Pernikahan Nabi Muhammad dengan Khadijah

1
3534

BincangSyariah.Com – Setelah Muhammad dan Maisarah kembali ke Makkah, Khadijah melihat hasil penjualannya mendapat laba yang sangat besar. Maka, ia mulai tertarik dengan Muhammad. Lalu Khadijah mengirimkan utusan untuk menyatakan kesediaan dirinya menjadi pendamping hidup Muhammad.

Khadijah pada saat itu berumur empat puluh tahun dan termasuk orang yang mempunyai kedudukan di kalangan kaum Quraisy dan paling banyak hartanya. Muhammad beserta paman-pamannya segera menemui paman Khadijah; ‘Amr bin Asad dan mengajukan lamaran untuk mempersunting Khadijah melalui pamannya yang bernama Abu Thalib.

Paman Khadijah pun menikahkan keponakannya itu dengan Muhammad yang pada waktu itu berumur dua puluh lima tahun. Pada hari itu, Abu Thalib mengucapkan kutbahnya yang terkenal sebagaimana berikut.

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai anak cucu Ibrahim; keturunan Ismail berasal dari Ma’ad, dan lahir dari kalangan Mudhar. Dia telah menjadikan kita sebagai pengurus Bait-Nya (Ka’bah) dan pelindung tanah sucinya. Dan dia telah menjadikan untuk kita Ka’bah yang diziarahi dan tanah suci yang aman, serta Dia pulalah yang menjadikan kita sebagai pemimpin manusia.

Kemudian sesungguhnya keponakanku ini, Muhammad ibn Abdillah tiada seorang pun yang dapat mengimbanginya dalam hal kehormatan, kemuliaan, dan keutamaannya. Bila dalam hal harta benda, tidak banyak yang dimilikinya, maka sesungguhnya harta itu adalah bayangan yang pasti lenyap karena ia merupakan penghambat dan pinjaman yang pasti dikembalikan.

Dia, demi Allah, sesudah peristiwa ini memiliki berita yang besar dan kedudukan yang agung. Dan dia telah datang kepada kalian untuk melamar putri kalian; Khadijah, dan dia telah memberikan maskawin untuknya sebanyak demikian itu.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah satu maskawinnya adalah 20 unta betina dan empat puluh ekor kambing. Setelah itu dilangsungkanlah akad nikah di antara keduanya. Khadijah sebelum itu pernah nikah dengan Abu Halah, lalu Abu Halah meninggal dunia dan mereka dikaruniai seorang putri bernama Halah. Setelah itu, Halah menjadi anak tiri Muhammad.

Baca Juga :  Masa Terputusnya Wahyu

Diolah dari kitab Nurul Yaqin Fii Siirati Sayyidil Mursaliin karya Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here