Puasa ٌRamadan Melatih Kepekaan Sosial

0
92

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih”. (QS Ibrâhîm [14]: 7)

 

BincangSyariah.Com- Ciri-ciri ajaran Islam yang sangat menonjol adalah adanya kaitan yang erat antara dimensi batin (verti­kal) dengan dimensi lahiriah, berupa kewajiban kon­sekuensial atau ikutan (horizontal). Wujud dimensi kon­se­kuensial adalah melakukan amal saleh atau kerja sosial dan akhlak karimah. Rasulullah Saw. pun bersabda bahwa misi utama kenabiannya berkaitan erat secara organik de­ngan misi perbaikan akhlak atau budi pekerti luhur. Rasu­lul­lah Saw. dalam sebuah riwayat menegaskan, “Sesungguh­nya ka­mi diutus untuk mela­kukan perbaikan akhlak.”

Dalam sabda yang lain, Rasulullah Saw. juga menjelas­kan bahwa yang paling banyak memasukkan seseorang ke da­lam surga adalah ketakwaan dan akhlak, seperti dalam se­­­buah hadis dikata­kan, “Yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah takwa dan akhlak mulia.”

Dalam kaitan itu, ibadah puasa juga dengan sendirinya ber­kaitan erat sekali dengan pelatihan atau pembinaan akh­lak mulia (budi pekerti luhur). Nilai atau pesan yang akan di­­­­­ca­pai dari pelaksanaan ibadah puasa dengan jelas dapat diketahui bila seseorang berpuasa namun tidak dapat me­ngendalikan diri dari sifat-sifat buruk dan tercela, seperti ber­kata kotor (qaulu zûr) atau perkataan yang menyakitkan serta berdusta. Rasulullah ber­sabda, “Barang siapa berpuasa, tetapi tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan melaku­kan­nya, maka tidak ada kepentingan dengan meninggalkan ma­kan dan minumnya.”

Kembali kepada persoalan adanya anjuran untuk ber­akhlak mulia, perlu diingat bahwa tidaklah dibenarkan orang beriman beranggapan dirinya suci atau bahkan merasa paling suci, paling baik—dalam ungkapan keseharian, me­rasa sok suci (ihtisân). Orang beriman dengan sikap takwa­nya—yakni memiliki kesadaran ketuhanan, berkeyakinan bah­wa sesung­guhnya Allah Swt. Maha Mengetahui—dengan sendirinya tidak mu­ngkin akan memiliki sikap semacam itu.

Sikap memandang dirinya paling suci dan tidak memi­liki kesalahan, sebenarnya merupakan indikasi sikap som­bong dan kesom­bongan itu sesungguhnya telah menutup pintu-pintu batin orang tersebut. Tanpa disadari, itu telah men­jadi penghalang untuk dapat menerima dan masuknya hidayah, petunjuk dan taufik atau bimbingan dari Allah Swt.

Sebagaimana dalam Al-Quran disebutkan, yang berbu­nyi, … Sesungguhnya, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dan Dia lebih menge­tahui (tentang keadaan)-mu, ketika Dia menjadi­kan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa (QS Al-Najm [53]: 32).

Dari ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan, sikap meng­­ang­gap diri sok suci itu dipandang sebagai sikap yang sungguh sangat naif, atau bodoh karena di hadapan Allah Swt. Yang Maha Mengeta­hui segala sesuatu, tidak ada se­sua­tu pun yang dapat disembunyi­kan dan dirahasiakan. Apa­kah dengan demikian ia berasumsi bahwa Allah Swt. tidak mengetahui segala sesuatu tentang dirinya?

Baca Juga :  Memaknai Peristiwa Nuzulul Quran

Sebagai gantinya, Islam kemudian menganjurkan ke­pa­da orang beriman agar bersikap rendah hati—sebagai lawan sikap sombong tadi, sekaligus sebagai refleksi akhlak karimah. Akan tetapi, jangan disalahpahami bahwa Islam mengajarkan kepada orang beriman sikap rendah diri atau me­rasa hina.

Pengertian rendah hati sungguh berbeda dengan ren­dah diri. Dalam Al-Quran pun dinyatakan, keimanan dan ke­takwaanlah yang menjadi barometer pengukuran sese­orang di hadapan Allah Swt. Dengan demikian, orang ber­iman justru harus merasa bangga dan bukan sebaliknya, me­rasa rendah diri atau hina. Dalam kaitan ini Allah Swt. ber­fir­man, Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan­lah (pu­la) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling ting­gi derajatnya jika kamu orang beriman (QS âli ‘Imrân [3]: 139).

Dalam segi lain, ternyata sikap rendah diri mengan­dung implikasi adanya sebuah penyakit psikologis, seperti yang pernah diungkapkan oleh Alfred Adler. Orang yang m­emiliki penyakit rendah diri (inferiority complex) sesungguh­nya memiliki potensi atau kecenderungan yang akan dapat mendorong ia berlaku otoriter atau tiran apabila ia memiliki kesempatan atau posisi menjadi penguasa.

Sikap tiran (thughyân) adalah sikap yang telah melam­paui batas. Allah Swt. berfirman berkenaan dengan sikap ma­­nusia yang dapat dengan mudah terseret kepada per­buat­an tiranik apabila sudah menganggap dirinya kaya, ti­dak membutuhkan perto­longan atau bantuan dari siapa atau apa pun (istighnâ). Dalam sebuah firman Allah Swt. dise­butkan, Ketahuilah bahwa sesungguhn­ya manusia benar-benar melampaui batas (QS Al-‘Alaq [96]: 6).

Sikap sombong dapat menjadi tiranik apabila memiliki ke­kua­­saan. Pada sisi lain, sikap sombong yang mengendap pa­da mereka yang tidak memiliki kekuasaan, biasanya akan ter­wujud dalam bentuk pelanggaran terhadap aturan-atur­an sosial. Dengan kata lain, sikap sombong dapat mengarah pada perilaku-perilaku asosial.

Dalam Al-Quran, sikap som­bong, tiranik ditampilkan dalam dialog antara figur Musa a.s. yang ber­hadapan secara diametris de­ngan figur Fir‘aun, simbol dan se­kaligus prototipe se­gala kesom­bong­an sifat manu­sia.

Itulah sebabnya, barangkali, yang menjadi alasan bahwa orang beriman hendaknya meng­ucap syukur apabila mendapat­kan keberhasi­lan atau kesukses­an. Dengan syukur, mereka da­pat berlaku rendah hati, tidak som­bong yang dapat menjeru­mus­kan dirinya karena se­sung­guhnya yang patut mendapatkan pujian hanyalah Allah Swt. seba­gai­mana dalam sebuah hadis Na­bi disebutkan yang artinya, “Pang­­­­­­­kal pujian adalah Allah.”

Rasa dan sikap syukur, pada sisi lain juga merupakan perwu­jud­an kepercayaan kepada Allah Swt. Dia menyadari dan mey­akini bahwa kesuksesan yang diper­oleh­nya bukan karena usahanya semata, tapi juga bantuan Allah Swt. Sikap syu­kur, tanpa di­sa­dari juga akan dapat melahirkan si­kap produktif, se­ba­gaimana dalam kitab suci Al-Quran di­nya­takan yang artinya sebagai berikut, Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memak­lum­kan, “Se­sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan me­nam­bah nikmat kepadamu dan jika kamu meng­ingkari (nikmat­ku), maka sesungguhnya azabku sangat pe­dih” (QS Ibrâhîm [14]: 7).

Baca Juga :  Apakah Tidak Ikut Jihad Berarti Munafik?

Dan sebaliknya, sifat tidak mau bersyukur (kufur), justru hanya akan menjadikan dirinya pesimistis, sering disebut counter productive, tidak produktif. Dalam kasus ini, dzikr atau mengingat Allah Swt. dalam bentuk wirid, dengan meng­­­­­­­ucapkan subhan-a ’l-Lâh merupakan sikap yang baik se­kali dalam penyucian diri. Karena Allah Swt.-lah suatu hal dapat atau tidak dapat tercapai. Dengan begitu, orang yang bersyukur dengan sendirinya tidak akan mudah men­jadi orang yang pesimistis terhadap masa depan dan inilah hakikat ajaran takwa, sikap yang dipenuhi oleh pengharap­an kepada Allah Swt.

Orang yang tidak bersyukur, yang dinyatakan dalam Al-Qur­an sebagai orang pesimis itu, apakah ia berpikir bah­w­a Allah Swt. tidak mampu menjamin masa depannya? Se­buah asumsi yang terdengar absurd, tidak masuk akal sama sekali. Allah Swt., seperti pada ayat sebelumnya, telah men­cip­ta­kan dia dari tanah. Apalagi hanya menjamin hidupnya, sebuah pekerjaan yang amat kecil bagi-Nya.

Dalam amalan zikir, setelah mengucapkan subhan-a ’l-Lâh, menyu­sul mengucapkan al-hamdu li ’l-Lâh yang meru­pa­kan perwujudan sikap optimis. Kemudian, zikir ditutup dengan mengucapkan Allâhu Akbar. Ini berarti sudah me­nya­dar­kan diri atau mencari perlindungan kepada Allah Swt. sebagai Zat yang Maha segala-galanya secara otomatis. Di­asumsikan, sudah tidak ada lagi halangan atau rintan­g­an yang perlu diresahkan. Dalam ungkapan bahasa Jawa, ka­lau sudah Allâhu Akbar, berarti sudah rawe-rawe rantas, ma­lang-malang putung.

Selain sikap rendah hati seperti yang diajarkan oleh Ra­su­lullah Saw., orang beriman agar gemar beribadah sebagai­mana dicontohkan pula oleh Rasulullah Saw. Meskipun su­dah mendapatkan jaminan atau garansi masuk surga dari Allah Swt., beliau tetap rajin beribadah. Karena sikapnya itu, pada suatu hari beliau ditanya oleh Aisyah—istri Nabi—mengapa beliau harus terus beribadah: bangun malam ber­doa, menangis memohon ampunan, padahal sudah dijamin oleh Allah Swt. masuk surga. Rasulullah justru menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Si­kap Rasulullah Saw. tersebut identik atau sejalan dengan sikap rendah hati dan tidak merasa suci dengan memohon ampunan-Nya sambil menangis. Orang yang bersifat som­bong, dengan garansi tersebut, tentu akan berbuat semau­nya.

Selain sikap rendah hati, ciri orang beriman adalah se­lalu memperhitungkan segala tindakannya. Orang beriman, meminjam istilah orang modern, adalah sosok yang penuh de­ngan kalkulasi rasional. Karena sikap ini, orang beriman men­jauhkan diri dari keterlibatan dalam hal-hal yang tak ber­manfaat. Dan sikap inilah yang menjadi pembeda di akhi­rat kelak antara orang beriman dengan orang kafir, seperti yang digambarkan dalam sebuah dialog dalam Al-Quran yang berbunyi, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Sa­qar (neraka)?” (QS Al-Muddatstsir [74]: 42). Karena orang ber­i­man memahami arti dan makna hidup, bahwa hidup pe­nuh pertanggung­jawaban, accountability, maka segala se­suatu­nya harus dipertim­bangkan secara rasional.

Baca Juga :  Puasa dan Esensi Ketakwaan

Sikap ini kemudian juga tecermin dalam kasus mem­be­lanjakan dan menafkahkan harta. Ciri orang beriman se­ba­gai­mana diilustra­sikan oleh Al-Quran adalah sebagai go­long­an atau kelompok orang yang apabila membelanjakan atau menafkahkan hartanya, mereka tidak kikir dan tidak bo­ros. Sikap berlebih-lebihan yang dikenal dengan sikap su­ka berfoya-foya atau menghambur-hamburkan uang bukan­lah ciri orang beriman. Dalam Al-Quran, disebutkan yang arti­nya, Dan sesungguhnya orang-orang yang apabila membelan­ja­kan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian (QS Al-Furqân [25]: 67).

Namun perlu diingat, yang dimaksudkan dengan kalku­lasi rasional tersebut kemudian jangan dipahami sama de­ngan sikap menimbun harta. Istilah sekarang disebut berla­ku kapitalis, karena merasa harta itu sebagai hasil usahanya, kemudian ia dapat berbuat apa saja dengan harta itu. Dalam Islam, harta memiliki nilai atau dimensi pertang­gung­ja­wab­an. Sikap menimbun harta sama dengan meng­abaikan atur­an moral dan etika sosial yang berlaku. Sikap me­nimbun har­ta sangat dikutuk oleh Al-Quran karena sikap ter­sebut mengindikasikan pelalaian terhadap Al-Quran. Da­lam Al-Quran disebutkan yang artinya, Bermegah-megahan telah me­la­laikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur (QS Al-Takâtsur [102]: 1-2).

Lain permasalahannya dengan menafkahkan harta de­mi kepentin­gan pendidikan anak-anak, seberapa banyak pun. Berkenaan dengan kasus tersebut, justru sebaliknya, se­­sung­guhnya dianjurkan oleh Al-Quran. Anak dalam Islam, seperti halnya harta, juga memiliki segi-segi tanggung jawab. Dan di antara wujud tanggung jawab orangtua kepada anak­nya adalah memberikan pendidikan yang baik kepada me­reka. Al-Quran mengingatkan orang beriman agar berhati-hati dengan meninggalkan generasi atau anak-anak yang lemah kualitasnya sehingga mereka tidak dapat memainkan peran semestin­ya karena tersisihkan dalam persaingan hi­dup. Al-Quran menyebut­kan yang artinya, Dan hendaknya takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kha­watir terhadap (kesejahteraan) mereka … (QS Al-Nisâ’ [4]: 9).

Dari situ terlihat bahwa Islam juga mengajarkan sema­ngat altruisme atau menyayangi dan peduli kepada orang lain. Perwujudan altruisme yang paling baik adalah memper­hati­kan pendidikan anak.

Bulan puasa adalah bulan yang sangat baik dan tepat sekali untuk melakukan introspeksi atau penghitungan diri atas segala kesalahan dan meminta ampunan. Tobat adalah sikap yang terpuji dan tobat yang baik, yaitu tobat nasuha, adalah tobat yang diir­ingi ketulusan dan kerendahan hati ser­ta berjanji tidak akan mengulangi kesalahan.

Kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat, bisa sa­ja antara lain karena kita terkadang kurang waspada dan ku­­rang mampu mengendalikan diri, yaitu takwa dalam pengertian yang sesungguhn­ya. Dengan demikian, kita mu­dah terseret jatuh dan tergelincir ke dalam sikap-sikap yang tidak terpuji, yang sebenarnya berimplika­si fatal. Namun, ki­ta terkadang tidak sadar, seperti merasa diri suci, menjadi sombong atau bahkan tiranik.[]

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here