Prof. M. Quraish Shihab: Karena Cinta Tanah Air Itu Naluri

0
806

BincangSyariah.Com – Menjadi sebuah fitrah manusia jika seseorang mencintai tanah airnya. Sejauh apapun langkah kaki menemani, tanah air selalu menjadi dambaan kerinduannya. Mari kita telisik makna dari tanah air. Prof .Quraish Shihab menjelaskan bahwa tanah air merupakan kata majemuk dan mengandung makna kehidupan. Kata tanah, ia mengisyarakan bahwa kita (manusia) berasal dari tanah dan disanalah kita lahir dan tumbuh. Disambung dengan makna air, ia adalah sumber kehidupan dan memiliki manfaat besar bagi kita.

Menurut Ustadz Quraish Shihab, ada dua hal penting mengenai tanah air. Pertama, tanah air punya ketertarikan dengan tanah ini. Kita memiliki kepentingan untuk meraih airnya, agar kita bisa hidup dengan air itu.

Kedua, mengenai makna tumpah darah. Mengapa dinamai dengan tumpah darah? Tentunya, kita lahir disini dan semua para ibu menumpahkan darahnya. Jika kita mencintai tanah air, berarti kita berkorban untuk menumpahkan darah kita dengan cara membelanya. Maka dalam hal ini, cinta tanah air itu naluri. Seberapa lama kita hijrah ke negeri orang, pasti dia akan rindu untuk kembali.

Cinta Tanah Air adalah Perintah Agama

Masih ingatkah dengan kisahnya Nabi Muhammad yang hijrah dari Mekkah  ke Madinah? Singkat cerita, sejak awal Rasulullah menyampaikan dakwahnya di Mekkah, kaum Quraisy terus melakukan permusuhan terhadap Nabi dan para pengikutnya. Penindasan orang musyrik kaum Quraisy semakin kera, hingga pada tahun 622 M, Nabi melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Al-Ustadz M. Quraish Shihab menceritakan saat Nabi berhijrah ke Madinah, Nabi selalu merindukan tanah kelahirannya (Mekkah). Suatu hari,ia mengadu kesedihannya pada Tuhan, namun pengaduannya disampaikan pada tumpah darahnya. Nabi berkata:

“Hai Makkah, engkau adalah tempat yang paling aku cintai. Seandainya masyarakatmu tak mengusirku, aku tak akan pernah meninggalkanmu”

Tentunya, Nabi melakukan adaptasi dengan lingkaran masyarakat Madinah. Saat itu, penduduk Madinah didominasikan oleh kaum kristiani. Hal itu tak menghalangi Nabi untuk berkomunikasi baik dengan mereka. Quraish Shihab menjelaskan bahwa “Tuhan tidak melarangmu untuk bebuat baik kepada siapapun, meskipun  saudara non-muslim. Dengan syarat, ia tak mengusirmu dari tanah air untuk memerangi agamamu.”

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Menyelaraskan Metode Pedagogi ala al-Ghazali

Sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Mumtahanah [60]: 8-9,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ – 8 – إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ  – 9

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (8) Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim. (9)

Doa Nabi untuk Tanah Air

Saat Nabi memulai untuk meninggalkan Mekkah, dan hijrah menuju Madinah, wajahnya sangat gelisah. Saat itu, turunlah janji Allah kepada Nabi bahwasanya Nabi akan dikembalikan lagi ke kota Mekkah. Begitulah ungkapan  sayangnya Nabi pada tanah airnya Mekkah.

إنّ الّذي فرض عليك القرآن لا رادك إلى معاد

“Tuhan yang menurunkan al-Quran kepadamu, akan mengembalikanmu ke tempat semula”

Setelah sekian lamanya Nabi menduduki kota Madinah, Nabi pun mengangkat tangannya selagi berdo’a “Yaa Allah, Jadikanlah kota Madinah ini kami cintai sebagaimana kecintaan kami kepada kota Mekkah”.

Penulis menambahkan satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib, ia berkata,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ، ثُمَّ صَلَّى بِأَرْضِ سَعْدٍ بِأَصْلِ الْحَرَّةِ عِنْدَ بُيُوتِ السُّقْيَا، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلَكَ وَعَبْدَكَ وَنَبِيَّكَ دَعَاكَ لِأَهْلِ مَكَّةَ، وَأَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَرَسُولُكَ أَدْعُوكَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ مِثْلَ مَا دَعَاكَ بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ، نَدْعُوكَ أَنْ تُبَارِكَ لَهُمْ فِي صَاعِهِمْ وَمُدِّهِمْ وَثِمَارِهِمْ. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ، وَاجْعَلْ مَا بِهَا مِنْ وَبَاءٍ بِخُمٍّ. اللَّهُمَّ إِنِّي قَدْ حَرَّمْتُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا كَمَا حَرَّمْتَ عَلَى لِسَانِ إِبْرَاهِيمَ الْحَرَمَ»

Baca Juga :  Hukum Menanam Pohon di Atas Kuburan

“Kami keluar bersama Rasulullah, tatkala kami sampai di Harrah, di tempat minum milik Sa’d Ibn Abi Waqqash beliau bersabda;” ambilkan air wudhu”. Tatkala beliau telah berwudu, beliau bangkit dan menghadap kiblat dan membaca takbir serta membaca (Allohumma  inna ibrahima khalilaka wa ‘abdaka wa nabiyyaka da’aaka li ahli makkata, wa ana Muhammadun ‘abduka wa nabiyyuka wa rasuluka, ad’uka liahli al-madinati mitsla ma da’aaka bihi ibrahima liahli makkata, nad’uka an tubarika lahum fii Sha’ihim wa muddihim wa tsimarihim. Allahumma habbib ilaina al-madinata kama habbabta ilaina makkata. Waj’al biha min wabain bikummin. Allahumma inni qod harromtu maa bayna llabatayha kama harramta ‘ala lisani ibrahima al-haram.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here