Pernikahan dan Malam Pertama Shafiyyah binti Huyay dengan Rasulullah Saw.

1
1708

BincangSyariah.Com – Dikisahkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik, bahwa ketika kaum muslimin menaklukkan kaum Yahudi Khaibar, para tawanan kemudian dikumpulkan. Lalu Dihyah al-Kalbi datang seraya berkata “wahai Rasulullah, berikanlah aku seorang wanita dari tawanan itu!”. Rasulullah Saw. menjawab “pergi dan bawalah seorang wanita dari tawanan itu!”. Dihyah lantas mengambil Shafiyyah bintu Huyay.

Tiba-tiba datang seseorang kepada Rasulullah Saw. lalu berkata: “wahai Rasulullah, engkau telah memberikan Shafiyyah bintu Huyay kepada Dihyah. Padahal, dia adalah wanita yang terhormat dari Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Dia tidak layak kecuali untuk engkau.”

Rasulullah Saw. lalu bersabda: “panggillah Dihyah dan wanita itu.” Ketika Rasulullah Saw. meilhat Shafiyyah, beliau menyuruh Dihyah untuk memilih tawanan lain selain Shafiyyah. Rasulullah Saw. kemudian memerdekakan Shafiyyah dan menikahinya ketika Shafiyyah telah suci atau ketika masa iddahnya telah habis. Tsabit bertanya kepada Anas bin Malik, “apa yang menjadi maharnya?”, Anas menjawab “maharnya adalah kemerdekaan wanita itu. Beliau memerdekakan dan menikahinya.”. Sebelum menikahi Shafiyyah, Rasulullah Saw. memberikan pilihan kepada Shafiyyah untuk dibebaskan dan dikembalikan kepada kaumnya atau memilih Islam dan menikah dengan Rasulullah Saw. Shafiyyah lebih memilih Islam dan menjadi istri Rasulullah Saw.

Dalam suatu riwayat dikatakan, bahwa Rasulullah Saw. bertanya kepada Shafiyyah, “maukah engkau menjadi istriku?” Shafiyyah pun menjawab, “wahai Rasulullah, aku telah mengharapkan hal tersebut saat aku masih berada dalam kemusyrikan, maka bagaimana mungkin aku menolaknya saat Allah berikan aku kesempatan untuk hal tersebut dalam keadaan Islam?”.

Setelah menikahi Shafiyyah, Rasulullah Saw. menanti sampai Khaibar kembali tenang. Setelah beliau memperkirakan rasa takut telah hilang pada diri Shafiyyah, Rasulullah Saw. mengajaknya pergi ke Tabbar, sebuah tempat yang berjarak enam mil dari Khaibar. Rasulullah Saw. menginginkan Shafiyyah pada saat itu, namun Shafiyyah menolak keinginan Rasulullah Saw. yang tentu saja membuat Rasulullah Saw. gusar dan kecewa atas penolakan istri yang baru dinikahinya itu.

Baca Juga :  Bukti Cinta Shafiyyah terhadap Rasulullah 

Malam Pertama Shafiyyah binti Huyay dengan Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama pasukan Islam. ketika mereka sampai di Shabba’, sebuah tempat yang jauh dari Khaibar, mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah, timbul keinginan pada diri Rasulullah Saw. untuk merayakan pesta pernikahan.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik, dikisahkan bahwa sebelum Rasulullah Saw. merayakan pesta pernikahannya dengan Shafiyyah, Rasulullah Saw. menyiapkan kain yang terbuat dari kulit untuk kemudian dibentangkan. Rasulullah Saw. menyuruh Anas bin Malik untuk memanggil orang-orang yang berada di sekitar beliau. Beliau juga meminta Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik untuk menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian padanya, karena kelihaian Ummu Sulaim dalam merias. Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa dia belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan lebih cantik dari ummul mukminin, Shafiyyah bintu Huyay.

Setelah semua persiapan selesai, diadakanlah pesta pernikahan. Seluruh pasukan Muslim memakan lezatnya kurma, mentega dan keju hingga kenyang. Rasulullah Saw. masuk ke kamar Shafiyyah. Beliau masih terbayang penolakan Shafiyyah terhadap ajakan Rasulullah Saw. pertama kali ketika di Tabbar. Pada saat kedua kalinya ini, Shafiyyah menerima ajakan Rasulullah Saw. untuk menjalani lailatul zafaf (malam pertama) mereka di kamar pengantin

Saat pernikahan itu, Ummu Sulaim berkata, “aku termasuk di antara yang hadir pada saat Rasulullah Saw. menikahi Shafiyyah. Kami menyisiri dan memberinya wewangian. Seorang gadis mengumpulkan beberapa perhiasan yang dipunyai oleh para wanita. Tidak ada aroma yang lebih wangi dari yang ada pada malam itu. Rasulullah Saw. datang kepada Shafiyyah. Dia berdiri menyambut kedatangan Rasulullah Saw. Sebelumnya, kami sudah memberitahukan Shafiyyah agar berbuat seperti itu. Lalu, kami pun meninggalkan mereka. Rasulullah Saw. menikahi Shafiyyah di sana dan menghabiskan malam bersamanya.”

Ketika Rasulullah Saw. menemui Shafiyyah, beliau melihat bekas memar biru di wajahnya. Rasulullah Saw. pun menanyakan asal usul luka memar di wajahnya itu. Shafiyyah pun berkisah tentang penyebab bekas memarnya itu. Dengan penuh kelembutan, ia bercerita bahwa saat menjalani malam pengantinnya dengan Kinanah bin Al-Rabi’, suami keduanya, ia bermimpi melihat bulan purnama jatuh ke kamarnya. Ketika terbangun, ia menceritakan mimpinya kepada suaminya. Namun, Kinanah menjadi sangat murka mendengar mimpi tersebut, ia lalu menampar wajah Shafiyyah dengan kuat yang meninggalkan bekas di wajahnya. Kinanah berkata, “tidaklah kamu memimpikan hal tersebut kecuali karena kamu menginginkan raja Hijaz, Muhammad!”.

Rasulullah Saw. mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya, “mengapa engkau menolakku ketika kita menginap di malam yang pertama?”. Shafiyyah pun menjawab, “aku khawatir terhadap diri Rasulullah Saw., karena tempat itu masih dekat dengan perkampungan Yahudi.”

Jawaban tulus Shafiyyah itu semakin mengokohkan kedudukannya di mata Rasulullah Saw. yang saat itu telah resmi menjadi suaminya. Mendengar jawaban tersebut, lenyaplah kekecewaan Rasulullah Saw. karena penolakan Shafiyyah ketika di Tabbar. Rasulullah Saw. membantunya menghilangkan kesedihan hati istrinya atas musibah yang menimpanya. Rasulullah Saw. pun menjalani malam pertamanya bersama Shafiyyah di tenda peristirahatannya. Mereka berbincang sepanjang malam.

Baca Juga :  Hukum Mencabut Uban

Aminah binti Abi Qays Ghifariyah berkata, “aku adalah salah seorang wanita yang membawa Shafiyyah kepada Rasulullah Saw. Aku mendengar Shfaiyyah berkata bahwa dia belum berusia 17 tahun saat dia dinikahi oleh Rasulullah Saw.” Hal ini pun diperkuat dengan perkataan jumhur ulama hadis bahwa Rasulullah Saw. melewati malam pertamanya dengan Shafiyyah, saat istrinya itu berusia 17 tahun.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here