PSQ Gelar Seminar Revisi Penulisan Mushaf Alquran

0
160

Bincangsyariah.Com – Untuk kedua kalinya, Pusat Studi al-Quran (PSQ) Jakarta berhasil menyelenggarakan Kajian Membumikan al-Quran (KMQ) dengan mengambil tema “Revisi Penulisan Mushaf al-Quran Ilmiah atau Bid’ah?” pada Kamis (22/11/18). Pembicara ahli yang diundang adalah Dr. H. Zainal Arifin Madzkur dan Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad.

Pada awal pemaparan materi, Zainal Arifin Madzkur, selaku pembicara pertama, menunjukkan berita terkait dengan Mukernas LPMQ Bogor dengan kesepakatan penyempurnaan 186 penulisan dalam Mushaf Standar Indonesia. Komentar-komentar negatif terkait berita tersebut kemudian bermunculan di media sosial:

“Amandemen al-Quran.”

“Islam Nusantara Ingin Mengubah 186 Kata al-Quran.” Dan lain sebagainya.

“Orang-orang tidak membaca isi beritanya, hanya membaca judulnya saja sudah komentar bermacam-macam. Bahkan ada dosen UIN yang juga ikut berkomentar negatif, saya tidak habis pikir,” kata Zainal Arifin Madzkur.

Kemudian Ia menjelaskan secara panjang lebar bagaimana secara kesejarahan penulisan mushaf Alquran terus bekembang dari masa ke masa. Awal kodifikasi (pengumpulan) tulisan Alquran sehingga menjadi satu mushaf di masa Abu Bakar, penyempurnaan kembali tulisan mushaf dengan mengakomodir beragam qiraat di masa Usman bin Affan sehingga muncul istilah Rasm Usmani. “Pada masa-masa ini, penulisan mushaf Alquran belum ada tanda pembeda apa pun, tidak ada titik (nuqtah) yang membedakan huruf, maupun tanda harakat.” Jelasnya.

Lalu berlanjut pada penyempurnaan di masa-masa berikutnya seiring berkembangnya ilmu kaidah bahasa Arab (nahwu, sharaf).

Selaku pembicara ahli yang lebih senior, K.H. Ahsin Sakho diberi kesempatan untuk presentasi kedua. Pada awal pembahasan Ahsin memaparkan tradisi tulis yang diceritakan dalam Alquran seperti korespondensi surat antara Nabi Sulaiman dengan Ratu Bilqis. Kemudian pada pemaparan selanjutnya, Ia menjelaskan secara lebih detail bagaimana perkembangan Imla’i sehingga huruf-huruf seperti Kaf dan Lam, tanda baca seperti Syiddah/Tasydid dan Harakat bisa dikenal seperti sekarang ini.

Baca Juga :  Bencana Alam: Antara Azab dan Tanda Kecintaan Allah kepada Hamba-Nya

Pada sesi tanya jawab, seorang peserta menanyakan terkait urgensi perubahan 186 kata sebagaimana hasil Mukernas dan sosialisasinya kepada masyarakat.

Atas pertanyaan tersebut, Zainal Arifin Madzkur menjawab bahwa tren terbaru di seluruh dunia Islam adalah menyesuaikan tulisan mushaf resmi dengan riwayat yang sahih yakni bersumber pada riwayat al-Dani dan Abu Dawud. Mushaf Standar Indonesia akan mulai konsisten pada riwayat al-Dani untuk penulisannya. Nah, dalam MSI yang saat ini masih ada beberapa kata yang secara penulisan belum sesuai dengan riwayat al-Dani tersebut. Misalnya saja dalam penulisan kata al-Raki’in Q.S al-Baqarah : 43, yang ditulis beserta alif antara ra dan kaf. Padahal baik dalam riwayat al-Dani maupun Abu Dawud, tidak dituliskan alif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here