhid dan yang kedua adalah keharusan berbakti kepada ibu-ba­pak. Perintah tersebut berbunyi sebagai berikut, Dan Tuhan­mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah se­lain Dia dan hendaknya kamu berbuat baik kepada ibu-bapak­mu. Jika salah sesorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai beru­mur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-ka­li jangan kamu katakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (QS Al-Isrâ’ [17]: 23).

Wujud dekrit mengasumsikan bahwa sesungguhnya Allah Swt. tidak rela dengan alasan apa pun seorang anak marah dan berlaku tidak sopan kepada ibu-bapaknya kare­na jasa mereka tidak bisa dibalas dengan harga berapa pun. Oleh karena itu, ada kewajiban untuk terus berbuat baik ke­­pada mereka, termasuk di dalamnya memelihara mereka hingga mereka berumur atau usia lanjut, dan dilarang sekali mengucapkan kata-kata yang tidak pantas meskipun hanya sekadar ucapan “ah” atau ungkapan nada keluhan.

Baca Juga :  Puasa yang Mengasah Kepekaan Ruhaniah

Hal yang serupa juga ditegaskan dalam sebuah hadis Ra­sulul­lah Saw. Dalam hadis tersebut, posisi ibu-bapak dipa­ra­lel­kan dengan Allah Swt. seperti disabdakan, “Kerelaan Allah Swt. berada pada kerelaan orangtua, dan kutukan Allah berada pada kutukan orangtua.”

Akhlak adalah bentuk jamak kata khuluq, artinya pen­cip­ta­an yang esensinya adalah dorongan halus untuk selalu mencintai kebajikan dan kebenaran atau kepribadian, untuk selalu berbuat baik dan berbakti kepada orangtua. Itulah yang disebut birr-u ’l-wâlidain dalam Islam. Namun, sejauh mana seorang anak harus menaati dan menuruti perintah orang­tua, Islam memberikan tuntunan sebagaimana dinya­ta­kan dalam Al-Quran bahwa ternyata ketaatan itu hanyalah dalam batas hal-hal yang berkaitan dengan masalah du­nia­­wi. Dengan demikian, kalau saja orangtua mengajak ke­pa­da kesesa­tan, yakni menyembah selain Allah Swt., seorang anak hendaknya tidak perlu lagi menaati mereka, seperti di­sebutkan, Dan jika keduanya memaksamu untuk memperse­ku­tu­kan dengan-Ku (Allah) sesua­tu yang tidak ada pengetahu­an­mu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik … (QS Luqmân [31]: 15).

Bakti dan hormat kepada orangtua juga hendaknya te­rus dila­kukan meski mereka berbeda keyakinan atau ke­iman­an, selagi mereka tidak mengajak kepada menyembah se­lain Allah Swt. Dengan begitu, singkatnya, tidak ada ala­san apa pun untuk tidak berbakti kepada ibu-bapak, asal ti­dak menyangkut masalah agama.

Tugas dan tanggung jawab kedua orangtualah untuk berusaha mendapatkan keturunan yang baik atau putra pu­tri yang saleh. Usaha dan upaya tersebut haruslah diwujud­kan dengan cinta kasih yang tulus, truly love yang tidak hanya terbatas pada pemenuhan material semata. Cinta kasih orangtua juga harus diwujudkan dalam bentuk hubungan emosional dan spiritual. Orangtua juga hendaknya selalu me­mohon atau berdoa kepada Allah Swt. agar diberi ketu­run­­an dan anak yang berakhlak atau berbudi luhur seperti dalam doa yang sering dibaca usai shalat, “Ya Tuhan kami, berikan dari keturunan kami anak yang saleh.” Di sisi lain, se­sungguhnya doa juga merupakan simbolisasi atau cermin tanggung jawab orangtua kepada anak.

Baca Juga :  Hikmah Puasa: Kesalehan Sosial

Dalam ajaran Islam, kita tidak dibenarkan hanya men­dam­bakan atau berharap seorang anak maju dalam segi in­telektualitasnya, cerdas dan pintar saja, atau bahkan harta­nya. Sesungguhnya, kita dianjurkan untuk selalu berdoa dan memohon agar diberi putra putri yang dipenuhi oleh kepri­ba­dian yang saleh seperti dalam doa sehari-hari yang sangat populer, “Dan perbaikilah bagi kami keturunan kami.”

Yang dimaksudkan dengan “perbaikan” dalam doa ter­se­but di atas, sekali lagi tidak semata-mata dari segi lahiriah, intelek­tual, material, tetapi yang lebih substansial adalah per­baikan dalam moral dan akhlaknya.

Adapun ilustrasi atau gambaran anak saleh adalah seba­gai­mana yang ditemukan dalam doa yang berbunyi, “Ya Tu­han kami, limpah­kanlah kepada kami dari istri-istri dan ke­turunan kami qurrata a‘yun.” Yang dimaksud dengan qurra­ta a‘yun, yang arti harfiahnya adalah pusat pandangan, yakni metafor anak-anak yang dapat mem­­berikan kebahagiaan bila ma­ta orangtuanya melihat atau memandang mereka. Di sisi lain, dengan ungkapan kebahagiaan saat melihatnya juga merupakan simbolisasi adanya hubungan atau komunikasi yang baik da­lam keluarga.

Dengan menjalankan ajaran dan pesan moral sesuai dengan yang dianjurkan oleh Al-Quran, tentunya tidak akan muncul per­soalan seperti yang sekarang mun­­­­cul, yakni kenakalan remaja, kerusakan moral, atau gejala se­per­ti yang terjadi di negara-ne­gara Barat yang sangat populer dengan sebutan generation gap, ke­senjangan generasi. Muncul­nya masalah generation gap yang berwujud anak-anak tidak mau menaati perintah orangtua yang di­pandang kolot atau ketinggal­an zaman, di antaranya disebab­kan ketidakmampuan kedua be­lah pihak melakukan komunikasi.

Oleh karena itu, orangtua juga harus menyadari per­kem­bangan dan kemajuan zaman. Orangtua harus menya­dari bahwa zaman berubah dan berjalan. Orangtua tetap di­tuntut bisa memberikan arahan dan tuntunan moral yang baik.

Baca Juga :  Sekali Lakukan Perbuatan Buruk Ini, Anda Akan Lakukan Perbuatan Buruk Lainnya

Sebaliknya, seorang anak juga dianjurkan untuk terus mendoa­kan kedua orangtuanya setiap saat, yang juga me­rupakan komunikasi emosional dan spiritual dua arah. Doa yang sangat sederhana yang sering kita dengar adalah, “Ya Tuhan kami, sayangilah kedua orangtua kami sebagaimana me­reka telah menyayangi kami waktu kecil.”

Dalam Islam, pendidikan anak juga harus sudah diajar­kan sejak dini lewat proses pembiasaan (habituation), seperti pelati­han puasa dan shalat meski usianya belum mencapai akil balig. Bahkan ada anjuran agar pendidikan anak dimu­lai sejak saat dalam kandungan (prenatal-education), yaitu ibu-bapaknya harus memper­banyak beribadah, termasuk mem­baca Al-Quran. Adapun bacaan surah Al-Quran yang se­ring dipilih oleh kebanyakan orangtua bagi anak dalam kandungan adalah Surah Yûsuf dan Maryam—keduanya merupakan simbolisasi kepribadian yang sangat luhur, saleh dan salehah.

Berkaitan dengan ajaran menghormati dan berbuat baik kepada ibu-bapak, bersamaan dengan kedatangan hari raya Idul Fitri, kita menemukan adanya budaya “sungkem”, khu­susnya dalam budaya Jawa. Budaya sungkem—meminta maaf dengan menundukkan badan di depan orangtuanya—tentunya jangan dikaitkan dengan konotasi menyembah atau bersujud kepada orangtua, melainkan sebagai sim­boli­sasi ketaatan seorang anak kepada ibu-bapaknya yang telah membe­sarkannya. Yang demikian itu sejalan dengan yang di­­dekritkan oleh Allah Swt. di atas tadi.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here