Prinsip Damai dan Cinta dalam Thariqah ‘Alawiyah

0
808

BincangSyariah.Com- Dalam suatu kesempatan, Haidar Baghir, seorang aktivis keilmuan islam kelahiran kota Solo Jawa Tengah ini menyampaikan pandangannya tentang prinsip damai dan cinta dalam Thariqah ‘Alawiyah. Haidar Baghir dibesarkan di lingkungan yang memegang teguh nilai-nilai dasar dari Thariqah ‘Alawiyah. Pada selanjutnya, ia pun fokus dan menekuni kajian timur tengah, khususnya dalam dunia tasawuf.

Pada kesempatan tersebut, Haidar Baghir mengawali dengan melakukan pelurusan terhadap makna sebuah Thariqah. Thariqah yang menurutnya bermakna “jalan-jalan kecil/ pintas” adalah reduksi cabang dari Syari’ah yang berarti “jalan besar”. Layaknya jalanan tol, apabila seseorang ingin menuju suatu tempat terpencil (misal, sumber air kehidupan), maka seseorang harus melewati jalan yang lebih kecil untuk bisa menuju tempat tersebut.

Banyak orang menyatakan bahwa mengikuti sebuah jalan Thariqah adalah menjauhkan diri dari ketentuan syariat (Islam), namun Haidar Baghir tidak sejalan dengan pernyataan ini. Menurutnya, Thariqah adalah tahap lanjut seseorang dalam menjalani pengalaman keagamaan yang lebih dalam, yangmana tentu harus melewati dan rampung pertanggungjawabannya terhadap ketentuan syar’i.

Thariqah ‘Alawiyah adalah representasi dari ajaran serta ijtihad dari para ulama terdahulu. Dalam Thariqah ini, pijakan para ‘Alawiyyin (kelompok ‘Alawiyah) dalam menjalankan praktik tasawufnya adalah kepada Imam al Ghozali serta Imam Abu Hasan as Syadziliy.

Para ‘Alawiyyin menganggap bahwa agama perlu dihidupkan dengan koridor syar’i yang tepat, sekaligus dengan hiasan tasawuf yang mendalam. Landasan ini tidak lain juga berdasar pada konsep “Muamalah Tasawuf” yang diperkenalkan Imam al Ghozali dalam kitab fenomenalnya, Ihya’ ‘Ulumuddin.

Damai dan Cinta dalam Thariqah ‘Alawiyah

Haidar Baghir, pada kesempatan tersebut, menerangkan bahwa Thariqah ‘Alawiyah mempunyai prinsip-prinsip mendasar tentang damai dan cinta. Para ‘Alawiyyin mendasari prinsip mereka pada penghindaran terhadap suatu konflik yang besar dalam rangka menjaga perdamaian. Ini dilatarbelakangi oleh para pendahulu mereka, seperti Imam Ahmad bin Isa al Muhadjir, yang pernah hijrah dari Irak karena terjadi fitnah besar/ chaos ke Hadhramaut-Yaman. Bentuk penghindaran ini bukan berarti kekalahan atau suatu kelemahan. Namun sebaliknya, penghindaran disini adalah bentuk pencapaian suatu kemaslahatan yang lebih mendasar.

Baca Juga :  Barang Sewaan Rusak, Apakah Wajib Diganti?

Usaha-usaha tersebut tidak lain adalah reduksi terhadap perilaku dan teladan kepada Rasulullah SAW. saat menghadapi suatu konflik. Rasulullah SAW. pernah hijrah dari Mekkah menuju Madinah untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang buruk dalam dakwah islam.

Tah hanya itu, Rasulullah SAW. menjadikan peperangan menjadi jalan terakhir bagi sebuah konflik. Pada bukti historis yang ada, Rasulullah SAW. “terpaksa” melakukan sebuah peperangan apabila memang sudah merasa terancam dan diagresi oleh pihak lawan, atau dalam perkara lain pembelaan terhadap tindak penindasan. Jadi, Haidar Baghir tidak membenarkan apabila saat ini muncul asumsi-asumsi bahwa pembuktian keimanan harus dengan jalan perang, menurutnya itu salah kaprah.

Dalam konteks ke-Indonesia an, Walisongo pun membawa dakwah dengan cinta dan damai. Ini terbukti dari warisan-warisan dakwah Walisongo yang nir peperangan, akan tetapi menggunakan pendekatan-pendekatan yang bisa diterima masyarakat pribumi saat itu. Diketahui pula bahwa sebagian besar tokoh Walisongo adalah para ‘Alawiyyin, yangmana pendahulu-pendahulu mereka adalah seorang ulama di berbagai daerah, lalu berhijrah ke tanah Nusantara.

Pungkas Haidar Baghir dalam sesi tersebut, Ia menekankan bahwa Thariqah ‘Alawiyah mempunyai visi utama terhadap terciptanya keadaan cinta dan damai. Beliau menjelaskan bahwa usaha dalam mewujudkan visi tersebut diantaranya yakni reformasi sosial yang peaceful. Reformasi ini diharapkan menjadi sebuah jalan sokongan yang ampuh terhadap upaya-upaya pendekatan religius yang mendalam.

Kemudian, Thariqah ini juga senantiasa meneguhkan dan memelihara hubungan silaturrahim di tengah keluarga serta masyarakat. Tak hanya itu, para ‘Alawiyyin memberikan concern yang amat besar terhadap keilmuan, utamanya ilmu agama yang bersanad. Terbukti dari didirikannya berbagai dzawiyah serta rubath-rubath yang banyak mempunyai cabang di berbagai wilayah.

Wallahu A’lam bi as Showaab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here