Petunjuk Nabi bagi Seorang Musafir di Bulan Ramadan

0
639

BincangSyariah.Com – Di antara tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia ketika Ramadan adalah tradisi mudik (pulang ke kampung halaman) di hari-hari akhir Ramadan dalam rangka mengupayakan diri agar bisa berkumpul dengan sanak family ketika hari raya tiba. Jika perjalanan pada bulan-bulan lain dalam keadaan tidak puasa saja diibaratkan sebagai serpihan siksaan fisik (qit’ah minal adzab), maka perjalanan yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadan, yang terdapat kewajiban berpuasa di dalamnya, mungkin bisa lebih dari itu bagi orang yang melaksanakannya.

Rasulullah SAW sebagai rujukan utama bagi kaum muslimin dalam bersikap, memberikan petunjuk bagi mereka, ketika melaksanakan perjalanan di bulan suci Ramadan, bulan dimana mereka memiliki kewajiban melaksanakan ibadah puasa di dalamnya.

Petunjuk yang pertama, Rasulullah SAW mempersilahkan mereka yang melaksanakan perjalanan di bulan Ramadan untuk tidak berpuasa, dengan catatan mereka akan mengganti puasa tersebut sebelum bertemu dengan bulan Ramadan selanjutnya. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah, pada sebagian ayat 185 yang berbunyi:

Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu (Ramadan), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain (QS. Al-Baqarah: 185).

Lebih lanjut, bagi orang yang memiliki daya tahan tubuh yang kurang baik, memilih untuk tidak berpuasa adalah pilihan terbaik baginya, Bahkan, Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya berkata:

 “Bukanlah suatu kebaikan melaksanakan puasa ketika melaksanakan perjalanan”. (HR. Bukhari)

Sabda Rasulullah SAW tersebut sangat tepat jika diposisikan bagi mereka yang merasakan kepayahan yang bisa memberi pengaruh tidak baik bagi kesehatan tubuhnya. Karena sejatinya kebolehan untuk tidak melaksanakan puasa bagi seorang musafir merupakan rukhsoh yang dikaruniai Allah SWT, dan Allah SWT sangat senang jika rukhsoh-Nya dimanfaatkan sebagaimana jika (azimah) ketetapan-Nya dilaksanakan.

Baca Juga :  Apakah Parfume Cologne yang Biasa Kita Gunakan Najis?

Adapun petunjuk kedua dari baginda Rasulullah SAW diperuntukkan bagi mereka yang tak merasakan kepayahan ketika harus berpuasa dalam perjalanan. kepada mereka, Rasulullah SAW mempersilahkan untuk tetap berpuasa tanpa harus mengambil fasilitas rukhsoh yang disediakan Allah SWT.

Hal ini terdeskripsikan dari dua riwayat yang berasal dari sahabat Anas bin Malik, dan Ibunda Aisyah RA.

Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata “kami pernah berada dalam perjalanan bersama Rasulullah SAW, ketika itu orang yang berpuasa tak mencela orang yang tidak berpuasa, dan (begitu pula sebaliknya), yang tidak berpuasa tidak mencela orang yang memilih tetap berpuasa (dalam perjalanan)” (HR. Bukhari)

Sedangkan bunda Aisyah RA meriwayatkan:

Artinya: bahwasannya Hamzah bin Amr al-Aslamiy berkata kepada Rasulullah SAW: “apakah aku (boleh) berpuasa dalam perjalanan? (Hamzah bin Amr adalah orang yang sering berpuasa). Rasulullah SAW menjawab: jika kamu mau, berpuasalah! Dan, jika kamu mau berbukalah! (HR. Bukhari)

Dari dua riwayat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwasannya bagi mereka yang tak merasakan kepayahan dalam melaksanakan perjalanan, Rasulullah SAW mempersilahkan untuk tetap berpuasa, bahkan menurut imam Abu Hanifah, Imam Malik, serta Imam Syafi’I, berpuasa itu lebih utama bagi mereka yang tak merasakan kepayahan dalam perjalanannya.

Dengan kedua petunjuk dari Rasulullah SAW tersebut, sejatinya kaum muslimin bisa memilih salah satu opsi sesuai dengan keadaan fisiknya. Jika ia orang yang lemah secara daya tahan tubuh, maka ia dipersilahkan untuk tidak berpuasa dengan mengambil rukhsoh dari kepayahan dalam perjalanan (masyaqqoh al-safar), sedangkan, bagi mereka yang tidak merasakan kepayahan dalam perjalanan Rasulullah SAW mempersilahkannya untuk tetap berpuasa dalam perjalanan, sebagaimana Rasulullah SAW mempersilahkan berbuka bagi yang merasakan kepayahan dalam perjalanan-Nya. Wallahu ‘Alam Bisshowab.

Baca Juga :  Islam Menentang Rasisme dan Diskriminasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here