Gunung Besar Perjalanan Menuju Allah Dapat Dilalui Apabila Dapat Mengalahkan Hal Ini

0
1196

BincangSyariah.Com – Kita sering mendengar, membaca dan membenarkan jika shalat, hidup, dan mati kita hanyalah untuk Allah semata. Namun sudahkah kita menyerahkan diri sepenuhnya menuju Allah? Dengan kehidupan yang serba modern ini kita sering kali sibuk dengan urusan masing-masing. Kesibukan yang kadang membuat kita terlena dan tak terasa memalingkan tujuan hidup kita yang mulia. Saat-saat kita sering berpaling dari-Nya, saat itulah nafsu sedang menguasai diri kita.

Tak heran jika disebutkan bahwa gunung terbesar yang memisahkan antara kita dan allah adalah nafsu. Dalam kitab Shalahul Ummah fi Uluwwil Himmah karya Dr Said bin Hussein al Afaaniy disebutkan:

فالنفس جبل عظيم شاق في طريق السير الى الله عز وجل وكل سائر لا طريق إلا على ذالك الجبل فلا بد أن ينتهي إليه ولكن منهم من هو سهل عليه وإنه ليسير على من يسره الله عليه

Nafsu adalah gunung besar yang sulit dilalui dalam perjalanan menuju Allah. Tak ada jalan lain kecuali melewati gunung itu. Setiap orang yang menuju Allah pasti menemuinya. Ada yang melewatinya dengan susah payah, tapi ada juga yang dimudahkan oleh Allah sehingga pendakian itu terasa mudah dan menyenangkan

Nafsu yang menjembatani kita dengan Allah memang tidak bisa didustakan. Ia hadir dalam kondisi apapun, bahkan bisa menjelma apapun dari kanan, kiri, depan atau belakang kita. namun kita harus melewati kehadiran nafsu tersebut sebagai bentuk perlawanan. Perlawanan disinilah yang kadarnya berbeda tiap orang, ada yang maksimal dan ada juga yang belum maksimal. Tak heran jika perjalanan tiap orang menuju Allah pun berbeda-beda. (Menyembelih Sifat Hewani dalam Diri Kita)

Namun yang perlu diketahui bersama adalah manusia akan bahagia jika ia bisa menguasi nafsu dalam dirinya, bukan dirinya yang dikuasi oleh nafsu. Jika kita bisa menguasai nafsu, maka tentu kita bisa memegang kuasa penuh atas setiap jebakan dan godaan yang menjerumuskan dan membelokkan tujuan kita menuju perjalanan Allah. Sehingga perjalanan menuju Allah pun kita yang menyetir sendiri. Berbeda dengan seseorang yang tidak bisa menguasai nafsu dalam dirinya, alias ia dikuasai oleh nafsu, tentu ia akan terjerat oleh beberapa kenikmatan yang tidak hakiki yang sebenarnya itu hanyalah iklan duniawi.

Baca Juga :  Latihan Menghilangkan Sepuluh Sifat Hewani dalam Diri Manusia Saat Puasa Ramadhan

Potret kehidupan yang seperti itu sempat ditulis Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin:

السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَالشَّــقَــاوَةُ فِي أَنْ تَمْـلِـكَـــهُ نَفْـسُــــهُ

Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuiasai nafsunya

Dengan demikian, nafsu yang merupakan gunung terbesar manusia yang menghalangi perjalanan menuju Allah  itu harus dibawah kendali kita. Bukan kita yang dikuasai olehnya. Sebab kebahagian kita adalah disaat kita mampu menguasai nafsu, sedangkan kesengsaraan kita adalah manakala kita dikuasai oleh nafsu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here