Pesan dari Sabda Nabi tentang Menjenguk Orang Sakit

0
53

BincangSyariah.Com – Diantara kesunahan saat menjenguk orang sakit adalah kita mendoakan yang baik agar seseorang diberikan kesabaran dengan sakitnya, dan keyakinan bahwa sakitnya adalah hanya sedikit dari sekian kasih sayang Allah. Berikut ini sabda Nabi tentang menjenguk orang sakit dari kalangan arab Badui di masanya,

أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ دَخَلَ علَى أعْرابِيٍّ يَعُودُهُ، قالَ: وكانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا دَخَلَ علَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ فقالَ له: لا بَأْسَ، طَهُورٌ إنْ شاءَ اللَّهُ قالَ: قُلْتَ: طَهُورٌ؟ كَلّا، بَلْ هي حُمَّى تَفُورُ، أوْ تَثُورُ، علَى شيخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ القُبُورَ، فقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: فَنَعَمْ إذًا.

Bahwasanya Nabi Saw. pernah menjenguk seorang Arab badui. (Abdullah bin Abbas) berkata: Beliau kalau mendatangi orang sakit, mengatakan: Laa Ba’sa Thahuurun In Syaa’a Allah (Tidak apa-apa, penyuci insya Allah). Orang Arab badui tadi mengatakan: “Penyuci bagaimana !? Tidak-tidak, itu penyakit panas tinggi yang menimpa kakek tua, yang akan kalian datangi kuburnya (sebentar lagi)!” Nabi Saw. lalu menjawab: “Oh, Ya benar kalau begitu.”

Dalam hadis ini, Nabi Saw. mengajarkan sebuah akhlak tentang pentingnya seorang yang menjenguk orang yang sedang sakit, atau mengetahui kabar orang yang sakit, untuk mendoakan yang baik. Memberikan optimisme. Dan tidak memberikan ungkapan-ungakapan yang buruk. Nabi Saw. dalam hadis tersebut, bahkan menggunakan redaksi Laa ba’sa , thohuurun in syaa Allah (tidak apa-apa, jadi penyuci dari dosa insya Allah). Ini sesuai dengan sabda Nabi Saw.

ما أصاب المسلم من هم ولا غمٍ ولا نصبٍ ولا وصب ولا أذى حتى الشوكة إلا كفّر الله بها من خطاياه

apa yang menimpa seorang muslim berupa rasa gundah, gulana, musibah, kesakitan bahkan karena tertusuk duri adalah ampunan Allah atas segala dosa-dosanya (H.R. Muslim).

Namun, dalam kisah Rasulullah Saw. bersama orang badui tersebut, ia malah menegaskan kalau sakit tersebut sudah parah dan mengingkari jawaban Nabi Saw. Dalam hadis tersebut, Nabi Saw. tergambar menegaskan balik bahwa apa yang orang Arab badui itu katakan, akan terjadi kelak. Bukan karena Nabi Saw. mendoakan buruk, tapi orang Arab badui tersebut menolak rahmat Allah itu sendiri.

Baca Juga :  Hukum Wakaf dan Hibah Manfaat Asuransi

Tapi prinsipnya, dan ini sesuai sekali dengan etika berhadapan dengan orang sakit, yaitu memberikan dukungan dan support bahwa orang yang sakit, selama Allah masih takdirkan baik, ia akan diberikan kesembuhan. Sakit hanyalah diantara sedikit takdir Allah Saw. untuk menyayangi hamba-Nya.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here