Pesan Lebaran: Bukan Pakaian yang Allah Pandang, Melainkan Hati dan Perbuatan

0
933

BincangSyariah.Com-Berbelanja pakaian untuk dikenakan pada momen Lebaran sudah menjadi tradisi yang mengakar bagi masyarakat Muslim global, tak terkecuali bagi kita, umat muslim yang hidup di Indonesia. Tak pelak, pasar-pasar dan toko-toko pakaian selalu ramai pengunjung, terutama mendekati hari H.

Lazimnya sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging, hal semacam ini seringkali sudah dianggap final, tak perlu lagi didiskusikan. Tetapi tahun ini, saat di mana setiap orang seharusnya menjauhi kerumunan guna menekan penyebaran dan penularan Covid-19, kebiasaan yang telah lama berlangsung tersebut mulai menuai kritik, dianggap abnormal, tidak wajar, bahkan tak sedikit yang menganggap kurang ajar.

Mari kita rujuk sebuah sabda nabi yang barangkali sudah sering kita dengar berikut.

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sungguh Allah tidak memandang penampilan dan harta kalian, melainkan Dia memandang hati dan amal kalian.” (HR. Muslim dan Ibn Majah)

Sepintas, hadis ini nampak berdimensi spiritual-vertikal. Sebab menginformasikan tentang pandangan Allah, bahwa yang menjadi fokus penilian Allah terhadap hamba-hamba-Nya bukanlah perkara yang bersifat materiil, melainkan yang lebih substansial, dalam hal ini adalah hati (niat) dan aksi konkret.

Akan tetapi sebagaimana ajaran Islam pada umumnya yang tidak hanya mencukupkan pada aspek spiritual saja, hadis di atas juga berimplikasi sosial-horizontal. Dengan kalimat lain, tatkala memahami bahwa yang menjadi fokus penilaian Allah bukanlah hal-hal bersifat materiil, pada saat yang bersamaan mestinya juga tumbuh kesadaran untuk mengalihkan fokus kita kepada yang hal-hal lebih hakiki nan substansial. Di antara bentuk konkretnya adalah dengan tidak gampang terpukau atau mencela “kemasan”. Di samping itu, realitas yang kita jumpai sehari-hari juga telah memberi banyak pelajaran, betapa tidak semua “kemasan” mencerminkan “isi”.

Dengan demikian, bukan kebetulan, jika dalam “Shahih Muslim” sendiri, Imam Muslim mengkodifikasi hadis ini di dalam bab “Tahrim Dhulm al-Muslim wa Khadzlih wa Ihtiqaarih wa Damih wa ‘Irdlih wa Malih” (keharaman menzalimi dan menelantarkan orang muslim, serta keharaman merendahkan pribadi, darah, harga diri dan hartanya).

Sembari mengutip hadis ini, al-Mundziri dalam Syarh al-Targhiib wa al-Tarhiib, berujar

لقد علمنا النبي صلى الله عليه وسلم أن قدر الإيمان ليس بالمظاهر ولا الألوان وإنما هو بقوة الإيمان ومحبة الله ودينه

“Nabi Muhammad Saw. benar-benar telah mengajarkan pada kita bahwa kadar keimanan bukan terletak pada hal-hal yang tampak, juga bukan pada warna kulit. Melainkan pada kuatnya keimanan dan kecintaan pada Allah dan agama-Nya.” (al-Mundziri, Syarh al-Targhiib wa al-Tarhiib, juz 1, h. 51).

Hadis ini pun selaras dengan firman Allah perihal hamba yang paling mulia di sisi-Nya dalam QS. Al-Hujurat ayat 13,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.”

Sebab itulah beberapa mufassir besar seperti al-Baghawi, Ibnu Katsir, dan al-Alusi mengutip hadis ini untuk memberi penekanan pada ayat tersebut.

Hadis ini relevan untuk kembali dikaji terutama mengingat animo masyarakat terhadap pakaian lebaran, bahkan di tengah-tengah pandemi seperti saat sekarang, tampak sangat berlebihan. Di sinilah siginifikansinya, para pemuka agama seharusnya gencar mengampanyekan hadis-hadis bermuatan senada, agar umat tidak terjerumus ke dalam jurang konsumerisme yang belakangan tak jarang justru dikemas dengan simbol-simbol agama. Alih-alih menjadi bagian dalam mempersuasi umat untuk berlomba-lomba mendandani fisik, sementara itu alpa dan abai terhadap hal-hal yang substansial.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here