Perjalanan Intektual Muhammad Abduh; Tokoh Islam Pembaharu dari Mesir

2
44

BincangSyariah.Com – Muhammad Abduh lahir di sebuah desa, tepatnya di Mesir Hilir pada 1849. Sang ayah bernama Abduh Hasan Khaerullah. Ia berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir. Sang ibunya berasal dari bangsa Arab yang jika dirunut silsilahnya akan sampai ke Umar bin Khatab.

Keluarga tersebut tinggal dan menetap di Mahallah Nasr. Dalam buku Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan (1975), Harun Nasution menceritakan bahwa Abduh kecil dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat beragama dan memiliki jiwa keagamaan yang teguh. Saat berusia tiga belas tahun, Abduh belajar di masjid Ahmadi di Tanta. Konon, masjid tersebut kedudukannya dianggap nomor dua setelah universitas Al-Azhar jika dilihat dari segi tempat belajar.

Sistem pembelajaran dengan menghafal nash atau teks dan ulasan serta hukum di luar kepala yang tidak memberi kesempatan untuk memahami membuat Abduh merasa tidak puas. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan masjid tersebut dan bertekad untuk tidak kembali lagi ke kehidupan akademis. (Baca: Muhammad Abduh dan Pandangannya Mengenai Esensi Malaikat)

Tak lama kemudian, Abduh berjumpa dengan pamannya, Syaikh Darwisy Khadr, yang merupakan seorang guru dari tarekat Syadzily. Dari pamannyalah Abduh mendapat pengajaran tentang disiplin ilmu etika, moral serta praktik kezuhudan tarekatnya.

Awalnya ia enggan belajar tentang tarekat. Tapi, perjumpaannya dengan Syaikh Darwisy sangat memengaruhi kehidupannya dengan sangat smendalam dan berhasil membimbingannya kembali semangat belajar.

Pada 1866, Abduh pun masuk ke Al-Azhar, sebuah pusat ilmu pengetahuan yang besar pada masa itu. Ia bertahan selama empat tahun, tapi kemudian merasa kecewa dengan kurikulum-kurikulum dan metode-metode pembelajaran yang dianggapnya kolot yang berlaku di sana.

Baca Juga :  Sebagai Muslim, Ada Empat Alasan Mengapa Harus Menjaga Alam

Baginya, metode pembelajaran di sana sangat menonjolkan penghafalan di luar kepala tanpa ada upaya untuk memahami, persis seperti yang ditemuinya di Tanta.

Beruntungnya, pada masa ini, Jamaluddin Al-Afghani datang ke Mesir dalam perjalanan ke Istanbul. Saat itulah Abduh bertemu dengan Al-Afghani untuk yang pertama kali saat ia dan mahasiswa lainnya berkunjung ke tempat penginapan Al-Afghani di dekat Al-Azhar.

Saat Al-Afghani datang untuk menetap di mesir pada tahun 1871, Abduh segera menjadi muridnya yang paling setia. Al-Afghani lalu memberi tekanan pada mata kuliah teologi dan filsafat. Sebelum berguru kepada Al-Afgani dan menekuni ilmu yang dianggap berbahaya itu, Abduh terlebih dahulu minta nasihat kepada Syaikh Darwisy.

Pada 1877, Abduh berhasil menyelesaikan pendidikannya di Al-Azhar dan mendapat gelar sebagai Alim. Ia pun mulai mengajar untuk pertama di Al-Azhar kemudian di Dar Al-Ulum dan juga di rumahnya sendiri.

Di antara buku-buku yang diajarkannya adalah buku akhlak karangan Ibnu Miskawaih, Muqaddimah karya Ibnu Khaldun dan sejarah kebudayaan Eropa karangan Guizot yang diterjemahkan Al-Tahtawi ke dalam bahasa Arab pada 1857.

Kesempatan tersebut pun dimanfaatkan Abduh untuk berbicara dan menulis tentang masalah-masalah politik, sosial dan khususnya masalah pendidikan nasional yang pada waktu itu kesadaran nasional di Mesir semakin meningkat.

Pada 1879, Al-Afghani dan Abduh diusir dari Mesir karena sikap politiknya yang dianggap terlalu keras. Pada 1888, atas usaha teman-temannya, di antaranya adalah seorang kawan dari Inggris, ia diperbolehkan kembali pulang ke Mesir, tapi tidak diizinkan mengajar karena pemerintah Mesir takut akan pengaruhnya terhadap Mahasiswa. Abduh akhirnya bekerja sebagai hakim di salah satu mahkamah dan pada 1894.

Baca Juga :  Puasa Ramadan Meningkatkan Nilai Kebersamaan

Pada 1889, Abduh akhirnya ia diangkat sebagai Mufti Besar. Jabatan tinggi tersebut berhasil didudukinya hingga ia wafat pada 1905. Perjalanan hidup seorang tokoh besar selalu bisa kita nikmati sebagai prorotipe perjuangan yang tak kenal lelah, terutama perjuangan pembaharuan yang berisiko dan penuh bahaya.[]

2 KOMENTAR

  1. […] Meski demikian, ia mempunyai pemikiran yang tidak terikat oleh sekat-sekat mazhab yang ada. Selain mengenyam pendidikan formal di Madrasah, ia juga mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri yang merupakan seorang Kiai di Madrasah tradisional Deoban yang cukup terkenal dan bergengsi pasa waktu itu. (Baca: Perjalanan Intektual Muhammad Abduh; Tokoh Islam Pembaharu dari Mesir) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here