Petaka Bagi Pencari Popularitas Lewat Agama

0
378

BincangSyariah.Com – Mungkin hidup terkeal, dipuji banyak orang, dan selalu menjadi sorotan publik sekilas begitu mengagumkan. Banyak orang mencari berbagai cara, bahkan tak jarang berebut panggung ketenaran hanya untuk mendapatkan popularitas semata. Entah agar dikenal sebagai seorang politikus, aktivis, artis, atau bahkan tokoh agama.

Realita tersebut cukup berbeda dengan kebiasaan ulama salaf yang terbiasa untuk menyembunyikan kehebatan dirinya dan tertanam dalam dirinya agar tidak perlu mencari sebuah ketenaran. Menurut mereka, agama hadir untuk menentramkan. Bukan saling menjatuhkan hanya sebuah pencarian popularitas.

Banyaknya fenomena orang-orang yang mencari popularitas lewat agama mengharuskan kita merenungkan sebuah  mutiara indah dari Bisy Al Hafi. Beliau berkata  dalam Tahzib Al Hilyah

            لا يعرف رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه وافتضح

Tidaklah aku mengetahui ada orang yang mencari popularitas lewat agama kecuali agamanya itu akan rusak dan keaibannya akan terbongkar

Agama dan aibnya akan rusak dan terbongkar sebab ia menjadikan agama sebagai ajang pencarian popularitas semata. Sebuah petaka yang sejatinya adalah hal yang sangat tidak diinginkan oleh para pencari popularitas. Menurut Al Ghazali, sikap orang yang suka mencari popularitas itu merupakan hal tercela. Namun jika popularitas tersebut merupakan karunia Allah tanpa dicari-cari, maka itu bukanlah hal tercela.

Semakin populer hidupnya, maka beban di hatinya semakin bertambah. Sehingga tidak mustahil jika ia akan mengikis sebuah keikhlasan dalam dirinya. Hidup yang asyik dalam popularitas itu sebenarnya patut diwaspadai oleh siapapun. Terlebih kalangan pelajar atau influencer yang sering membawakan doktrin-doktrin agama. Sebab godaan popularitas itu bisa meninabobokan siapapun, dengan motif apapun.

Kesuksesan sebuah agama bukanla dilihat dari banyaknya pengikut. Jika tolak ukurnya adalah keberhasilan dalam segi jumlah, maka nabi yang hanya punya pengikut satu orang atau tidak punya pengikut sama sekali bisa dibilang dakwahnya gagal. Begitupun dengan seseorang yang ingin membawakan ajaran agama atau isu-isu terbaru terkait agama, alangkah baiknya jika hatinya diatur sedemikan baik. Hingga tak ada celah sedikutpun untuk mengikiskan rasa ikhlas dalam berdakwah dan mucullah keinginan untuk mendapatkan sebuah popularitas yang tinggi.

Baca Juga :  Alangkah Lucunya Ulama Medsos

Mengapa popularitas itu terlihat sangat menggoda? Bukankah jumlah yang banyak dan kata-kata yang banyak dalam syariat mayoritasnya kurang baik. Jika kita mengikuti kebanyakan manusia  maka kita sendiri yang bisa “terpleset”. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan tidaklah kebanyakan manusia itu beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here