Dalil Kebolehan Menerima Proyek Pembangunan Gereja bagi Arsitektur Muslim

1
860

BincangSyariah.Com – Setiap umat beragama memiliki hak menjalankan agamanya masing-masing, sebagaimana terjamin dalam Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (“UUD 1945”). Di antara sarana menjalankan ibadah adalah tersedianya fasilitas rumah ibadah. Di Indonesia mendirikan rumah ibadah harus memenuhi persyaratan khusus sesuai Peraturan Bersama 2 Menteri (Baca: Persyaratan Penidiran Rumah Ibadat).  Ketika persyatan tersebut sudah terpenuhi, bolehkah arsitektur Muslim atau tukang bangungan Muslim mengerjakan proyek pembangunan gereja atau rumah ibadah non-Muslim lainnya?

Imam Ibnu Nujaim, ulama mahzab Hanafi, dalam al-Bahr al-Raiq syarh Kanz al-Daqaiq berpendapat bahwa mengerjakan proyek pembangunan rumah ibadah non-Muslim bagi arsiterktur Muslim atau tukang bagunan Muslim itu boleh, sebagaimana berikut:

وَلَوْ اسْتَأْجَرَ -الذمي-  الْمُسْلِمَ لِيَبْنِيَ لَهُ بِيعَةً أَوْ كَنِيسَةً جَازَ وَيَطِيبُ لَهُ الْأَجْرُ

Artinya:

Ketika seorang (non-Muslim) menyewa jasa Muslim untuk membangun gereja atau sinagog itu boleh, dan upahnya itu halal baginya.

Dalam Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, terdapat keterangan fatwa Imam Fakhruddin Qadhikhan dalam al-Fatawa al-Khaniyah, bahwa bekerja di gereja atau sinagog bagi Muslim itu boleh sebagaimana berikut:

ولو آجر نفسه ليعمل في الكنيسة ويعمرها، لا بأس به، لأنه لا معصية في عين العمل

Artinya:

Jika ada (seorang Muslim) bekerja di gereja dan merawatnya itu tidak masalah, karena hal tersebut tidak mengandung unsur maksiat dalam hakikat pekerjaan yang dilakukannya.

Pendapat di atas juga disetujui oleh Syekh Yusuf al-Qardhawi, sebagaimana dilansir dalam laman al-Qardawi.net berikut ini:

والذي أراه: أن إقامة الكنيسة لغير المسلمين من أهل الذمَّة، أو بعبارة أخرى: للمواطنين من المسيحيين وغيرهم، ممَّن يعتبرهم الفقهاء من “أهل دار الإسلام”: لا حرج فيه إذا كان لهم حاجة حقيقية إليها، بأن تكاثر عددهم، وافتقروا إلى مكان للتعبُّد، وأذن لهم ولي الأمر الشرعي بذلك. وهو من لوازم إقرارهم على دينهم

Baca Juga :  Hukum Memasuki Tempat Ibadah Non Muslim

Artinya:

Menurut pendapatku, membangun gereja untuk non-Muslim yang merupakan dzmmi (umat selain agama Islam yang dilindungi negara), atau dengan kata lain, untuk warga negara beragama Kristen atau lainnya, yang oleh ahli fikih mereka dianggap sebagai warga dalam Darul Islam itu tidak apa-apa ketika memang terdapat kebutuhan nyata. Misalnya, jumlah mereka itu banyak, dan mereka butuh tempat ibadah, pemerintah terkait mengizinkan pembangunan tersebut. Ini termasuk bagian dari keharusan atas pengakuan hak beragama mereka.

ومثل ذلك غير المسلمين من غير المواطنين الذين دخلوا دار الإسلام بأمان، أي بتأشيرات دخول وإقامة، للعمل في بلاد المسلمين، وتكاثرت أعدادهم، واستمرَّ وجودهم، بحيث أصبحوا في حاجة إلى كنائس يعبدون ربهم فيها، فأجاز لهم ولي الأمر ذلك في حدود الحاجة، معاملة بالمثل، أي كما يسمحون هم للمسلمين في ديارهم بإنشاء المساجد لإقامة الصلوات

Artinya:

Hal serupa juga berlaku bagi non-Muslim yang bukan warga negara setempat, kemudian ia masuk pada negara (mayoritas) Muslim dengan damai, yaitu dengan izin masuk dan tinggal, untuk bekerja di negara (mayoritas) Muslim. Jumlah mereka banyak dan terus bertambah, sampai mereka membutuhkan gereja tempat mereka beribadah pada Tuhan mereka. Pemerintah pun sudah mengizinkan (membangun rumah ibadah) tersebut sesuai kebutuhan, sebagai bentuk timbal balik, sebagaimana non-Muslim bertoleransi terhadap umat Muslim yang tinggal di negara mereka untuk mendirikan masjid. (Baca: Islam Melarang Perusakan Rumah Ibadah Agama Lain)

Pendapat ini juga sejalan dengan Al-Qur’an dan al-Sunnah.

Allah Swt. berfirman:

﴿وَلَوْلَا دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللهِ كَثِيرًا وَلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ۞ الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَللهِ عَاقِبَةُ الأُمُورِ﴾ الحج: 40-41

Baca Juga :  Kajian Tafsir Tematik: Pluralisme Agama dalam Al-Qur'an

Artinya:

Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (40)

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan (41)

Ayat ini merupakan petunjuk Al-Qur’an mengenai kemenangan Muslim dalam menghilangkan kezaliman, menolak permusuhan, dan bentuk mandat Allah bagi umat Muslim di muka bumi yang menjadi sebab terjaganya rumah ibadah dari bentuk pengrusakan, jaminan keamanan dan keselamatan bagi pemeluk agama, Islam maupun non-Islam.

Dalam Dalail al-Nubuwwah karya Imam al-Baihaqi, Nabi menjamin pada uskup Bani al-Harits bin Ka’b, uskup Nasrani Najran, ahli ramal, pemeluk agama, dan pendeta mereka untuk menjalankan hak beragama mereka, seperti memiliki rumah ibadah, baik sedikit maupun banyak.

1 KOMENTAR

  1. […] Dua ulama Mesir, imam Abu al-Harits bin Sa‘d dan Imam Abu Abdirrahman Abdullah bin Lahi‘ah menjelaskan bahwa gereja-gereja di Mesir itu tidak dibangun kecuali pada masa Islam. Keduanya memberi isyarat pada gubernur Mesir, Musa bin Isa, di masa Harun al-Rasyid untuk membangun kembali gereja yang dihancurkan oleh orang sebelum mereka. Dua ulama Mesir itu menjadikan pembangunan gereja sebagai bentuk renovasi kota. Tidak diragukan, keduanya merupakan ulama yang paling pintar di Mesir pada masanya. (Baca: Dalil Kebolehan Menerima Proyek Pembangunan Gereja bagi Arsitektur Muslim) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here