Prof. Quraish Shihab, Khalifah, dan Khilafah

0
2196

BincangSyariah.Com – Kamis, 20 Desember 2018, Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) kembali menggelar kajian bulanan Kajian Membumikan Al-Qur’an. Tema kajian bulan ini adalah “Dari Ideologi Khilafah ke Manusia Khalifah, Al-Qur’an, Kontestasi Ideologi, dan Paradigmatisme Politik.” Kajian yang berlangsung di Aula PSQ ini dinarasumberi oleh TGB Dr. M. Zainul Majdi dan Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.

Sementara Prof. Quraish Shihab, pakar Tafsir Indonesia sekaligus owner dari PSQ turut hadir dan memberikan sumbangsih pemikirannya di akhir acara ini. Setidaknya ada tiga hal penting yang beliau katakan kepada para audiens yang hadir.

Pertama. Semua manusia adalah khalifah. Di dalam surah Al-Baqarah, manusia dikatakan sebagai khalifah. Yakni pemimpin yang tugasnya adalah sebagai islah dan mengatur segala sesuatu agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Misalnya kursi, maka kita harus menjaga dan merawat kursi itu agar tetap berfungsi sebagai kursi. Begitu pula dengan pakaian, kita juga harus menjaga dan mengatur agar pakaian itu tetap berfungsi. Seandainya kita tidak lagi membutuhkan pakaian kita, maka berikan kepada orang lain agar pakaian itu tetap berfungsi. Menurut Prof. Quraish, inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang terlebih dahulu, yakni menjadi khalifah untuk dirinya sendiri sehingga ia dapat mengatur dirinya dengan baik.

Lebih lanjut, Prof. Quraish juga mengingatkan bahwa tidak semua orang dalam konteks berbangsa dan bernegara wajib menegakkan hukum. Misalnya ada kafe yang menjual minuman keras, maka tidak semestinya kita mendatangi kafe tersebut lalu menghancurkannya. Ada yang lebih berwenang untuk menangani hal itu. Oleh sebab itu, Prof. Quraish mengatakan bahwa khalifah yang arti penegak hukum ini bentuk jama’nya adalah khulafa’.

Kedua. Bayangkan sesuatu hal berdasarkan kemampuan dan kemungkinan. Pesan yang kedua dari Prof. Quraish adalah agar jika kita membayangkan dapat menciptakan sesuatu maka harus berdasarkan kemampuan dan kemungkinan-kemungkinan.

Baca Juga :  Bolehkah Suntik dan Infus pada saat Puasa?

Berbicara tentang harus ditegakkannya khilafah dengan khalifah tunggal, maka prof Quraish mengatakan bahwa perjalanan umat Islam sewaktu berdirinya kekhalifahan Usmaniyyah tidaklah tunggal. Ketika itu ada khalifah lain di daerah Maroko.

Sehingga menurut beliau, sejak dulu sudah disadari bahwa khalifah tunggal itu tidak mungkin. Jamaluddin Al-Afghani berjuang untuk itu tidak berhasil, kemudian lahirlah Al-Jamiah Al-Islamiyyah tidak juga berhasil, diturunkan lagi OKI, tidak berhasil, lalu Al-Jamiah Al-Arabiyyah, malah bertengkar dengan Arab.

Dengan demikian, kenyataan sejarah tidak memungkinkan khilafah itu terjadi. Jika sejak dulu saja tidak mungkin, lalu bagaimana caranya sekarang?. Sementara negara-negara ASEAN banyak keberhasilan karena kerjasamanya. “Realistislah, berjuang dulu memperkuat diri Anda. Mari kita berjuang memperkuat Indonesia. Melangkah keluar menghasilkan perpecahan tidak dibenarkan. Hemat saya seperti itu.” Kata Prof. Quraish hampir mengakhiri pidatonya.

Ketiga. Sucikanlah nama Tuhan. Beliau mengatakan bahwa bertasbih di kamar mandi itu tidak boleh, karena bukan tempatnya. Begitu pula dengan bertakbir yang dapat menimbulkan emosi dan memecah belah umat. “Itu nama Tuhan. Anda sering kali dengar itu. Itu terlarang. Bahkan Imam Malik berkata, ‘Seandainya ada satu orang minta-minta dan Anda tidak mampu memberinya, maka tidak perlu berkata, ‘Mudah-mudahan Allah memberi Anda,’ karena bisa timbul kesan berarti Allah tidak mau memberi saya. Sedikit-sedikit takbir.” Kata Prof. Quraish mengakhiri pesan ketiganya.  Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here