Perlukah Pemerintah Mengatur Cara Berjilbab Aparatur Sipil Negara (ASN)?

0
390

BincangSyariah.Com – Jumat (14/12), Pemerintah lewat Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan Peraturan Menteri tentang peraturan cara berpakaian ASN (Aparatur Sipil Negara).  Peraturan itu berupa Instruksi Kemendagri No. 25 tahun 2018 tentang Tertib Penggunaan Pakaian Dinas dan Kerapihan di Lingkungan Kemendagri dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Salah satu aturan kemudian diperdebatkan oleh khalayak terutama di media sosial adalah aturan memasukan jilbab ke dalam kerah pakaian (tidak menjulur di atas baju). Aturan ini dianggap ini menghalangi sebagian muslimah yang ingin menjulurkan jilbab/hijabnya.

Aturan ini tidak berlaku lama, karena di hari yang sama Kemendagri mencabut aturan ini seperti dikutip dari beberapa media. Kemendagri memutuskan mencabut instruksi itu untuk mengikuti kehendak masyarakat. Meskipun, sebenarnya Kemendagri telah menegaskan dalam press release bahwa aturan itu hanya untuk lingkungan pegawai internal Kementerian Dalam Negeri, bukan diteruskan sampai tingkat dinas di Provinsi dan Kabupaten /Kota.

Tentang Batasan Aurat Perempuan di Luar Shalat

Sebenarnya, sudah sejak lama ulama berbeda pendapat tentang makna batasan aurat bagi perempuan terutama di luar shalat. Apa yang ditetapkan oleh Kemendagri untuk para ASN wanita berjilbab tersebut juga ada yang berpendapat sudah menutup aurat. Tanpa bermasuk untuk membela yang beranggapan itu tidak menutup aurat, tapi ada juga yang berpendapat sebaliknya. Memakai kerudung namun memasukannya ke dalam leher kerah baju, dianggap tidak menutup aurat.

Kalau dilihat, baik yang mendukung maupun menolak aturan ini, kira-kira sama mendasari pemikiran pada Alquran dan Hadis. Diantara dalil yang digunakan adalah surah Nur [33] : 59 ini,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

Baca Juga :  Jokowi dan Prabowo bisa Menjadi Sufi, Jika?

Wahai Nabi katakanlah kepada isrri-istri, anak-anakmu yang perempuan, dan wanita dari kalangan orang beriman agar menjulurkan jilbab pada diri mereka. Itu lebih bagian kalian wanita agar dikenal dan kalian tidak diganggu. Dan sungguh Allah adalah Yang Maha Pengampun.

Soal mengapa perempuan harus menutup aurat mereka, sudah ditulis dalam artikel dengan judul Ini Alasan Allah Perintahkan Perempuan Berjilbab. Allah memang memerintahkan wanita muslimah untuk menggunakan jilbab, tapi jilbab sendiri juga diperselisihkan maknanya oleh para ulama termasuk batasan aurat sendiri. Umumnya, para ulama berbeda pendapat apakah aurat bagi wanita itu seluruh tubuhnya atau seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tengan

Menggunakan kerudung dengan dimasukkan ke dalam leher tersebut mungkin dibayangkan oleh yang memprotesnya belum menutup aurat. Ini dikarenakan baju yang dikenakan wanita masih menunjukkan bentuk tubuhnya. Semisal, boleh jadi bagian dadanya masih terbentuk akibat model bajunya. Pendapat ini didasari oleh sebuah hadis riwayat Imam Muslim,

صَنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا :قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسُ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مَائِلَاتٌ مُمِيْلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبَخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لِيُوْجَدَ مِنْ مَسِيْرَةٍ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari umatku yang belum pernah aku lihat: (1) suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang-orang dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring (seperti benjolan). Mereka itu tidak masuk surga dan tidak akan mencium wanginya, walaupun wanginya surga tercium sejauh jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Pertanyaannya yang muncul adalah apakah menggunakan kerudung dengan cara dimasukkan ke dalam leher, dengan baju yang umumnya tertutup digolongkan sebagai kāsiyāt ‘āriyāt (berpakaian tapi telanjang)? Saya kira keduanya adalah perbedaan yang lumrah dikenal dalam khazanah penafsiran dalil Alquran dan Hadis.

Baca Juga :  Vladimir Putin Kutip Surat Ali Imran Ayat 103 saat Serukan Perdamaian di Yaman

Lebih jauh, siapa yang tahu kalau ASN wanita itu melenggak-lenggok untuk menarik perhatian lawan jenis? Yang perlu kita sadari juga, jika bercermin kepada sebab turunnya ayat al-Nur [33]: 59, dahulu kerudung sebagai pembeda antara wanita merdeka dengan budak. Terakhir, ada hukum di Indonesia dimana pelecehan seksual terhadap siapapun dalam dihukumi pidana.

Hemat penulis, ketetapan model pakaian ASN yang berjilbab oleh Pemerintah sebenarnya tidak ada yang melanggar syariat Islam. Namun, penetapannya sebagai aturan tunggal justru menyebabkan permasalahan baru karena ada yang berpendapat kalau model berjilbab demikian belum menutup aurat. Meresmikan satu pandangan keagamaan ini justru tidak mengakui pandangan keagamaan lain.

Lebih jauh, sebenarnya pemerintah tidak perlu terlalu jauh mengatur teknis berkerudung ASN tersebut karena memang tidak benar-benar dibutuhkan dan berhubungan langsung dengan kualitas pelayanan publik. Ini berbeda dengan persoalan seragam yang memang menjadi penanda seorang ASN bekerja di institusi/lembaga negara tertentu. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here