Program Family Resilience untuk Anak Narapidana Terorisme

0
34

BincangSyariah.Com – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyatakan bahwa banyak anak yang terlibat dalam tindak pidana terorisme. Mereka terlibat karena dibujuk, dirayu, didoktrin, dan diajarkan untuk melakukan tindakan radikalisme serta terorisme oleh orang terdekat, seperti tetangga, guru, teman bermain, bahkan orang tuanya sendiri. (Baca: Anak-anak dan Pemahaman Radikal)

Faktor penyebab paham radikalisme dan tindak pidana terorisme ada dua jenis. Pertama, faktor internal. Faktor internal misalnya seperti minimnya pemahaman anak tentang agama, wawasan kebangsaan, jenis kelamin, umur, intelegensi, dan kematangan emosi anak. Kedua, faktor eksternal, yakni keluarga, lingkungan, media, kemiskinan, dan pendidikan.

Tindak pidana terorisme yang melibatkan anak di Indonesia adalah fenomena yang sangat memprihatinkan dan mengancam tumbuh kembang anak, baik dari sisi kehidupan masyarakat, kepribadian, pemahaman agama, serta nasionalisme.

Mengapa demikian? Sebab, tindak pidana terorisme adalah kejahatan luar biasa karena menimbulkan ancaman, ketakutan, ketidaknyamanan, kekhawatiran, kehancuran, serta menelan banyak korban. Pelaku kejahatan terorisme bukan hanya perorangan melainkan juga kelompok berjejaring terorganisir baik di dalam maupun di luar negeri.

Dalam menyelesaikan persoalan ini, pemerintah harus memberikan fasilitas yang memadai dalam menangani upaya perlindungan anak dari radikalisme dan tindak pidana terorisme. Sebab, masalah perlindungan anak adalah otonomi daerah yang pelaksanaannya dilakukan bersama antara Kementerian PPPA dan pemerintah baik pusat maupun daerah.

Dalam sebuah diskusi yang diselenggatakan Radicalism Studies berjudul Anak-anak dalam Terorisme dan Solusinya, seorang narasumber menceritakan pengalaman program family resilience untuk anak-anak narapidana terorisme (napiter).

Erni Kurniati, seorang narasumber yang merupakan Peneliti Divison for Applied Social Psychology Research (DASPR) dan Pendiri Taman Bacaan Masyarakat UFUNDER menceritakan dengan detail program yang telah ia laksanakan pada tahun 2019 tersebut.

Baca Juga :  PSTPG UIN Jakarta Paparkan Hasil Riset Peran Ekonomi dalam Tangkal Radikalisme

Program dimulai dengan persiapan pada bulan Maret 2019, disusul dengan wokshop pada Maret-Juli 2019. Setelah itu, program dilanjutkan dengan monitoring dan assistance pada Juli-September 2019.

Peserta yang mengikuti program tersebut berjumlah 56 anak. 29 anak berusia 0 sampai 6 tahun, 24 anak berusia 7-12 tahun, 1 anak di bawah 17 tahun, dan satu anak di atas 17 tahun. Erni menjelaskan bahwa bagian paling penting dalam program tersebut adalah workshop dan monitoring di rumah. Tujuannya adalah untuk melakukan intervensi dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan serta memberikan pengalaman baru kepada anak-anak.

Berbagi pengalaman dan pengetahuan menjadi begitu penting sebab ada anak narapidana terorisme yang memang mengetahui kasus orang tuanya, ada pula yang tidak mengetahui sama sekali. Dampak buruk yang dialami anak-anak tersebut antara lain kehilangan sosok ayah, megalami trauma, tidak sekolah atau putus sekolah, mendapatkan stigma atau bullying dari lingkungan sekitar, bahkan sampai harus pindah sekolah atau rumah.

Saat melakukan dialog dengan anak-anak tersebut, Erni menemukan bahwa cita-cita mereka tidak sama dengan ayahnya. Ada yang ingin menjadi polisi untuk melindungi ayahnya, menjadi penghafal Al-Qur’an, menjadi dokter dan designer, ada pula yang ingin mengambil jurusan manajemen, dan lain sebagainya.

Erni menambahkan, kegiatan positif berbentuk program family resilience adalah proses deradikalisasi dan disengagement. Program ini adalah rumusan paling memungkinkan untuk melindungi anak-anak yang terlibat aksi radikalisme, di luar tanggung jawab negara untuk melindungi mereka.

Ada pola transfer pengetahuan dan pengalaman yang terus berkesinambungan antara orang tua, anak, dan keluarga. Maka dari itu, program family resilience mesti terus ditingkatkan, terutama ditekankan pada proses monitoring. Sebagai penutup, Erni menambahkan bahwa perlu ada program inklusif yang melibatkan suami dan anak ke depannya nanti.[]

Baca Juga :  Doa Berbuka Sebaiknya Dibaca Sebelum Berbuka atau Setelahnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here