Puasa dan Pembangunan Kepedulian Sosial

0
504

BincangSyariah.Com – Allah Swt berfirman, yang artinya:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS Âli ‘Imrân [3]: 133)

Ibadah puasa pada mulanya merupakan masalah per­sonal antara seorang hamba dengan Tuhannya semata. Dan dari segi in­trinsik ajarannya—yakni substansinya—iba­dah puasa difungsikan sebagai latihan pengendalian diri dari kejatuhan secara moral dan spiritual. Namun, sebagai­ma­­na diketahui kemudian, ibadah puasa, seperti halnya iba­dah-ibadah lain dalam Islam, ternya­ta segi intrinsiknya tidak bisa begitu saja dipisahkan dari dimensi konsekuensial atau ikutannya, yakni mela­kukan amal sosial, kerja kemanusiaan, seperti yang diindikasikan dalam sebuah hadis Rasulullah, “Barang siapa tidak dapat menin­ggalkan perkataan kotor dan me­lakukannya, maka tidak ada kepentin­gan baginya mening­gal­kan makan dan minumnya.” Atau juga seperti yang tersirat da­lam perkataan ‘Umar bin Khaththab yang sangat terke­nal, “Banyak orang berpuasa tetapi tidak diperoleh dari pua­sa­nya melainkan lapar dan dahaga.”

Oleh karena itu, untuk dapat memahami ajaran dan pe­san puasa secara benar, sekali lagi perlu ditegaskan bah­wa orang beriman dia­njurkan untuk selalu sadar akan tuju­an perintah berpuasa. Pengamalan ibadah puasa diharap­kan akan dapat mempertajam kepekaan ruhaniahnya, se­hing­ga akan mudah menerima panggilan-panggilan atau se­ruan-seruan Allah Swt.

Menying­gung problem pengalaman ruhaniah, perlu di­ingat bahwa yang demi­kian itu bersifat sangat pribadi sehing­ga antara satu orang dengan yang lain berbeda tingkatan­nya. Dan pengalaman ruhaniah itu dicapai setelah seseorang melakukan pelatihan ruhaniah (spiritual exercise) secara te­rus-menerus dengan penuh kesunggu­han, yang dalam ung­kap­an bahasa sufi disebut melakukan al-mujâha­dah.

Masalah menahan diri—yang menjadi inti ajaran pua­sa—tern­yata, kalau saja mau dikaji, merupakan masalah men­­­­­­­­­da­sar dan klasik dalam problematik kemanusiaan se­cara umum, bahkan pada zaman modern sekalipun. Masa­lah ketidakmampuan menahan diri, sebagaimana diilustrasi­kan Al-Quran, juga menjadi titik permulaan terjadinya Dra­ma Kosmis atau Kejatuhan Manusia dari surga ke bumi ini—yang dalam idiom Al-Quran disebut drama al-hubût dan da­lam bahasa Inggris disebut doctrine of fall. Nabi Adam dan Hawa, sebagai simbol nenek moyang manusia, terbukti tidak mampu menahan dan mengendalikan dirinya dari godaan se­tan sehing­ga akhirnya mereka digelincirkan ke dalam per­buat­an yang dilarang oleh Allah Swt.

Sumber segala potensi yang mendorong manusia me­laku­­kan pelanggaran adalah godaan yang berupa makan, mi­num, dan seks. Ketiga masalah tersebut kemudian di­sim­boli­sasikan dalam ajaran berpuasa sebagai hal-hal yang ha­rus ditahan atau dinyatakan yang dapat membatalkan pua­sa, sebagaimana yang sudah menjadi kesepaka­tan para ula­ma fiqih. Dan, perlu juga diketahui, bahwa pada kenyataan­nya hampir seluruh masalah kemanusiaan yang ada sekarang pun terjadi akibat ketidakmampuan manusia menahan diri dari ketiga godaan tersebut.

Sumber lain, kalau kita mau telusuri, sebagaima­na dise­but­kan dalam lanjutan ayat yang memerintahkan berpuasa, ada­lah ketidakmampuan manusia menahan diri dari do­rong­an dan godaan harta.

Berdasarkan keempat unsur inilah, kemudian diperoleh se­buah kesimpulan bahwa perintah berpuasa ternyata me­mi­li­ki dimensi konsekuensial yang berkaitan erat sekali de­ngan masalah harta.

Baca Juga :  Tujuan dan Tingkatan Manusia dalam Beribadah

Kembali menyinggung masalah sifat bawaan manusia, yang sudah built-up memiliki potensi dan kecenderungan ingin melanggar larangan, maka akan kita dapati bahwa hu­­kum-hukum Allah Swt. kebanyakan diturunkan dalam ben­­tuk larangan, seperti hukum-hukum Allah Swt. yang di­turunkan kepada Nabi Musa a.s. yang populer dengan nama Ten Commandments. Ten Commandments (Kalimah ‘Asyr [Se­puluh Perintah Tuhan]) ini antara lain berisi larangan-larang­an seperti jangan mencuri, jangan membunuh, jangan berzi­na, dan jangan berdusta.

Potensi bawaan manusia yang selalu ingin melanggar—di­antara­nya karena ketidakmampuan menahan dan me­ngen­dali­kan diri—adalah seperti yang diilustrasikan ayat Al-Quran yang artinya Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS âli ‘Imrân [3]: 133).

Ilustrasi yang diberikan oleh Al-Quran tersebut juga meng­­a­sumsikan betapa tamak dan rakusnya manusia. Ha­nya karena mengiku­ti dorongan hawa nafsunya, ia kemu­dian melanggar larangan Tuhan. Atau, dengan ungkapan la­in, di surga yang sangat luas—seluas langit dan bumi—ter­sebut dan dipenuhi oleh banyak alternatif, tetapi karena ke­­­­­ti­dak­mampuan menahan diri, manusia memilih melang­gar larangan Tuhan. Alternatif-alternatif yang dimaksud ada­lah tersedianya bermacam-macam buah-buahan yang me­lim­pah, yang terdapat di dalam surga. Manusia lebih suka me­langgar, dengan memakan buah khuldi, serta meng­abai­kan alternatif-alternatif dan kemudahan-kemudahan yang tersedia.

Itulah sebabnya, barangkali, masalah puasa kemudian di­kata­kan sebagai masalah atau gerakan back to basic kare­na menyangkut masalah menahan dan mengendalikan diri da­ri potensi-potensi yang akan dapat menggelincirkan ma­nu­sia ke kejatuhan moral dan spirit­ual.

Namun begitu, perlu diingat kembali—meskipun harta ju­ga merupakan sumber permasalahan dan problematik ke­ma­nu­siaan karena ia potensial mendorong manusia untuk me­lakukan pelanggaran—bahwa sejalan dengan pan­dang­an dan ajaran Islam, agama Islam melihat problem kepemi­lik­an harta sebagai hal yang positif.

Agama Islam mengakui adanya kepemilikan harta (ow­ner­ship). Akan tetapi, harus dibedakan bahwa agama Islam tidak sama dengan kapitalisme yang memberikan hak-hak ke­pemilikan secara absolut kepada siapa saja yang memiliki harta. Sehingga siapa saja yang memiliki harta boleh berbuat apa saja, seperti misalnya, orang sah-sah saja membakar uang­nya, atau mewariskan hartanya kepada orang lain yang ia sukai.

Adapun dalam konsep Islam, kepemilikan harta diberi­kan kepada manusia hanya sebagai perwakilan, tidak mu­tlak.

Dari sini dapat dipahami bahwa pada satu sisi, manusia ber­hak melakukan apa saja terhadap hartanya, tetapi pada si­si lain manusia juga dikenakan rambu-rambu dan pertang­gung­jawaban atas hartanya. Atau dalam ungkapan yang le­bih populer, ada sisi accountability atas hartanya itu. Seperti di­sebutkan dalam Al-Quran, Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari harta yang telah Allah jadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang beriman di antara kamu dan menafkahkan (se­bagian) hartanya memperoleh pa­­­hala yang besar (QS Al-Hadîd [57]: 7).

Dalam Islam—dan inilah sa­lah satu ciri yang membedakan ajar­an Islam dengan ajaran kapi­tal­isme—harta juga harus dicapai dan diperoleh dengan jalan dan ca­ra-cara yang benar. Pengertian be­­nar bukan saja benar secara hu­­kum atau dengan mencari le­gi­­ti­masi untuk dapat memenang­kan perkara, yang oleh Al-Quran su­­dah disinyalir sering terjadi lewat peradilan. Dalam istilah orang sekarang, sering terjadi ma­­fia pengadilan. Sebagai­mana dalam Al-Quran disebutkan, Dan ja­nganlah sebagian kamu mema­kan harta sebagian yang lain di an­tara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urus­an) harta itu kepada hakim, su­paya kamu dapat memakan se­ba­gian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, pa­da­hal kamu menge­tahui (QS Al-Baqarah [2]: 188).

Baca Juga :  Banyak Tidur Saat Berpuasa, Apakah Puasanya Batal?

Upaya mendapatkan harta dengan jalan dan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh Al-Quran termasuk upaya-upa­ya seperti praktik kolu­si, penyogokan, dan suap yang dalam sebuah hadis diistilah­kan dengan al-risywah. Demikian pula tindakan untuk mendapatkan pembenaran lewat hukum yang sudah direkayasa terlebih dahulu adalah sungguh-sung­guh merupakan perbuatan dosa yang dilarang oleh Is­lam.

Dalam praktiknya, kemudian perlu diketahui bersama bah­wa budaya dan tradisi kolusi dan sogok-menyogok atau su­ap-menyuap terkadang sering dirancukan dan dikabur­kan pengertiannya dengan istilah memberi hadiah, meski­pun substansi dan tujuannya sama saja. Itulah sebabnya, Rasulullah Saw. kemudian menganjurkan orang beriman un­tuk tidak menerima suatu pemberian, baik berupa barang mau­pun uang, sebelum terlebih dahulu menanyakan dan menegaskan maksud dan tujuan pemberian. Dengan pene­gas­an tersebut akan dapat diketahui apakah pemberian itu dimaksudkan sebagai hadiah—yang dalam ajaran Islam di­be­nar­kan sebagai ungkapan atas prestasi atau suatu keber­ha­sil­an—atau sebaliknya, sebagai kolusi, suap atau sogokan.

Dalam ajaran Islam, orang diberi karunia harta oleh Allah Swt. dan akan dimintai pertanggungjawaban atas har­ta tersebut. Dalam konsep Islam, harta juga merupakan ama­nat dan ini benar-benar sejalan dengan tujuan puasa, yakni tak­wa—kesadaran bahwa segala sesuatu, termasuk harta, ma­nusia, dan alam semesta, selur­uhnya datang dari Allah Swt. dan dengan sendirinya akan dikemba­likan kepada-Nya pu­la. Ini seperti dinyatakan dalam Al-Quran, Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “in­nâ li ’l-Lâh-i wa innâ ilaihi râji‘ûn” (QS Al-Baqarah [2]: 156).

Juga perlu diingatkan bahwa tatanan masyarakat apa pun yang membenarkan aturan atau hukum mendapatkan harta dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh Al-Qur­an, meskipun masyarakat tersebut sudah memandangnya se­­­ba­gai suatu hal yang lumrah atau biasa, tetap saja dalam jang­ka panjang akan merusak tatanan kehidupan masyara­kat tersebut. Pada hakikatnya, tindakan dan praktik serupa itu sesungguhnya, tanpa disadari, merupakan sebuah proses pe­rusakan terhadap tatanan sosial yang ada.

Kadang muncul suatu ungkapan: yang menyatakan bah­wa hidup pada zaman sekarang, bila ingin menjadi orang yang bersih atau “Mr. Clean”, adalah sulit. Perlu dicamkan benar-benar bahwa setiap orang beriman dituntut untuk da­­pat melakukan mujâhadah, menahan diri. Dengan demiki­an, ia tidak hanyut terbawa arus, dengan terus mentransen­den­si­kan diri dari belenggu kultur politis yang ada. Dan ini­l­­ah yang sesungguhnya dinamakan ketak­waan.

Sepanjang bulan puasa, orang beriman dianjurkan oleh Ra­su­lullah untuk dapat melakukan berbagai upaya pelatih­an diri, mentransendensikan diri sebagaimana dinyatakan da­lam sebuah sabdanya yang sangat terkenal, “Barang siapa ber­puasa karena iman dan melakukan ihtisâb, maka akan diam­puni segala dosa-dosan­ya yang lalu.”

Bulan Ramadlan adalah bulan yang sangat tepat untuk melaku­kan self-examination, seperti dengan merefleksikan diri: apakah harta yang dimilikinya selama ini diperoleh de­ngan cara-cara yang benar, dan apakah harta yang dimiliki­nya sudah dipergunakan sebagaimana yang dianjurkan dan di­perintahkan oleh agama Islam atau belum.

Baca Juga :  Indonesia Terancam Bubar? Contohlah Sikap Optimis Rasulullah

Siapa pun orangnya, yang tidak mau melakukan self-exami­na­tion, akan dengan mudah terjerumus ke dalam prak­tik-praktik dan amalan-amalan jahat yang tampak dari luar se­bagai sesuatu yang baik. Seperti dalam Al-Quran disebut­kan, Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) men­­­jadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (QS Muhammad [47]: 14).

Sekali lagi, kita harus meyakini bahwa ajaran Islam sa­ngat menekankan pentingnya kesadaran yang bersumber pa­da ketakwaan. Kesadaran bahwa segala sesuatu dalam lin­dung­an, jangkauan, dan pengawasan Allah Swt. Sesung­guh­nya Allah Swt.—bagi orang beriman yang telah berhasil mentransendensikan dirinya—adalah hadirnya kesadaran spi­ritual setiap saat sehingga upaya apa pun yang dilakukan oleh kita sebagai langkah pemutihan atas harta kita, juga ti­­dak akan pernah luput dari pengetahuan Allah Swt. Seperti disebutkan dalam Al-Quran,

… Dan Dia (Allah) lebih me­nge­tahui (tentang keadaan)-mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; ma­ka jangan­lah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang pa­ling mengetahui tentang orang yang bertakwa (QS Al-Najm [53]: 32).

Kembali kepada problem—sebagaimana persoalan pua­sa, yang pada mulanya hanyalah masalah pribadi dan perso­nal kemudian tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosial—per­soalan harta juga menyangkut persoalan yang amat men­dasar, yaitu masalah kelangsungan sebuah tatanan masya­rakat. Artinya, kita tidak bisa bermain-main dengan masalah tersebut.

Dalam memanfaatkan hartanya, seseorang harus dapat berkeya­kinan baik terhadap dirinya, karena ini menyangkut peng­abdian kepada Allah Swt. yang berdampak kepada diri sen­diri. Dorongan-dorongan yang ditimbulkan oleh makan, mi­num, seks, dan wanita adalah dorongan-dorongan yang timbul dari hawa nafsu, yang kalau tidak dapat dikendalikan, akan dengan mudah menggelin­cirkan manusia ke da­lam kemerosotan dan kejatuhan moral-spiritual.

Itulah sebabnya, barangkali, memerangi dorongan ha­wa nafsu atau jihâd nafs diilustrasikan dalam sebuah hadis Na­bi sebagai jihâd akbar. Sementara itu, jihad dalam pe­nger­tian perang secara fisik, justru dikatakan jihad kecil. Da­lam pengertian generiknya, jihad adalah berperang un­tuk menegakkan kalimat Allah Swt., yang oleh Rasulullah Saw. dikategorikan jihad kecil sebagaimana dalam sabdanya yang sangat populer, “Kita baru saja pulang dari jihad kecil (Pe­rang Badar) dan akan masuk ke jihad besar, yakni memerangi hawa nafsu.”

Dan, sekali lagi, puasa sebagai masalah yang menyentuh problem kemanusiaan mendasar adalah sebuah latihan ru­ha­niah dalam rangka memenangkan jihad besar tersebut. De­ngan ber-mujâhadah kita dapat mengendalikan dan me­ngontrol hawa nafsu yang dapat merendahkan derajat kema­nu­siaan sebagai makhluk atau karya ter­baik Allah Swt.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here