Perlukah Update Ibadah di Media Sosial?

0
273

BincangSyariah.Com – Kemajuan teknologi yang berkembang saat ini banyak menimbulkan hal yang beragam bahkan dapat memunculkan fenomena baru di masyarakat. Media sosial yang pada awalnya bertujuan untuk membantu seseorang berkomunikasi melintasi jarak dan ruang kini bergeser pada fungsi lain.

Saat ini media sosial menjadi salah satu ajang untuk mengekspresikan perasaan atau untuk menunjukan sesuatu kepada orang lain, hanya saja hal tersebut tak jarang dilakukan secara berlebih bahkan mengumbar urusan pribadi yang tidak seharusnya diperlihatkan.

Salah satunya adalah update perihal ibadah yang mulai menjamur di mana-mana. Salah satu jurnal psikologi menyebutkan bahwa salah satu alasan seseorang update di sosial media adalah kebutuhan untuk dikenal dan didengarkan. Begitupun dengan kebiasaan update ibadah, mungkin sebagian orang akan mengenal sosok yang sering update ibadah itu sebagai sosok ahli ibadah.

Namun ada juga sebagian orang yang memandangnya sebagai  ajang pamer dan riya.  Jika update perihal ibadah dilakukan hanya untuk menunjukkan dirinya yang baik, sebaiknya tidak dilakukan. Allah mengingatkan hamba-Nya agar tidak merasa dirinya itu suci atau baik. Dalam QS Al Najm ayat 32 disebutkan:

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu meganggap dirimu suci. Dia mengetahui orang yang bertakwa

Ayat tersebut mengingatkan bahwa cukuplah Allah yang mengerti segalanya, termasuk urusan ibadah. Tak bisa dipungkiri juga jika setan memiliki kesempatan untuk menyelip dalam hati seseorang yang update ibadah.

Jika awalnya berniat untuk sekedar mengingatkan saudara seagama untuk tidak lupa beribadah dalam update tersebut, bisa saja setan membelokkan niat baik tersebut. Hingga ujung-ujungnya adalah merasa dirinya lebih baik dari pada lainnya.

Baca Juga :  Latihan Menghilangkan Sepuluh Sifat Hewani dalam Diri Manusia Saat Puasa Ramadhan

Bukankah setan adalah musuh yang nyata bagi kita semua? Ia akan datang menyerang manusia yang berbuat baik lewat sisi kanan, kiri, atas, dan juga bawah. Dalam QS Al A’raf ayat 16-17 disebutkan:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ

 “Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. 

Namun jika update ibadah di sosial media diniatkan sebagai ajang mengungkapkan nikmat Allah (tahadatsan ni’mah), maka hal tersebut diperbolehkan. Bisa melakukan ibadah  memang merupakan anugerah Allah uang indah, sebab tak semua orang mampu melakukannya.

Boleh-boleh saja jika nikmat tersebut diupdate dan dijadikan sebagai ungkapan syukur. Namun yang perlu diketahui adalah tidak semua manusia mengerti jika itu tahadatsan ni’mah. Karena itu perlu juga mewaspadai orang-orang yang melihatnya dengan kacamata negatif, misalnya mereka yang berpenyakit hati dan menimbulkan iri dan kecemburuan.

Dengan demikian, update ibadah di sosial media tak selamanya bernilai pamer dan sombong. Tergantung bagaimana sang hati mengatur niatnya. Namun jika tidak menginginkan kemadharatan baik bagi diri kita maupun orang lain, alangkah baiknya jika update ibadah cukup di sajadah cinta saja, bukan di media sosial.

Belum cukupkah jika Allah yang mengerti segala ibadah yang dilakukan? Namun jika hati baiknya berniat untuk mengajak kebaikan dan mengingatkan orang lain untuk juga beribadah dengan update di sosial media, maka hal tersebut termasuk pada perilaku ama ma’ruf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here