Prostitusi di Zaman Nabi Muhammad

0
1921

BincangSyariah.Com – Prostitusi atau yang biasa dikenal dengan pelacuran telah ada sejak dahulu kala. Tidak terkecuali pada zaman Nabi Muhammad Saw diutus. Bahkan prostitusi ada sejak beliau di Mekah dan setelah beliau hijrah ke Madinah. Ada banyak riwayat yang menceritakan soal prostitusi yang berkembang di zaman Rasulullah Saw.

Beberapa di antaranya adalah riwayat yang cukup populer dalam Shahih al-Bukhari pada bab permulaan wahyu (kitab bad’i al-wahy). Dalam riwayat tersebut ‘Aisyah menceritakan tentang fenomena perkawinan yang terjadi pada masa jahiliyah, sebagaimana berikut:

Menurut ‘Aisyah ada empat model pekawinan atau berhubungan badan pada masa jahiliyah.

Pertama. Kawin yang kita kenal pada hari ini (setelah Islam datang). Seorang laki-laki meminang wanita atau anak perempuan kepada walinya, lalu membayar mahar, kemudian menikahinya.

Kedua. Disebut dengan istibdha’. Bentuk perkawinan ini adalah ketika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, pada saat istrinya itu telah suci dari haid, “Pergilah kepada si Fulan, kemudian mintalah untuk disetubuhi”, dan suaminya sendiri menjauhinya, tidak menyentuhnya sama sekali sehingga jelas istrinya itu telah mengandung dari hasil hubungannya dengan laki-laki itu.

Kemudian apabila telah jelas kehamilannya, lalu suaminya itu mulai menyetubuhinya lagi apabila dia suka. Tujuan dari model perkawinan semacam ini adalah untuk mendapatkan benih dari laki-laki lain.

Ketiga. Kemudian perkawinan model yang lain yaitu sejumlah laki-laki, antara 3 sampai 10 orang berkumpul, lalu mereka semua mencampuri seorang wanita.

Apabila wanita tersebut telah hamil dan melahirkan anaknya, selang beberapa hari perempuan itu memanggil mereka dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat menolak panggilan tersebut sehingga merekapun berkumpul di rumah perempuan itu.

Baca Juga :  Larangan Anak-anak di Luar Rumah Saat Magrib

Kemudian wanita itu berkata kepada mereka, “Sungguh kalian semua telah mengetahui urusan kalian, sedang aku sekarang telah melahirkan, dan anak ini adalah anakmu hai fulan”. Dan wanita itu menyebut nama laki-laki yang disukainya, sehingga dihubungkanlah anak itu sebagai anaknya, dan laki-laki itupun tidak boleh menolaknya.

Keempat. Bentuk keempat yaitu, berhimpun laki-laki yang banyak. Lalu mereka mencampuri seorang wanita yang memang tidak akan menolak setiap laki-laki yang mendatanginya. Sebab mereka itu adalah pelacur-pelacur yang sengaja memasang bendera-bendera di muka pintu rumah mereka sebagai tanda (tanda bahwa itu adalah rumah bordir-red.).

Siapa saja yang menginginkannya boleh masuk. Kemudian jika salah seorang di antara wanita itu ada yang hamil dan melahirkan anaknya, maka para laki-laki tadi berkumpul di situ. Dan mereka pun memanggil orang-orang ahli firasat, lalu dihubungkanlah anak itu kepada ayahnya oleh orang-orang ahli firasat itu menurut anggapan mereka. Maka anak itu pun diakuinya, dan dipanggil sebagai anaknya, dimana orang (yang dianggap sebagai ayahnya) itu tidak boleh menolaknya.
Di akhir riwayatnya, ‘Aisyah mengatakan bahwa dari keempat model perkawinan di atas, hanya perkawinan model pertama yang dibolehkan dalam Islam.

Riwayat panjang di atas menjelaskan bahwa fenomena prostitusi telah ada dalam budaya Arab klasik. Di mana rumah bordir memasang bendera sebagai tanda bahwa tempat tersebut berisikan pelacur yang siap untuk digunakan. Keterangan ini sesuai dengan model perkawinan nomor empat sebagaimana riwayat di atas.

Adapun selainnya, kecuali nomor satu -yang diperbolehkan- adalah bentuk lain dari perzinahan yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Arab dahulu.
Setelah Rasulullah Saw hijrah ke Madinah turunlah ayat terkait dengan larangan seorang mucikari untuk memaksa budak perempuannya untuk berzina. Hal ini dikisahkan dalam surah al-Nur ayat 33 berikut:

Baca Juga :  Pendakwah itu Bagaikan Jarum, Jangan Jadi Gunting

وَلاَ تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ، وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

“…Janganlah kalian memaksa perempuan-perempuan kalian untuk melacur padahal mereka menghendaki menjaga diri mereka, (jangan kalian melakukannya) hanya untuk mencari kehidupan dunia. Dan barangsiapa yang yang memaksa mereka, maka Allah adalah yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang setelah pemaksaan mereka.” (QS. Al-Nur: 33)

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Ubay (merupakan orang munafik Madinah, ia pernah lari dari perjalanan perang menuju Uhud) yang memiliki dua orang budak perempuan yang bernama Masikah dan Mu’adzah. Pada masa jahiliyah, keduanya sering dipaksa oleh ‘Abdullah bin Ubay untuk melacur, alhasil keduanya melahirkan banyak anak dari hasil melacurkan diri tersebut.

Namun ketika Islam datang, dan keduanya memeluk Islam, Allah melarang perempuan-perempuan muslimah untuk melacurkan diri. Dan akhirnya kedua budak tersebut enggan lagi bekerja menjajakan dirinya.

Tujuan dari ‘Abdullah bin Ubay memaksa kedua budaknya untuk melacur tidak lain adalah agar ia memeroleh keuntungan dari hasil prostitusi tersebut. Dan ketika keduanya menolak untuk bekerja lagi, ‘Abdullah bin Ubay bertanya:
“Mengapa kalian tidak lagi melacur?”
“Tidak kami tidak akan lagi mau melacurkan diri!” Jawab keduanya.
Kemudian ‘Abdullah bin Ubay memukul keduanya. Dan turunlah ayat, “janganlah kalian memaksa perempuan-perempuan kalian untuk melacur padahal mereka menghendaki menjaga diri mereka, (jangan kalian melakukannya) hanya untuk mencari kehidupan dunia.”

Meskipun banyak terjadi prostitusi, namun hal ini hanya terjadi kepada budak-budak perempuan dan pelacur-pelacur yang memasang bendera (adalah simbol rumah bordir) di rumah mereka saja. Disebutkan oleh Al-Shallabi dalam al-Sirah al-Nabawiyyah ‘Ardh Waqa’i’ wa Tahlil al-Ahdats bahwa perempuan-perempuan merdeka jarang sekali yang terlibat di dalam praktik prostitusi ini.

Baca Juga :  Empat Hal yang Baik, Lebih Baik, Buruk, dan Lebih Buruk

Bukti terkait minimnya keterlibatan perempuan merdeka adalah, pernah suatu ketika Rasulullah Saw meminta janji setia (bai’at) kepada perempuan-perempuan Mekah setelah Fathu Makkah, Rasulullah meminta mereka bersumpah untuk tidak menyekutukan Allah, mencuri dan melakukan perzinahan. Namun tiba-tiba Hindun binti ‘Utbah istri Abu Sufyan mengatakan: “Apakah pantas seorang perempuan merdeka berzina? (awa tazni al-hurrah ?).” Pernyataan Hindun menunjukkan adanya sentimen yang menunjukkan bahwa kelas perempuan merdeka tidak layak bekerja di bidang prostitusi. Berbeda dengan perempuan budak pada masa itu.

Ini membuktikan bahwa tidak semua orang Arab Jahiliah melakukan perzinahan, banyak di antara mereka (khususnya perempuan merdeka) yang tidak berzina, tidak meminum khamr, tidak menumpahkan darah, dan masih banyak lagi di antara mereka orang-orang baik.
Demikianlah sedikit kisah bagaimana prostitusi bekerja di zaman jahiliyah. Kedatangan Islam menghapus semua jenis prostitusi dan menggantinya dengan pernikahan yang sah. Wallahu a’lam.