Pro-Kontra Hadis tentang Masjid Jadi Benteng Buat Lawan Corona

2
2282

BincangSyariah.Com – Covid 19 telah ditetapkan sebagai pandemik global. Penyebaran virus corona ini telah mencapai 180 an negara di dunia. Tak terkecuali dengan negara berpenduduk mayoritas Muslim. Indonesia salah satunya. Berbagai upaya dilakukan untuk menangani penyebaran virus yang telah menyebabkan kematian massal ini.

Di Indonesia, kekhawatiran terhadap penyebaran virus ini telah menjadi wacana sehari-hari di ruang publik. Lembaga pemerintah, media, organisasi sosial, bisnis, tokoh masyarakat, hingga individu berusaha terlibat dalam upaya penyadaran akan bahaya virus ini. Narasi yang digunakan berupaya mengedukasi publik akan bahaya Covid 19.

Pemerintah, misalnya, menetapkan kebijakan larangan berkerumun. Implikasinya, berkembang narasi untuk melakukan penutupan masjid, sebagai salah satu fasilitas publik yang menjadi tempat berkumpul masyarakat dalam kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah dan shalat Jum’at.

Narasi penutupan masjid menjadi sensitif bagi sebagian orang. Hal ini bahkan dipahami sebagai bentuk ancaman bagi agama (Islam). Narasi perlawanan pun dikembangkan sedemikian rupa. Walhasil, di tengah merebaknya wabah  Covid 19, berkembang pula “perang wacana” atau “perang dalil” antar individu yang mewakili publik yang mendukungnya. Baik yang pro maupun kontra terhadap isolasi maksimal terhadap kegiatan publik.

Dalam narasi keagamaan yang dikembangkan kedua belah pihak, sebagai Muslim yang percaya pada hadis sebagai rujukan dalam persoalan keagamaan, pengutipan perkataan Nabi Muhammad atau sahabatnya seakan menjadi keniscayaan tersendiri. Di sini, bagaimana pun, pengutipan sabda Nabi menemukan signifikansinya.

Para pengembang narasi perlawanan, misalnya, mengutip hadis yang mengatakan, “Sesungguhnya, jika Allah Ta’ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi, maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang orang yang meramaikan masjid.”

Dalam teks aslinya yang berbahasa Arab, terdapat beberapa varian redaksi. Secara maknawi, hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, Ibnu Adi dan Al-Baihaqi. Imam Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanad lengkap dari sahabat Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW berkata,

إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى الأَرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عَمَّارِ الْمَسَاجِدِ

Sungguh, Allah ta’ala ketika menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi, maka penyakit itu dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid (Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, 11/17, Ibnu Adi dalam Al-Kamil Fi Dhu’afa’ Al-Rijal, 4/205).

Melihat sumber atau rujukannya, hadis perlindungan terhadap pengunjung  masjid dari ancaman penyakit di atas dicantumkan dalam kitab yang mengumpulkan para perawi yang dinilai lemah (dhaif), yaitu kitab AlKamil Fi Dhu’afa AlRijal (literal: Data Lengkap Para Perawi Dhaif). Imam Ibnu Adi menyebut nama Zafir bin Sulaiman sebagai perawi yang diindikasi dhaif. Ia bernama lengkap Abu Sulaiman Zafir bin Sulaiman Al-Qauhastani. Ia adalah seorang perawi hadis dari kota Ray, di Iran. Ia dikenal sebagai perawi hadis mursal (terputus sanadnya di tingkat sahabat) dan hadis yang mengandung waham (kesalahan periwayatan).

Bila merujuk kepada pendapat Imam Ibnu Adi di atas yang menggolongkan Zafir bin Sulaiman sebagai perawi bermasalah, maka kita akan berkesimpulan hadis tersebut tergolong hadis dhaif, tidak memiliki nilai argumentatif.

Sebagai catatan, kedhaifan Zafir bin Sulaiman bukan pendapat tunggal di kalangan ahli hadis. Imam Ahmad menyebut Zafir bin Sulaiman sebagai tsiqah (terpercaya). Begitu pula dengan Yahya bin Ma’in, kritikus rawi hadis terkemuka, yang menilainya sebagai pribadi yang bisa dipercaya (tsiqah). Perbedaan pendapat mengenai kualitas perawi ini mendorong Ibnu Hajar membuat penilaian moderat; shaqud katsirul wahmi (orang yang jujur tetapi banyak salah dalam meriwayatkan hadis). Istilah ini agaknya ingin menunjukkan bahwa kredibilitas perawi ini bermasalah dalam aspek hafalannya. Tidak dalam konteks moralnya. Dengan kategori semacam ini, sebenarnya kedhaifan hadis yang diriwayatkan oleh Zafir bin Sulaiman dapat dikuatkan oleh jalur periwayatan lain.

Para pendukung isolasi maksimal kemudian mengembangkan poin lebih lanjut bahwa ketika kualitas transmisi hadis tersebut bermasalah, maka dengan demikian, otomatis konten hadis atau matan hadisnya juga bermasalah. Untuk menguatkan ini, para pendukung isolasi maksimal menunjukkan bahwa hadis di atas bertentangan dengan hadis yang berkualitas shahih. Di antara hadis shahih yang dikutip untuk mengkritisi kandungan hadis di atas adalah;

الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ، ابْتَلَى الله عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ، فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ، فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا، فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah azza wa jalla untuk menguji hamba-hamba-Nya. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri tersebut. Dan apabila penyakit itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya. (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Kelompok pro isolasi masjid mengutip hadis lain, riwayat dari Abu Hurairah, bahwa Rasul bersabda

لاَ تُورِدُوا المُمْرِضَ عَلَى المُصِحِّ

Jangan campur yang sakit dengan yang sehat (HR. Al-Bukhari).

Hadis lain yang dikutip adalah riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa Rasul bersabda

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh berbuat mudharat dan hal yang menimbulkan madlarat (HR. Ibnu Majah)

Hadis lain yang dikutip untuk memperkuat narasi adalah,

قَالَ: ابْنُ عَبَّاسٍ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ: إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَلاَ تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، قُلْ: «صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ»، فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا، قَالَ: فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي، إِنَّ الجُمْعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُونَ فِي الطِّينِ وَالدَّحَضِ

Ibnu Abbas berkata kepada muazinnya saat turun hujan (pada siang hari Jum’at), jika engkau “Asyhadu an la ilaha illallah, asyhadu anna muhammadan rasulullah”, maka janganlah kamu mengucapkan “hayya alas shalah”, namun ucapkan shallu fi buyutikum (shalatlah di rumah kalian). Abdullah bin Abbas berkata, “Ternyata orang-orang seakan kurang menyetujuinya.” Lalu ia berkata, “Apakah kalian merasa heran terhadap ini semua? Padahal yang demikian telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah). Shalat Jum’at memang wajib, tetapi aku tidak suka jika harus  membuat kalian berjalan di lumpur dan comberan (HR Al-Bukhari dari Ibnu Abbas)

Empat hadis yang dikutip pendukung isolasi maksimal bersumber dari kitab-kitab hadis populer dan memiliki kualitas yang baik. Seperti dikatakan sebelumnya, pengutipan keempat hadis ini bertujuan memperkuat penolakan terhadap kandungan hadis Allah tidak menurunkan wabah kepada pengunjung masjid. Prinsipnya, hadis tersebut bertentangan dengan hadis lain yang berkualitas shahih. Dengan demikian, hadis perlindungan dari wabah bagi pengunjung masjid ditolak dari dua sudut pandang. Baik dari sisi transmisi-isnadnya maupun kandungannya. Keduanya bermasalah, setidaknya menurut perspektif pengkritiknya.

Di sini, pengutipan hadis berkembang menyertai tumbuhnya narasi religius umat Islam dalam menghadapi problem sosial, seperti pandemik global Covid 19. Agaknya, pengutipan hadis dalam konteks sosial semacam ini telah menjadi trend dari satu fenomena sosial ke fenomena lain. Dalam pengutipan hadis, tentu saja problem yang akan diperdebatkan selanjutnya adalah soal kualitas transmisinya, lalu soal kandungannya.

Dalam dunia yang serba digital ini, begitu muncul satu narasi ke ruang publik, maka akan segera mendapatkan tanggapan oleh narasi lain. Hal ini sekaligus menandai tumbuhnya perhatian, penyebaran dan kajian terhadap hadis Nabi. Serta menjaga agar narasi keagamaan tetap dalam koridor yang demokratis, dapat diperbicangkan, didiskusikan, dikritik dan diimani secara proporsional.

Bagi para pengguna hadis, baik itu para ustadz, penceramah, dosen, penulis keislaman, dan bentuk-bentuk aktivisme dakwah Islam, fenomena semacam ini harus menjadikan mereka mau berbenah menambah pengetahuan seputar ilmu hadis. Tentunya, agar  ketika mereka berwacana membangun narasi agama yang punya implikasi sosial, dapat merujuk kepada sumber-sumber yang otoritatif serta pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan.

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Virus corona telah menyebar ke berbagai negara. Banyak cara yang dilakukan oleh pengampu kekuasaan untuk menghentikan penyebaran virus ini. salah satunya dengan kebijakan social distancing  atau jarak sosial. Di beberapa negara muslim, jarak sosial dipraktekkan di berbagai tempat, salah satunya di masjid berupa shalat jamaah yang shafnya dibuat renggang, sehingga tidak ada kontak fisik langsung antar jamaah. Bagaimana hukum merenggangkan shaf shalat karena antisipasi penyebaran virus corona? (Baca: Pro-Kontra Hadis tentang Masjid Jadi Benteng Buat Lawan Corona) […]

  2. Demi Allah yg jiwaku berada ditanganNYA, sungguh aku sangat meyakini kebenaran hadist tentang mesjid yg kalian cari-cari kesalahannya itu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here