Pola Asuh Demokratis pada Anak Generasi Z

0
575

BincangSyariah.Com– Generasi Z mengacu pada generasi yang lahir antara tahun 1996 hingga 2010, yakni mereka yang lahir setelah generasi milenial. (Baca: Ajaran Tasawuf dan Kenapa Generasi Milenial Penting Mempelajarinya)

Saat ini sebagian anak-anak Generasi Z, tepatnya generasi awal mereka sudah mulai memasuki jenjang perguruan tinggi dan ada yang mulai memasuki dunia kerja.

Namun, banyak juga dari generasi ini yang masih duduk di bangku SMP atau SMA, artinya masih pada fase masa remaja.

Secara umum, Generasi Z ini merupakan mereka yang dibesarkan di era di mana internet mulai muncul dan berkembang dengan mutakhir.

Dari segi karakter, yang paling menonjol dari Generasi Z ini  adalah ambisius, cita-cita dan aspirasinya yang tinggi. Selain itu, mereka sangat kreatif, gemar bergaul, senang bereksplorasi dan berani mengambil risiko.

Sebagai generasi yang hidup di era digital dan mutakhirnya teknologi informasi, naluri bersosialisasi mereka akan dengan mudah tersalurkan. Bahkan, inilah hal paling menonjol dari Generasi Z. Gawai dan dunia maya sangat familiar bagi mereka.

Dengan FB, WA, Twitter, Instagram dan semacamnya, mereka akan lebih asyik berjejaring, berkreasi dan mengembangkan diri. Meski terdengar positif, tapi jika tidak disertai dengan pendidikan dan pola asuh yang tepat justru hal tersebut bisa menjerumuskan.

Dengan memahami karakter mereka dan mengingat pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan di era kekinian, di sinilah peran orang tua menjadi sangat urgen.

Memilih Pola Asuh

Generasi Z tidak cukup hanya dipasrahkan pada lembaga pendidikan tanpa pengawasan orang tua. Namun tidak berarti harus terlalu dikekang yang justru akan mematikan kreativitas mereka.

Pola asuh orang tua harus mengakomodir pengembangan diri mereka dengan tanpa mengabaikan pengawasan. Dari sekian jenis pola asuh, pola demokratis atau autoritatif sejauh ini yang bisa menjadi opsi ideal untuk Generasi Z.

Baca Juga :  Benarkah Mazhab Hanbali Melarang Mencium Kuburan Nabi ?

Dengan tidak menafikan bahwa setiap pola asuh mempunyai dampak positif dan negatif tersendiri, namun jika berbicara efektivitas, maka pola asuh demokratis dinilai lebih sesuai dibanding pola otoriter maupun permisif. Hal ini dengan memperhatikan karakter dan mental Generasi Z yang cenderung aktif.

Penerapan Pola Asuh Demokratis

Wujud nyata dari pola asuh demokratis pada Generasi Z di era kekinian bisa diterapkan sebagai berikut:

  1. Beri Pemahaman Tentang Internet

Seorang filsuf muslim kenamaan, Imam al-Ghazali pernah berkata, “Jika kamu tinggal di tepi sungai, janganlah larang anakmu untuk mendekati sungai lantaran takut tenggelam, tapi ajarilah ia berenang”. Pengajaran tamsil yang beliau sampaikan sangat relevan jika dikaitkan dengan kehidupan Generasi Z yang hidup di era teknologi saat ini.

Di era digital ini adalah tidak bijak jika orang tua tidak memeberikan akses sama sekali kepada anaknya untuk bersentuhan dengan internet. Khawatir akan dampak negatifnya wajar, tapi tidak memberi kesempatan sama sekali merupakan salah besar. Justru orang tua yang harus pertama kali mengenalkan anak pada internet. Beri mereka pemahaman bahwa internet sebagai wujud kecanggihan teknologi adalah untuk semakin mempermudah manusia.

Beri mereka pemahaman tentang dampak positif dan negatifnya. Awasi mereka agar menghindari hal-hal yang negatif di internet. Di sinilah pendidikan dan kontrol berfungsi. Dengan begitu, mereka akan menjadi generasi cerdas internet. Sungguh ini lebih baik daripada mereka harus tahu internet dari orang lain, apalagi jika aktivitas mereka di internet bersentuhan dengan yang negatif.

  1. Ajak Berdiskusi

Sesuai namanya, pola demokratis, maka diskusi antara orang tua dan anak mutlak harus terbangun dengan baik. Jika pada pola asuh permisif, orang tua acuh tak acuh tentang perkembangan anak. Jika pada pola asuh otoriter berlaku sebaliknya, orang tua banyak menekan anak. Dalam pola demokratis, orang tua harus mencoba membangun komunikasi dan nalar anak dengan cara mengajak mereka diskusi.

Baca Juga :  Jika Anda Stabil dalam Empat Hal Ini, Pertanda Anda Sempurna di Mata Allah

Tidak menjadi hina orang tua yang meminta pendapat anak tentang suatu topik berita di televisi yang sedang hangat. Hal ini selain melatih mental, juga mengajarkan mereka menghargai pendapat orang lain. Orang tua yang baik juga akan berdiskusi banyak hal dengan anak, bahkan tentang bentuk hukuman bagi sang anak ketika melanggar sebuah aturan.

  1. Ajari Sikap Disiplin

Kreativitas dan kegemaran bereksplorasi Generasi Z yang tinggi harus diimbangi dengan kedisiplinan. Dalam hal ini, orang tua harus menjadi mentor dan teladan. Orang tua harus dengan telaten mengingatkan tentang kerapian kamar, mematikan komputer setelah dipakai, tidak menunda-nunda tugas dan pekerjaan.

Dalam pada itu, orang tua juga harus menjadi teladan, mengingat Generasi Z ini sangat kritis. Biasakan mereka makan bersama, ibadah berjamaah, menjaga kebersihan tubuh dan sebagainya.

  1. Tanamkan Nilai-Nilai Sosial

Sikapnya yang gaul dan terbuka untuk mengenal banyak orang, selain perlu pengawasan agar tidak salah gaul, harus diberdayakan oleh orang tua untuk menanamkan nila-nilai sosial. Arahkan mereka untuk membantu dan berbagi dengan sesama.

Dalam waktu yang berkala, libatkan mereka dalam kegiatan sosial yang diikuti orang tua. Ajak mereka untuk menemani ketika orang tua mengeluarkan zakat atau berkurban, misalnya. Dengan demikian, kecintaan pada nilai-nilai sosial akan tumbuh dan menjadi bekal, sehingga Generasi Z menjadi generasi yang bisa dibanggakan kelak. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here