Pertikaian Antar Penguasa di Era Andalusia: Kasus Sevilla dan Badajoz

0
48

BincangSyariah.Com – Semenjak terbentuknya Muluk at-Thawaif (kelompok-kelompok dinasti) di Andalusia pasca berakhirnya Dinasti Umayyah II, perpecahan umat muslim semakin kentara. Semua disebabkan ambisinya masing-masing untuk menjadi yang paling berkuasa dan paling kuat. Bahkan masing-masing dari mereka meminta bantuan kepada kerajaan Kristen dan mau membayar pajak kepada mereka meski berada di tanah kekuasaannya sendiri. Fenomena tersebut justru malah melemahkan dan merendahkan kedudukan kaum muslim, hingga akhirnya Muluk at-Thowaif benar-benar runtuh dan diganti oleh Dinasti al-Murabithun. Pertempuran antar dinasti Islam di masa itu terus berkecamuk. Salah satunya ialah pertikaian antara Dinasti Sevilla dan Badajoz.

Saat itu Dinasti Sevilla dipimpin oleh al-Qadhi Abi al-Qasim bin Abbad atau masyhur dengan panggilan Ibnu Abbad dan Badajoz dipimpin oleh Abdullah bin Maslamah al-Afthos yang masyhur dengan panggilan al-Afthos. Masing-masing dari keduanya berambisi memperluas wilayah kekuasannya. Serangan militer dimulai oleh pasukan tentara milik Ibnu Ibad kepada pasukan al-Afthos di wilayah Baja, daerah yang sedang mereka perebutkan. Masing-masing dari keduanya meminta bantuan kepada suku Barbar untuk melancarkan misi perebutan wilayah tersebut.

Ibnu Abbad mempunyai hubungan bilateral dengan Muhammad al-Barzali, penguasa Cormona. Pada mulanya hubungan berjalan baik dan saling menguntungkan. Kerjasama yang mereka lakukan adalah saling membantu dalam mewujudkan ambisi kekuasaan. Al-Barzali meminta bantuan kepada Ibnu Abbad untuk membunuh Ibnu Hamud at-Thomi’ yang menjabat di pemerintahannya, sedangkan Ibnu Abbad memnta tolong untuk  membantunya dalam perebutan wilayah Baja. Ibnu Abbad mengutus al-Muzoffar, putra Ibnu Abbad bersama utusan al-Barzali menuju Baja. Namun ternyata utusan dari al-Afthos jauh lebih cepat sampai di Baja. Ibnu Abbad bergerak cepat, ia mengutus Ismail, putranya  yang lain untuk melakukan pengepungan di Baja dan mengorbankan banyak pasukan al-Afthos. Sebagian dari mereka wafat, sebagian lainnya ditahan, termasuk al-Afthos. Pertempuran ini berlangsung sangat mengerikan,

Baca Juga :  Ulama Berpengaruh di Era Bani Hud dan Akhir Kekuasaannya di Zaragoza

Sedikit demi sedikit pertempuran ini mereda. Empat tahun kemudian Ibnu Abbad mengutus Ismail bersama tentaranya dan memasuki jalur utara. Akan tetapi tentara al-Afthos mengetahui gerakan ini dan langsung mencegatnya. Banyak dari pasukan Ibnu Abbad yang terbunuh, tetapi Ismail bin Ibad berhasil melarikan diri. Pada tahun 1042 M Ibnu Abbad wafat dan kepemimpinan digantikan oleh putranya, al-Mu’tadhid Billah. Begitu juga dengan al-Afthos yang wafat tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1045 M dan digantikan oleh Muhammad al-Muzhoffar.

Pertempuran antara kedua pemimpin Sevilla dan Badajoz kembali terjadi demi merebut tanah Labla dari kepemimpinan Ibn Yahya. Padahal sebelumnya Ibn Yahya memohon bantuan kepada al-Mudhzoffar yang tidak mampu melawan tentara Sevilla. Tetapi momentum tersebut justru dimanfaatkan oleh al-Muzhoffar untuk merebut tanah Labla. Pengkhianatan terjadi demi mewujudkan ambisinya. Meski telah digantikan oleh masing-masing putranya, pertikaian antara penguasa Sevilla dan Badajoz itu justru makin memanas. Ambisi untuk memiliki wilayah kekuasaan paling luas tidak berhenti.

Peperangan demi peperangan terus terjadi sampai akhirnya, Abu al-Walid bin Juhur datang untuk meredam keduanya pada tahun 1051 M. Berhentilah keduanya dari pertempuran yang bermula dari masing-masing ayahandanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here