Plasma Darah untuk Obat, Apakah Boleh?

0
529

BincangSyariah.Com – Saat ini banyak para dokter yang mengambil plasma darah dari pasien yang sembuh dari virus Covid-19. Diyakini bahwa plasma darah dari pasien yang sembuh dari virus Covid-19 mengandung kaya antibodi yang bisa digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan pasien lain. Sebenarnya, bagaimana hukum menggunakan plasma darah untuk obat, apakah boleh?

Menggunakan plasma darah untuk obat hukumnya boleh dalam Islam. Meski dalam Islam darah dihukumi najis, namun jika bisa digunakan untuk menyelematkan orang lain, atau bisa mempercepat penyembuhan suatu penyakit, maka hukumnya boleh digunakan sebagai obat. (Baca: Benarkah Hasil Darah Perempuan yang Dibekam Haram Dilihat?)

Kebolehan ini bersifat umum, artinya boleh dalam bentuk donor atau plasma darah tersebut diolah dalam bentuk kapsul dan lainnya. Hal ini karena para ulama membolehkan berobat dengan sesuatu yang najis, termasuk dengan plasma darah, jika hal itu bisa digunakan sebagai obat untuk menyelematkan kehidupan manusia, apalagi belum ditemukan obat yang suci sebagai gantinya.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Husnain Makhluf dalam kitab Fatawa Al-Syar’iyyah berikut;

مسألة هل يجوز شرعا الإنتفاع بدم الإنسان بنقله من الصحيح الى المريض لإنقاذ حياته ؟

الجواب الدم وان كان محرما بنص القرآن الا ان الضرورة الملجئة الى التداوي به تبيح الإنتفاع به في العلاج ونقله من شخص لآخر، وقد ذهب جمع من الفقهاء الى جواز التداوي بالمحرم والنجس اذا لم يكن هناك ما يسدّ مسدّه من الأدوية المباحة الطاهرة، فاذا راى الطبيب المسلم الحاذق ان انقاذ حياة المريض متوقف على الإنتفاع بالدم، جاز التداوي به شرعا.

Pertanyaan; Apakah boleh dalam syariat memanfaatkan darah manusia dan memindahkannya dari orang yang sehat pada orang yang sakit untuk menyelematkan hidupnya?

Baca Juga :  Tulis Doa Ini Agar Selamat dari Wabah Penyakit

Jawabannya; Darah, meskipun haram sesuai nash Al-Quran, namun kondisi darurat yang mengharuskan berobat dengannya, maka boleh memanfaatkan darah tersebut dalam pengobatan dan memindahkannya dari satu orang ke orang lain.

Para ulama fiqih membolehkan berobat dengan sesuat yang haram dan najis jika tidak ada obat-obatan lain yang suci sebagai gantinya. Karena itu, jika dokter muslim yang profesional melihat bahwa kehidupan pasien hanya bisa diselematkan dengan darah, maka boleh berobat dengannya secara syariat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here