Pengelolaan Harta Poin Telkomsel dalam Telaah Tinjauan Fikih

0
38

BincangSyariah.Com – Poin menurut KBBI sebenarnya dimaknai sebagai titik, angka, nilai dan hal. Namun, poin dalam pengertian istilahnya sering dimaknai secara berbeda-beda. Adapun secara istilah, arti dari poin sering dimaknai secara berbeda, menurut konteksnya.

Misalnya, pada pertandingan bola basket. Di dalam permainan basket, ada istilah three-point field (3FG), yang artinya skor yang dicetak berdasarkan lemparan bola masuk dari luar garis 3 angka (3 poin) ke keranjang basket. Garis 3 angka ini adalah garis melengkung yang mengelilingi ring basket. Skor 2 poin diberikan bila ada lemparan masuk ke keranjang basket, dan lemparan itu berasal dari dalam garis 3 angka. Sementra 1 poin, merupakan skor lemparan bebas.

Menyimak dari istilah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa poin merupakan istilah dari sebuah skor. Skor itu lahir akibat adanya suatu kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan aturan main.

Nah, dalam dunia bisnis digital, agaknya poin ini memiliki kemiripan makna dengan poin yang dikenal dalam dunia pertandingan / perlombaan. Jadi, ia didapatkan berbasis capaian menurut kriteria tertentu.

Bedanya dengan dunia perlombaan, poin pada dunia bisnis digital, umumnya diberikan berbasis besarnya nilai perbelanjaan yang dilakukan oleh seorang konsumen. Nah, termasuk harta apakah poin ini?

Kita sudah coba untuk mengupasnya pada tulisan yang telah lalu, yaitu kedudukan poin adalah menyerupai diskon belanja atau bahkan merupakan harta pemberian (‘athiyah), yang mana hak pemberian itu sendiri juga berbatas waktu. Kali ini kita akan coba untuk menelaahnya ke yang lebih spesifik lagi, mengingat ke depannya, POIN ini bisa jadi akan menjadi aset yang berharga.

Kita coba petakan ciri-ciri poin tersebut, adalah sebagai berikut:

  1. Poin adalah harta manfaat yang bisa dicairkan selama masa waktu tertentu dilaksanakannya program sebagaimana yang ditetapkan oleh perusahaan.
  2. Sifat pencairan poin, adalah dilakukan dengan menukarkannya terhadap produk barang pada perusahaan yang mrnjalin kerjasama dengan Telkomsel
  3. Bukti kerjasama perusahaan dengan Telkomsel, adalah adanya pencantuman nama perusahaan mitra pada aplikasi Telkomsel, dan demikian berlaku sebaliknya
  4. Jika dalam pencairan itu, inilai POIN ditempatkan sebagai diskon, maka akad yang terjadi pada poin adalah  termasuk akad diskon berdurasi waktu.
  5. Selanjutnya bila diartikan sebagai pemberian (‘athiyah), maka athiyah itu berbasis waktu pula.
  6. Di luar batas waktu kontrak yang telah ditetapkan oleh perusahaan, maka poin itu sudah tidak bernilai lagi dan sudah tidak bisa digunakan.

Nah, berdasarkan kriteria ini, termasuk harta apakah poin ini? Dan bagaimana relasi akad yang terjadi terhadap penggunaan poin Ini dalam belanja?

Beberapa Fakta tentang Poin Telkomsel

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada sebuah kaidah yang berlaku umum, yaitu kullu ma yutammawalu fahuwa al-maal, yaitu segala sesuatu yang bisa dirupakan sebagai harta, maka ia adalah harta.

Dalam realitasnya, ketika masih di dalam batas waktu kontrak, maka poin masih bisa digunakan dan ditukarkan dengan barang. Alhasil, poin itu adalah harta, tanpa khilaf.

Uniknya, poin selaku harta, memiliki nilai tukar yang berbeda-beda tergantung tempat penukarannya.

Misalnya, dalam aplikasi MyTelkomsel dinyatakan secara tegas sebagai berikut:

  1. 50 poin bisa digunakan untuk membeli Morinage Chilkid Soya 300 gram dengan potongan harga sebesar 10 ribu. Alhasil, nilai 1 poin, adalah setara dengan harga 200 rupiah.
  2. 1 poin bisa digunakan untuk membeli membeli Voucher Pulsa senilai 2.500 rupiah lewat Aplikasi Hotel Murah
  3. 400 poin, bisa digunakan untuk membeli buku dengan potongan harga senilai 50 ribu rupiah di Gramedia. Alhasil, nilai 1 poin adalah setara 125 rupiah.

Sebenarnya, masih banyak contoh lain yang tidak mungkin disajikan oleh peneliti dalam forum singkat ini. Namun, secara ringkas dapat ditarik benang merah, bahwa harta poin ini nilai tukarnya adalah bersifat tidak tentu. Perbedaan nilai tukar ini bergantung pada di mana harta poin itu ditasarufkan.

Ilustrasi Akad Penasarufan Poin Telkomsel

Untuk memahami suatu akad yang terjadi pada penasarufan atau pengelolaan POIN Telkomsel, terkadang kita memang perlu menghadirkan ilustrasinya. Dalam konteks ini, berikut ini peneliti akan coba hadirkan sekilas gambaran bagaimana akad itu terjadi dan mengikat antara konsumen, Telkomsel dan Pihak perusahaan tempat penukaran poin. Simak ilustrasi berikut!

Pertama, seolah Pihak Telkomsel berkata kepada konsumen: “Karena kamu sudah membeli pulsa di kami sebesar sekian ribu selama 3 bulan terakhir, kamu saya berikan poin sebesar ini. Kamu bisa menukarkannya kepada semua perusahaan yang telah bekerjasama dengan kami. Jika ke Gramedia, maka 400 poin kamu mendapatkan potongan sebesar 50 ribu. Jika membeli pulsa lewat aplikasi Hotelmurah, dengan 1 poin kamu akan mendapatkan diskon 2.500 rupiah, dan seterusnya ke perusahaan lain.

Kedua, seolah pihak Telkomsel berkata kepada perusahaan yang bekerjasama dengannya: “Jika ada yang menukar 400 poin ke Gramedia untuk membeli buku Gramedia, maka silahkan pihak Gramedia memberi potongan ke dia sebesar 50 ribu rupiah.

Perkataan ini disahut Gramedia: “Lalu darimana aku mendapatkan penutup uang 50 ribu itu?

Pihak Telkomsel menjawab: “Kamu bisa meminta kepadaku.”

Ketiga, seolah telah terjadi percakapan antara Konsumen Gramedia dengan Gramedia: “Saya beli buku ke kamu, seharga sekian. Untuk yang 50 ribu, aku bayar memakai poin. Telkomsel berkenan menjamin tanggunganku kepadamu, asalkan aku menyerahkan 400 poin ini ke kamu.”

Jadi, dalam posisi ini, POIN Telkomsel berperan selaku alat bukti tagihan yang bisa digunakan oleh pihak Gramedia untuk menuntut penunaian utang konsumen sebagaimana dijamin besarannya secara pasti oleh Telkomsel.

Analisis Akad yang Terjadi Pada Aset Poin

Berbekal sejumlah ilustrasi akad yang telah digambarkan di atas, maka selanjutnya mari kita lakukan analisa terhadap kedudukan setiap akad di atas dalam bingkai fikihnya.

Dari  akad pertama, diketahui bahwa besaran nilai tukar poin berbeda-beda. Adanya perbedaan pada nilai tukar poin ini, mengisyaratkan bahwa poin tidak bisa disamakan kedudukannya dengan mata uang. Mengapa?

Ada sejumlah alasan yang mendasarinya.

  1. Poin berasal dari satu perusahaan yang sama, yaitu Telkomsel. Di bawah payung perusahaan yang sama, hal yang seharusnya berlaku jika POIN disamakan dengan uang, adalah nilai tukarnya juga harus bersifat tetap (konstan) apabila ditukarkan dengan produk lain. Dalam realitanya, hal ini tidak terjadi pada POIN Telkomsel. Setiap poin memiliki daya / nilai tukar yang berbeda terhadap barang.
  2. POIN tidak memiliki satu entitas fisik sama sekali, yang bisa menjamin dirinya untuk tidak dipalsukan. Hal ini memungkinkan dengan Bitcoin yang masih memiliki bukti catatan transaksi yang terekam dalam satu blockchain dan berbasis kriptografi dengan ditopang oleh tanda tangan hash dan PoW sehingga tidak bisa dipalsukan.

Karena poin memiliki nilai dan daya tukar yang berbeda terhadap suatu entitas pproduk barang, maka ini mengindikasikan bahwa POIN adalah ibarat surat perintah berutang yang dijamin penunaiannya oleh Telkomsel.

Alhasil, ketika pihak Telkomsel memberikan poin itu kepada konsumen, maka seolah telah berlangsung adanya perintah yang disertai iqrar penjaminan oleh Telkomsel agar pihak konsumen yang menerima POIN berutang pada perusahaan yang menjalin kerjasama dengan Telkomsel, dengan besaran nominal yang dijamin oleh Telkomsel selaku penerbit poin.

Sampai di sini, maka dapat kta tarik kesimpulan bahwa relasi yang terjadi antara ketiga pihak di atas, bisa dipandang sebagai dua hal, yaitu:

  1. Ketiganya diikat dalam inter-relasi akad hiwalah (bai’ dain bi al-dain) atau
  2. Ketiganya diikat dalam inter-relasi akad dlaman al-dain.

Penjabaran menurut rumpun akad dlaman

Jika relasi antara konsumen – Telkomsel – Perusahaan Mira Tekomsel di atas diurai berdasarkan relasi akad dlaman al-dain, maka secara terperinci akan nampak kedudukan masing-masing pihak berlaku sebagai berikut:

  1. Pihak yang dijamin (al-Madlmun ‘Anhu) adalah Konsumen
  2. Pihak Penjamin (Dlamin) adalah Telkomsel
  3. Obyek yang dijamin (al-Madlmun) adalah utang.
  4. Pihak penagih yang dijamin (al-Madlmun lahu) adalah Perusahaan Mitra Telkomsel
  5. Shighah / Lafal kesediaan penjaminan ditempati oleh ketentuan yang berlaku pada Aplikasi MyTelkomsel.

Penjabaran menurut rumpun Akad Hiwalah

Adapun jika relasi antara konsumen – Telkomsel dan Perusahaan Mitra Telkomsel diiurai menurut relasi akad hiwalah, maka akan nampak peran masing-masing pihak sebagai diperinci sebagai berikut:

  1. Pihak Pertama yang berutang kepada Konsumen adalah Telkomsel [muhil]
  2. Pihak Kedua yang berutang kepada Perusahaan Mitra Telkomsel, dalah Konsumen [muhal]
  3. Pihak Ketiga yang menerima pengalihan penagihan utangnya konsumen, adalah Perusahaan Mitra Telkomsel [muhal ‘alaih]
  4. Nilai utang [dain] Konsumen ke Perusahaan Mitra Telkomsel, adalah sama dengan besarnya utang Telkomsel ke Konsumen
  5. Penagihan utang [piutang] yang menerima pengalihan adalah “penagihannya konsumen ke Telkomsel” menjadi “penagihan Mitra Telkomsel ke Telkomsel”

Secara syariat, akad  kebolehan penerapan akad hiwalah yang sejatinya merupakan bai al-dain bi al-dain, adalah:

  1. Di antara ketiga pihak telah terjadi akad kesefahaman
  2. Sebagaimana diakui oleh Telkomsel, bahwa penerapn akad pengalihan utang ini dibutuhkan dalam rangka mempermudah konsumen dalam menukarkan POIN menjadi barang riel.
  3. Penerapan akad hiwalah juga dimaksudkan untuk melakukan diversifikasi produk sebagai langkah meningkatkan daya saing dalam rangka menjaring konsumen. Langkah ini merupakan sebuah keniscayaan dalam iklim persaingan ekonomi dalam ranah global.
  4. Semakin besar diversifikasi produk itu diciptakan, maka semakin besar pula peluang untuk mendapatkan keuntungan usaha

Dengan mencermati pada skema relasi akad hiwalah di atas, maka penerapan akad tersebut telah sesuai dengan maksud dari disyariatkannya akad hiwalah, yaitu boleh karena faktor li masis al-hajat, yaitu sangat diperlukannya akad tersebut oleh ketiga pihak yang terlibat di dalamnya. Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here