Pernah Melanggar Sumpah, Apa Amalan Untuk Menggantinya?

0
155

BincangSyariah.Com – Mengenai melanggar sumpah, Imam Syafi’i berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Namun ia dapat menjadi sunnah, wajib, mubah, bahkan haram tergantung pada kondisi dan keadaan yang melingkupinya. Bersumpah dalam kondisi yang mengarah pada kewajiban maka hukumnya adalah wajib. Sebaliknya, jika bersumpah dalam hal-hal yang jelas telah diharamkan oleh agama, maka hukumnya adalah haram. Jika seseorang melanggar sumpah tersebut, adakah konsekuensi hukumnya dalam Islam?

Bagi orang yang terlanjur bersumpah, maka ia dikenakan kewajiban melaksanakannya sebagaimana dituliskan dalam al-Quran Surat An-Nahl [16]: 91,

وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ وَلاَ تَنقُضُواْ الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl: 91)

Namun, bagaimana jika dia tidak mampu melaksanakan sumpah yang telah diucapkannya karena adanya halangan maupun keterbatasan?

Ada dua keadaan dimana ketika orang melanggar sumpah dia tidak wajib membayar kaffarah; Pertama, ketika dia terlupa maupun terpaksa. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw:

إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

“Sesungguhnya Allah menghapuskan (kesalahan) dari umatku, (yang dilakukan) karena tidak sengaja, lupa, atau terpaksa.” (HR. Ibn Majah)

Kedua, ketika ia bersumpah dan didahului oleh kalimat Insya Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

مَنْ حَلَفَ فَقَالَ : إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ

“Siapa yang bersumpah dan dia mengucapkan: InsyaaAllah, maka dia tidak dianggap melanggar.” (HR. Ahmad, Turmudzi, Ibn Hibban)

Namun, jika tidak termasuk dalam kategori keduanya, kita diwajibkan membayar kafarat sumpah sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an Surat al-Ma’idah [5]: 89 yang berbunyi:

Baca Juga :  Macam-macam Bentuk Rezeki

اَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur.”(QS. Al-Maidah: 89 )

Dari ayat ini, al-Qur’an memberikan beberapa alternatif yang bisa dipilih ketika kita tidak mampu melaksanakan sumpah yang terlanjur kita ucapkan:

  1. Memerdekakan budak perempuan yang mukminah. Karena pada zaman sekarang sudah tidak ada lagi perbudakan, maka poin ini, secara otomatis sudah tidak mungkin lagi dilakukan untuk kondisi saat ini.
  2. Memberi makan sepuluh orang miskin. Setiap orang berhak mendapat satu Mud beras. Satu mud sama dengan ¾ liter.
  3. Memberikan pakaian kepada seuluh orang miskin. Satu orang diberi satu pakaian. Pakaian tersebut bisa berupa baju, celana, ataupun jilbab bagi perempuan.
  4. Jika ketiga alternative di atas juga tidak mampu dilaksanakan, maka kafaratnya adalah berpuasa selama tiga hari berturut-turut yang diniatkan untuk menggugurkan sumpah.

Wallahu A’lam bis Shawab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here