Perjalanan Menggunakan Pesawat, Bolehkah Tidak Puasa Ramadan?

2
971

BincangSyariah.Com – Salah satu uzur puasa Ramadan adalah perjalanan (bepergian). Hal ini disebutkan dalam al-Qur’an al-Baqarah (2): 184-185 dan beberapa hadis sahih. Menurut jumhur ulama fikih, batas minimal jarak perjalanan yang membolehkan Muslim berbuka adalah 80 atau 90 kilometer (Yusuf al-Qaradhawi, Taysir al-Fiqh fi Dhaw’i al-Qur’an wa as-Sunnah (Fiqh ash-Shiyam),1993: 52-55).

Artinya, apabila Muslim melakukan perjalanan (musafir) di bulan Ramadan dan sudah mencapai batas minimal tersebut, maka dia boleh tidak berpuasa (berbuka) dan wajib mengganti(qadha’)nya di bulan-bulan berikutnya.

Namun demikian, perjalanan masa sekarang sangat berbeda dengan perjalanan zaman Rasulullah saw. Dalam hal ini, kalau dahulu umat Islam menggunakan alat sederhana (seperti menunggangi hewan atau bahkan jalan kaki) ketika melakukan perjalanan jauh, tetapi perjalanan umat Islam masa sekarang lebih mudah, karena sudah menggunakan alat transportasi modern (seperti mobil, keretata api, kapal laut, dan pesawat). Sehingga perjalanan masa sekarang tidak sesusah dan seberat perjalanan masa dahulu yang sangat melelahkan dan menguras tenaga.

Oleh karena itu, muncul pertanyaan: apakah alat transportasi modern seperti mobil, kereta api, kapal laut, dan pesawat bisa menggugurkan rukhsah (keringanan) untuk berbuka bagi musafir di bulan Ramadan?

Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi (mujtahid kontemporer yang pernah menjabat sebagai Ketua Organisasi Ulama Sedunia), beberapa alat transportasi modern tersebut tidak dapat menggugurkan ketentuan rukhsah yang diberikan kepada musafir (orang yang melakukan perjalanan) di bulan Ramadan. Sebab, rukhsah tersebut merupakan kebaikan dari Allah yang diberikan kepada umat Islam. Sehingga tidak pantas apabila umat Islam menolak atau menentangnya (hlm. 54).

Oleh karena itu, beliau menolak pemikiran beberapa Muslim yang menyatakan bahwa tidak ada alasan lagi bagi musafir era sekarang mengambil ketentuan rukhsah berbuka di bulan Ramadan. Sebab, menurut mereka, perjalanan masa sekarang berbeda jauh dengan perjalanan masa lalu yang memang melelahkan dan menguras tenaga. Muslim sekarang menempuh perjalanan dengan mudah (seperti menggunakan alat transportasi modern), bukan dengan jalan kaki, atau menunggangi unta, atau menlintasi padang pasir (hlm. 54).

Lebih lanjut Syekh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa hukum yang bersifat tetap, terutama dalam masalah ibadah, tidak bisa batal dengan pemikiran tertentu. Dalam hal ini, ketentuan rukhsah berbuka bagi musafir di bulan Ramadan termasuk bagian dari hukum yang bersifat tetap. Ketentuan rukhsah ini ditetapkan secara tegas dalam nas-nas agama. Al-Qur’an surah al-Baqarah (2): 185 meyebutkan secara jelas bahwa rukhsah diberikan karena alasan perjalanan, bukan karena alasan masyaqqah/kesukaran (hlm. 54).

Di sisi lain, setiap musafir pasti akan mengalami beberapa kepayahan dalam perjalanan meskipun menggunakan alat transportasi modern, baik mobil, kereta api, kapal laut, maupun pesawat. Apalagi seseorang yang pergi meninggalkan rumahnya dalam rangka perjalanan akan merasakan kecemasan dan kesusahan. Oleh karena itu, musafir era sekarang juga mengalami kesulitan dan kepayahan dalam bentuk lain, seperti kelelahan fisik dan fsikis (pikiran dan perasaan). Hal ini karena kepayahan tidak hanya berkaitan dengan fisik semata, tetapi juga berkaitan dengan psikis, baik pikiran maupun perasaan (hlm. 54-55).

Selain itu, menurut fatwa Syaikh al-Islam Ibn Taymiyyah, para ulama fikih sepakat bahwa musafir boleh berbuka ketika bulan Ramadan, baik mampu berpuasa maupun tidak; baik puasa tersebut menyusahkannya maupun tidak. Bahkan sekalipun musafir tersebut hanyalah seorang penumpang dalam kendaraan tertentu (baik di darat maupun di laut), maka dia tetap boleh berbuka (hlm. 55). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here