BincangSyariah.Com – Ada banyak cerita unik dari presiden Republik Indonesia ke empat kita. Selain karena dikenal sebagai ulama kontroversial beliau juga memiliki kisah-kisah unik semasa mudanya, khususnya ketika belajar di Timur Tengah. Mulai dari cerita pindah-pindah kampus sampai pada akhirnya tidak selesai di Al Azhar. Ketidak lulusan beliau dari Al Azhar bukan karena beliau tidak mampu atau bodoh, tapi memang rasa ketertarikan beliau kepada ilmu mengantarkan beliau pada perjalanan dari satu negara ke negara lain dan dari satu kampus ke kampus lainnya.

Mungkin sudah banyak yang menulis tentang Bapak, Kiai, Guru Bangsa atau apalah istilahnya, mungkin filmnya pun bisa jadi tidak akan lama akan muncul. Hal ini karena memang ada banyak hal yang harus kita pelajari dari beliau. Walau demikian tulisan ini mudah-mudahan bisa memberi informasi dan semangat baru bagi kita generasi bangsa, khususnya pelajar.

Diceritakan dalam buku “Cerita Dari Maroko” tulisan murid K.H. Abdur Rahman Wahid sendiri yaitu K.H. Ali Mustafa Yaqub. Ketika kuliah, Gus Dur pernah berkunjung ke daerah Fes, Maroko. Di sana terdapat kampus dengan nama al-Qarawiyyin yang didirikan oleh putera Maulaya Idris. Seorang putra kelahiran Irak yang melarikan diri karena ingin dibunuh oleh penguasa dari Dinasti Abbasiah saat itu. Kampus ini berdiri sebelum tahun 213 H.

Sebagai kampus, tentunya ia memiliki perpustakaan. Diceritakan bahwa dulu Gus Dur pernah menangis di perpustakaan tersebut. Perpustakaan al-Qarawiyyin ini memang terletak cukup terpencil. Untuk sampai ke perpustakaan ini harus melewati pasar tradisional dan jalan yang sempit.

Sebagai sebuah perpustakaan, uniknya di sini tidak disebut “maktabah” sebagaimana lazimnya perpustakaan di negara Arab lainnya, tapi ia disebut dengan khazanah al-kutub (penyimpanan buku), mirip dengan istilah yang perpustakaan milik Buya HAMKA di Agam dalam bahasa Persia Kutub Khaneh.

Baca Juga :  Tips agar Selalu Bersyukur pada Allah Swt

Memang tidak diceritakan apa yang menjadi penyebab Gus Dur menangis saat itu. Tapi pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini memperlihatkan bahwa beliau sangat menghayati apa yang ada disekitarnya, apakah itu buku yang beliau baca atau kondisi yang beliau lihat. Beliau tidak dalam melihat sesuatu tidak hanya sampai pada mata atau pikiran, tapi sampai pada hati dan perasaan. Artinya kita sebagai generasi harus mampu membaca keadaan dengan hati nurani tidak hanya memikirkan secara rasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here