Prinsip Berbakti kepada Orang Tua Non-Muslim dalam Al-Qur’an

0
11

BincangSyariah.Com – Indonesia sebagai negara plural telah menjamin kebebasan beragama setiap rakyatnya. Dengan itu, tidak sedikit perbedaan keyakinan pun terjadi dalam lingkup keluarga. Semisal anak beragama Islam sedangkan orang tuanya non-muslim. Sebagai seorang anak, tentu ia mempunyai tanggung jawab untuk berbakti kepada orang tua non-Muslim. Bagaimana ِِAl-Qur’an mengatur hubungan antara anak dan orang tua yang beda agama? Bagaimana seharusnya seorang anak bersikap? (Baca: Argumen Kebolehan Mendoakan Ampunan untuk Orang Tua Non-Muslim)

Sebagaimana telah maklum, berbakti kepada orang tua adalah norma yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Islam. Hal itu bisa dirujuk dalam firman Allah Swt. dalam surah al-Isra’ ayat 23:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah!”, dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’[17]: 23).

Berdasarkan ayat ini, Ibnu ‘Asyur dalam kitabnya, at-Tahrir Wa at-Tanwir, menyebut bahwa berbakti kepada orang tua merupakan pondasi kedua dalam ajaran Islam setelah kewajiban menghamba kepada Tuhan. Artinya setelah kita dituntut untuk menghamba kepada Sang Pencipta, kita diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua sebab merekalah yang menjadi perantara adanya kita di dunia. Itulah mengapa dalam ayat di atas perintah berbakti kepada orang tua disandingkan dengan perintah menghamba kepada Tuhan. (Lihat Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur, At-Tahrir Wa At-Tanwir, Jilid 15, hlm. 67 dan 68).

Baca Juga :  Keutamaan Malam Jumat Pertama Bulan Rajab

Dalam konteks berbakti kepada orang tua non-Muslim, batasannya juga jelas. Seorang anak dituntut patuh dan taat kepada orang tuanya, sekalipun non-muslim, selama orang tua itu tidak mengajak sang anak untuk mengikuti agamanya. Prinsip ini secara eksplisit dapat dibaca dalam firman Allah Swt. QS. Luqman ayat 14-15:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu (14). Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu lakukan (15)”. (QS. Luqman [31]: 14-15).

Ayat ini juga secara tegas melarang seorang anak untuk patuh kepada kedua orang tua apabila keduanya memerintah untuk menyekutukan Allah Swt.  Kendati demikian, sebagai seorang anak, ia tetap diperintahkan untuk berlaku baik kepada orang tua di dunia sebagaimana dalam petikan ayat di atas,“Pergaulilah mereka berdua dengan baik di dunia”.

Khatimatun, sudah seyogianya bagi seorang anak untuk selalu berperilaku baik dan menumbuhkan sikap kasih sayang kepada orang tua yang beda agama. Hal terpenting dari perbedaan ini adalah tetap menjaga tatakrama yang baik dan sikap berbakti sehingga timbul keluarga yang harmonis. Adalah hal yang tidak patut apabila seorang anak sampai memutus tali silaturrahim dengan merusak baktinya terhadap orang tua hanya karena perbedaan keyakinan.

Baca Juga :  Tradisi Sati di India: Bakar Diri bagi Janda yang Bertentangan dengan Islam

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here