Permintaan Belum Disebut Doa Sebelum Memenuhi Dua Syarat Ini

0
32

BincangSyariah.Com – Seseorang berkeluh kesah kepada Ibnu Athaillah. “Aku telah bersusah payah berdoa, aku telah memohon kebutuhan dunia ku kepada Allah serta memercayai janji-Nya. Namun hingga detik ini, doa saya kok belum juga dikabulkan”.

Ibnu Athaillah menjawab, “Terlambat datangnya pemberian meski sudah dimohonkan berkali – kali, janganlah membuatmu menyerah. Dia telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan  atas apa yang kamu pilihkan sendiri. Dan juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan dalam waktu yang kamu kehendaki”.

Syekh Ramadhan Al Buthi mensyarah hikmah ini dalam bukunya Hikam ‘Athaiyyah Syarh wa Tahlil. Menurutnya, Allah telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Artinya, bukan asal permintaan  melainkan doa. Al Buthi memaparkan banyak orang yang meminta agar permintaannya diijabah namun sebenarnya dia tidak berdoa sehingga permintaannya tidak kunjung dikabulkan. (Baca: Cara Allah Mengabulkan Permintaan Hamba-Nya)

Lalu Al Buthi menjelaskan ada dua syarat utama doa. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi maka sesering apapun seseorang melafalkan permintaan, permintaan belum disebut doa yang telah Allah janjikan akan diijabah bila tidak memenuhi syarat tersebut.

Pertama, menghadirkan hati dan perasaan lalu mengarahkan keduanya hanya kepada Allah Swt. Artinya, saat berdoa hendaklah berdoa dengan khusyu, tidak sibuk memikirkan bisnis, jabatan atau hal duniawi lainnya.

Al Buthi mengisahkan, banyak orang yang bersemangat agar doanya dikabul, sehingga mereka mencari doa – doa tertentu yang jika berdoa dengannya maka permintaannya akan cepat dikabul. Seseorang kemudian mengikuti format doa yang ia temukan baik dari buku – buku bacaan, atau yang ia tanyakan kepada ulama dan para pencari ilmu.

Baca Juga :  Firasat dalam Hadis Nabi Menurut Ibnu Athaillah

Kemudian dihafalah doa tersebut. Dia mengulangnya berkali – kali, namun permintaannya belum juga terkabul. Karena tak kunjung diijabah, dia menyerah. Lalu mengeluh kepada Allah. “Saya berdoa dan Dia belum mengabulkan permintaan ku. Lalu, dimana posisi saya dari kebenaran janji Allah”.

Ini adalah sebuah kekeliruan. Pada dasarnya, apabila lisan hanya sekedar mengucap atau hanya sekedar menghafal kalimat – kalimat tertentu tapi pikirannya sibuk mengurusi hal lain, sebenarnya dia tidak berdoa. Sebab, dalam kondisi ini dia tidak menghadirkan hatinya di sana sehingga kehilangan syarat yang pertama.

Kedua, bertaubat. Sudah sepatutnya sebelum berdoa, seseorang harus bertaubat terlebih dahulu atas segala dosa yang pernah ia lakukan selama ini. Orang yang tiba – tiba meminta sesuatu tanpa meminta maaf terlebih dahulu padahal dia memiliki kesahalan yang begitu besar merupakan pribadi yang tidak punya adab.

Allah memerintahkan manusia untuk taat kepada-Nya, namun ia justru ingkar. Allah memintanya agar tidak bermaksiat, namun ia bermaksiat. Allah memerintahkannya agar segera bertaubat, namun dia tidak acuh dan masih saja meneruskan dosa – doanya. Lalu di waktu bersamaan dia tiba – tiba meminta agar Allah mengabulkan setiap permintaannya. Jelas, hal ini tidaklah logis.

Al Buthi kemudian memberikan gambaran, jika ada seorang bersikap buruk terhadap seseorang dan di waktu yang bersamaan dia meminta kepadanya agar mengabulkan permohonannya tanpa meminta maaf terlebih dahulu atas perlakuan buruk yang pernah ia lakukan sebelumnya, apakah permintaannya akan disetujui ? Tentu, tidak.

Dengan begitu, permintaan baru bisa beralih menjadi doa jika dua syarat terpenuhi yakni, pertama, hadirnya hati dan perasaan untuk bermunajat kepada Allah dengan penuh kesungguhan. Kedua, taubat nasuha, meminta maaf atas dosa – dosa dan kesalahannya dan menepati janji untuk tidak mengulanginya lagi.

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Beriman kepada Kitab-kitab Allah Swt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here