Phubbing dalam Perspektif Islam

0
783

BincangSyariah.com – Perkembangan teknologi informasi akhir ini berkembang sangat pesat, terlebih Indonesia yang merupakan salah satu bangsa yang hidup dalam lingkungan global. Teknologi dan Informasi di Indonesia bisa dibilang cukup maju, tetapi belum merata. Sejak dekade 1970-an, teknologi informasi di Indonesia berkembang secara bertahap. Pada perkembangannya dibentuk Departemen Komunikasi dan Informatika (Sekarang Kemenkominfo). Ini kemudian membantu perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia menjadi lebih terarah, seperti adanya surat kabar, radio, dan lain sebagainya.

Istilah Phubbing menurut sebagian ahli bermakna sibuk bermain gawai hingga mengabaikan orang lain. Istilah ini dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan Mabuk Gawai. Enam tahun silam, tepatnya pada bulan Mei 2012 para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan berkumpul di Sidney University. Hasil pertemuan tersebut melahirkan satu kata baru dalam tata bahasa Inggris yaitu Phubbing. Meski makna kata tersebut sudah menjadi fenomena yang sangat umum, namun dunia internasional sampai memerlukan sebuah kata khusus untuk penyebutannya.

Phubbing dapat juga digambarkan sebagai individu yang melihat ponselnya saat berbicara dengan orang lain, sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan komunikasi interpersonal. Seseorang dengan perilaku Phubbing memiliki indikasi menyakiti orang lain dengan cara pura-pura memperhatikan saat diajak berkomunikasi, tetapi pandangannya sebentar-sebentar tertuju pada ponsel yang ada di tangannya. Mereka yang sibuk dengan ponselnya seringkali berjibaku dengan hal yang maya, tidak nyata, bahkan terkadang tak bermanfaat. Sedangkan di hadapan ada yang lebih penting untuk dilakukan.

Baginda Rasulullah Saw selalu perhatian kepada lawan bicaranya. Bila ia tertawa maka Rasul ikut tertawa. Jika ia takjub terhadap apa yang sedang dibicarakan maka Rasul juga ikut takjub.

ولا يقطع على احد حديثه

Baca Juga :  Anak-anak dan Pemahaman Radikal

Artinya:

“Dan Rasulullah tidak pernah memotong pembicaraan orang lain.” (Hadist Riwayat Tirmidzi).

Bahkan ketika shalat Jumat banyak pemuda bermain aplikasi mediasosial sepanjang khutbah. Ini namanya bukan lagi phubbing kepada orang lain, tetapi juga  “phubbing” kepada Allah. Sejatinya sejak langkah pertama kita masuk ke baitullah (masjid) maka kita sudah berhadapan kepada Allah. Sungguh mengherankan kalau ada orang yang pergi melaksanakan shalat Jumat kemudian ia justru bermain gawai saat ibadah di masjid.

Positif Negatif Teknologi Komunikasi

Pada umumnya orang yang lalai akibat teknologi akan merusak psikologi dirinya sendiri.  membuat ia kecanduan dalam penggunaan teknologi informasi dengan fasilitas yang berkembang sehingga muncul dorongan kejahatan, masuknya nilai-nilai budaya asing yang negatif, hingga bisa mendorong tindakan konsumtif dan pemborosan. Dalam level terburuk, teknologi bisa menjadi alat untuk mendorong kekejaman dan kesadisan

(أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٠٨

Artinya:

Mereka Itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya Telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. An-Nahl:108)

Adapun dampak positifnya adalah terjalinnya konektivitas baik jauh maupun jarak dekat, dan mengurangi jumlah waktu dimana kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain serta memudahkan informasi baik itu suara, gambar, teks data maupun kombinasinya dan juga dapat membina keterampilan dasar untuk membantu tercapainya tujuan. Namun, dampak positif ini juga menjadi negatif jika dilakukan tidak di waktu yang tepat, apalagi sampai melakukan phubbing.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here