Puasa dan Esensi Ketakwaan

0
139

Allah Swt Berfirman yang artinya:
Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah `kami telah islam,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalan­mu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurât [49]: 14)

 

Takwa sebagai derajat kemampuan mengendalikan diri dapat dibedakan dengan keislaman dan ke­iman­an. Hal itu tercermin secara implisit dalam per­nya­taan Al-Quran, Hai orang-orang beriman, bertakwalah ka­mu kepada Allah, yang terdapat di banyak ayat. Ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang beriman masih disuruh ber­takwa.

Dalam ayat tentang seorang Badui yang mengaku su­dah beriman, Al-Quran memperin­gatkan bahwa mereka se­be­nar­nya belum beriman, Katakanlah (kepada mereka), “Ka­mu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah Islam’, ka­rena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu ta­at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalan­mu; sesungguhnya Allah Maha Peng­ampun Lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hujurât [49]: 14).

Klaim Al-Quran itu sangat logis karena erat kaitannya de­ngan kondisi Islam pada saat itu, yaitu Islam telah menjadi agama yang kuat secara politis sehingga sepertinya tidak ada alternatif atau pilihan lain bagi orang-orang Arab pada saat itu kecuali beris­lam. Dan dalam kasus serupa, berislam identik dengan arti gener­iknya, yakni tunduk atau menye­rah, termasuk karena alasan politik.

Ilustrasi-ilustrasi yang diperoleh dari kitab suci Al-Quran memberikan keyakinan kepada kita bahwa Islam, iman, dan tak­wa adalah tiga hal yang terpisah. Memang arti berislam yang sebenarnya juga harus mengandung pengertian ber­iman, dan beriman juga harus bertakwa. Namun sekali lagi, seperti telah diungkapkan dalam Al-Quran, ketiga persoal­an ini sering disebutkan secara terpisah (al-infirâd [single word]), yaitu Islam, iman, dan takwa dalam kasus tersebut di­pahami sebagai hal yang memiliki penger­tian yang sama dan tidak dibedakan.

Akan tetapi, sering pula didapatkan dalam Al-Quran, Is­lam, iman, dan takwa disebutkan secara bersama-sama yang menuntut bahwa Islam, iman, dan takwa sebagai tiga hal yang memiliki dera­jat perbedaan. Pemahaman bahwa hakikat Islam, iman, dan takwa memiliki derajat perbedaan juga dapat ditemukan seperti yang disebutkan dalam hadis Jibril atau hadis qudsi. Diceritakan bahwa Jibril menyamar sebagai seorang laki-laki dan meminta penjelasan kepada Ra­sulullah berkaitan dengan Islam, iman, dan ihsan.

Baca Juga :  Awal Puasa Ikut Mekkah atau Madinah, Apakah Sesuai Sunnah?

Dari situ kita juga dapat menarik kesimpulan bahwa ha­­kikat Islam dapat dibedakan dengan iman dan takwa. Is­­lam ternyata lebih memberikan penegasan pengertian pa­da kualitas lahiriah seseorang, seperti dalam kasus orang Ba­­dui tadi sehingga orang berislam itu kasatmata (dapat dilihat). Sementara itu, iman lebih memberikan penegasan pe­­ngertian pada penggambaran kualitas yang bersifat ba­tini­ah atau spiritual. Dengan begitu, dapat kita pahami bah­wa sebenarnya, berislam itu merupakan titik awal sebuah la­tih­an dalam beriman.

Ajaran yang demikian itu juga paralel dengan pema­ham­an manusia tentang arti kebahagiaan yang ternyata ber­tingkat-tingkat pula. Ada kebahagiaan fisik atau biologis, yang berarti kebaha­giaan dalam berislam. Kemudian ada ke­­bahagiaan ruhaniah atau beriman, ini tingkatnya lebih ting­­gi. Juga ada kebahagiaan lain, yang orang sekarang me­nye­butnya kebahagiaan psikologis (nafsîyah).

Orang yang secara lahir bahagia, belum tentu ia juga ba­­hagia secara psikologis dan spiritual. Juga orang yang ba­ha­gia secara psikologis, belum tentu ia bahagia secara fisik dan spiritual, dan seterusnya. Dan manusia dalam ajaran Is­lam telah diajarkan untuk mengejar dan mendapatkan ke­­ba­ha­giaan yang sesungguhnya, yakni kebahagiaan ruha­niah atau spiritual yang merupakan perwuju­dan kebahagia­an yang hakiki.

Dalam hal memahami aga­ma, orang juga mengalami pe­nge­lompo­kan, ada yang hanya da­pat memahami ajaran Islam dari segi-segi lahiriah, disebut ‘awâm-u ’l-nâs atau kelompok orang awam (common people). Pe­ma­haman kelompok ini terha­dap ajaran agama Islam juga ab­sah dan dibenarkan. Seperti yang terjadi pada zaman Rasulul­lah ketika seorang Badui ditanya Rasulullah saw., di mana Allah Swt. berada, kemudian orang ta­di menunjukkan tangannya ke la­ngit dan Rasulullah membenar­kan­nya. Padahal, pemahaman yang seperti itu jelas berlawanan dengan pernyataan kitab suci Al-Quran, yang mengatakan bah­wa Allah Swt. ada di mana-mana.

Berkenaan dengan kasus peng­­gambaran surga, umpama­nya, Al-Quran sering mengguna­kan bahasa-bahasa metafor dan simbol-simbol atau tamsil sehing­ga orang awam mudah mema­hami­nya. Begitu pula gambaran surga dalam sebuah surah yang melukiskan surga sebagai sebuah tempat yang di da­lam­nya terdapat sungai-sungai yang menga­lir di bawahnya dan taman-taman yang indah dan dipenuhi dengan ber­aneka macam buah-buahan.

Di sisi lain, ada pula kelompok yang memahami Al-Quran dari substansinya. Dan mereka itulah yang disebut kelompok orang al-khâsh, yakni kelompok khusus, elite (spe­cial people). Pemahaman ajaran agama kelompok ini juga sah. Al-Quran membuktikan pula dengan kasus penggam­bar­an tentang surga, ada juga yang mengguna­kan ungkap­an-ungkapan yang sama sekali berbeda sehingga orang awam tidak akan bisa memahaminya, seperti yang berbunyi, Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (berma­cam-macam nikmat) yang menyedapkan pan­dang­an mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerja­kan (QS Al-Sajdah [32]: 17).

Baca Juga :  Bolehkah Mengadopsi Hukum Adat?

Yang demikian itu kemudian diilustrasikan dengan gaya bahasa yang sama dalam sebuah hadis qudsi, “Disiapkan ba­gi hamba-hamba-Ku yang saleh apa-apa yang tidak dapat di­­pan­dang mata, tidak didengar telinga, dan tidak pernah terbe­tik dalam hati seseorang manusia.”

Dengan begitu, pendeknya, dapat ditarik kesimpulan bah­wa kategorisasi atau pengelompokan Islam, iman, dan tak­wa serta adanya kelompok-kelompok atau golongan orang awam, elite, dan lebih khusus, adalah hal yang diakui dan dijustifikasi kebera­daannya.

Menilai kualitas keislaman seseorang dapat dilakukan karena berkaitan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah. Akan tetapi, justifikasi keimanan tidak bisa karena me­nyang­­kut persoalan batiniah dan menjadi urusan Allah Swt. saja.

Contoh dari Al-Quran tentang penge­lompokan orang ke dalam awam, elite, dan lebih khusus, sebagai simbol kate­go­risasi antara islam, iman, dan takwa, berkaitan dengan ma­­salah takwa yang dijadikan tujuan perintah ibadah puasa. Mencapai derajat takwa merupakan upaya memperkecil pi­ra­mida kelompok awam yang jumlahnya tentu lebih besar. Ada­pun fungsi takwa adalah seperti yang diilustrasikan da­lam Al-Quran, ibarat dasar atau fondamen sebuah bangun­an. Dan dalam ilustrasi tersebut dinyatakan bahwa takwa ad­alah sebaik-baik dan sebenar-benarnya pedoman, pan­dang­an hidup sebagaimana dinyatakan, Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas takwa kepada Allah dan rida-Nya itu baik, ataukah orang yang mendirikan bangun­an­nya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan itu jatuh ber­sa­ma dia ke dalam neraka jahanam? Dan Allah tidak memberi­kan petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS Al-Taubah [9]: 109).

Dari sudut latar belakang turunnya ayat Al-Quran di atas, ayat tersebut diturunkan sebagai respons langsung ter­ha­dap pem­bangunan masjid yang diprakarsai oleh seke­lom­pok orang munafik sebagai upaya memecah-belah kekuatan umat Islam, yang kemudian dalam sejarah terkenal dengan sebutan Masjid Dlirâr. Masjid tersebut kemudian oleh Allah Swt. diperintahkan untuk dirubuhkan.

Baca Juga :  Hukum Berobat ke Dokter Lawan Jenis

Penggambaran yang indah tentang pandangan hidup takwa dikon­traskan dengan pandangan hidup selain takwa de­ngan menggunakan retorika yang indah itu juga erat kait­an­nya dengan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran. Baha­sa Arab telah dipilih oleh Allah Swt. sebagai bahasa kitab su­ci Al-Quran, sesuai dengan pengakuan Al-Quran yang berbunyi, Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur­an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya (QS Yû­suf [12]: 2).

Sekadar menyinggung alasan dipilihnya bahasa Arab, berdasarkan penelitian, bahasa Arab memiliki keistime­waan yang luar biasa. Dari bahasa-bahasa dunia yang memiliki pe­ng­aruh yang kuat—Latin, Yunani, Sanskerta, dan Arab—ternyata hanya bahasa Arablah yang sampai saat ini mampu mengadaptasikan diri, serta memiliki pengaruh terbesar se­perti dalam kedokteran dan kimia modern. Dan setelah di­kaji, di antara sebabnya, ternyata bahasa Arab memiliki dina­mika internal yang baik sekali, bahkan oleh seorang pakar dalam ilmu ketataba­hasaan diakui bahwa keteraturan struk­tur dan perubahan kata dalam bahasa Arab mirip dengan lo­gika matematika. Ini berbeda sekali dengan bahasa Ing­gris, umpamanya, yang perubahan katanya tampak sangat acak. Bukti adanya keteraturan yang sangat tinggi ini dengan mu­dah dilihat dalam ilmu Sharf, baik dari segi lughawîy mau­pun istilahnya.

Dengan membuat pertanyaan retorik, yakni pertanya­an yang tidak memerlukan jawaban itu, kita dengan sendiri­nya dihadapkan pada dua pilihan berkenaan dengan pan­dang­an hidup. Yang pertama pandangan hidup yang berda­sar­kan pada takwa, dan yang kedua adalah pandangan hi­dup selain takwa, yang digambarkan sebagai bangunan yang fondasinya berada di atas sebuah jurang yang rapuh.

Takwa sebagai landasan dan pandangan hidup yang be­nar akan menjadikan manusia mampu melepaskan diri­nya dari belenggu keki­nian dan kesekarangan, become a cap­tive of here and now yang menjadikan dia terjatuh dari ni­lai kemanusiaan yang sangat luhur. Karena pandangan hi­dup yang berlandaskan pada takwa, seperti yang diklaim oleh Al-Quran sebagai pandangan yang benar, maka pan­dan­g­an hidup selain takwa, dengan sendirinya, adalah pan­dang­an hidup yang salah. Pandangan hidup selain takwa akan menjadikan manusia sebagai tawanan kekinian dan kesekarangan sehingga mem­buat manusia tidak lagi mampu mencapai hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya, yakni ke­bahagiaan ruhani atau kebahagiaan hakiki.[]

Dikutip dari Buku 30 SAJIAN RUHANI RENUNGAN DI BULAN RAMADLAN

Karya Dr. Nurcholish Madjid



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here