Peristiwa Zallaqqah: Pertarungan Yusuf bin Tasyfin dan Alfonso VI

1
96

BincangSyariah.Com – Setelah beberapa dinasti Islam di Andalusia gugur, wilayah yang sebelumnya dikuasai Islam kini dikuasai oleh kerajaan Kristen. Setahun kemudian, di tahun 1086 M terjadilah peristiwa Zallaqqah yang berlokasi di Badajoz. Disebut Zallaqqoh (licin/tergelincir) karena peristiwa tersebut terjadi di lokasi yang licin dan terjadi pertumpahan darah yang begitu hebat. Pertempuran ini terjadi antara pasukan Kristen yang dipimpin oleh Alfonso VI dan pasukan Murabithun yang dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin.

Sebelum terjadi peristiwa yang mengerikan ini, kedua pimpinan pasukan, yakni Alfonso VI dan Yusuf bin Tasyfin telah melakukan surat-menyurat. Diawali oleh Alfonso VI, surat yang dilayangkan oleh Alfonso adalah surat yang penuh kesombongan dan fitnah. Ia menuliskan bahwa Yusuf bin Tasyin hanyalah pengumbar janji karena selama ini tak pernah mewujudkan janjinya untuk segera menolong pasukan muslim yang memohon bantuan. Di dalam surat tersebut, Alfonso VI juga mengancam akan menyerang kaum muslim habis-habisan. Menjarah harta mereka, menyiksa anak-anak dan perempuan.

Sebelum Yusuf bin Tasyfin dan pasukannya berangkat menuju Andalusia, ia membalas suratnya kepada Alfonso VI. Dalam surat tersebut, Yusuf bin Tasyfin menuliskan bahwa ia akan menuju Andalusia untuk menemui pasukan Kristen dan memberikan tiga pilihan. Ketiganya ialah apakah masuk Islam, membayar upeti, atau perang. Sesampianya surat itu dan dibaca oleh Alfonso VI, ia marah hebat dan makin sombong. Ia tak mau harga diri kaum Kristen terinjak-injak karena mereka telah memungut upeti dari kaum muslim selama 80 tahun. Ia tak ingin begitu saja dikalahkan.

Dalam kitab Ar-Raudh al-Mi’thar karya Muhammad bin Abdul Munim al-Mihyari disebutkan bahwa Alfonso VI menghimpun kekuatan dari beberapa kerajaan Kristen yang bersekutu dengannya. Ia melakukan hal tersebut setelah benar-benar yakin bahwa pasukan Murabithun telah menyebrang melalui jalur selat Gibraltar. Terkumpullah pasukan tersebut yang terdiri dari para pendeta, rahib dan uskup. Mereka menjunjung salib-salib mereka untuk menghadapi pasukan muslim dari Murabithun. Dalam kitab Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani tidak disebutkan berapa jumlah pasukan Kristen yang terkumpul saking banyaknya.

Baca Juga :  Orang Baik dan Orang Jahat Selalu Ada di Tiap Zaman

Alfonso VI menyerukan kepada pasukannya untuk membiarkan pasukan Muslim datang dan ia siap untuk berperang. Ia menjanjikan jika pasukan Murabithun yang menang maka ia akan memberikan kesempatan untuk memporak porandakan negerinya dan mengambil seluruh isinya dalam satu hari. Sebaliknya, jika pasukan Kristen yang menang. Maka Alfonso akan menghancurkan seluruh pasukan Murabithun tersebut.

Saat pasukan Murabithun masih dalam perjalanan, Alfonso VI kembali mengirim surat untuk melakukan siasat dan tipuan. Ia mengatakan untuk menunda hari peperangan hingga hari Senin yang pada waktu surat itu sampai adalah hari Kamis. Alfonso VI mengatakan bahwa hari Jumat adalah hari raya umat muslim. Ia tak ingin mengganggu hari ibadah umat Muslim. Lalu sabtu adalah perayaan umat Yahudi, sedangkan Minggu adalah perayaan umat Kristen. Sehingga baginya, Senin adalah hari yang tepat. Tetapi atas perkataan Ibnu Abbad, Yusuf bin Tasyfin tidak percaya.

Pada hari kamis itu juga pasukan Murabithun telah sampai Cordoba. Di sana mereka berkumpul dan menghimpun kekuatan bersama pasukan muslim lainnya. Ini merupakan hari-hari yang ditunggu kaum muslim. Mereka merindukan kemenangan setelah bertahun-tahun mengalami penindasan di negeri mereka sendiri. Para ulama dan sufi menyarankan kepada masyarkat agar banyak membaca surat al-Anfal dan tidak gentar melawan pasukan Kristen. Jikalau mati mereka akan syahid.

Kemudian, salah satu dari pasukan muslim, bernama Ahmad bin Rumailah atau yang dikenal dengan nama Abul Abbas mengabarkan bahwa ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Abul Abbas adalah ulama fikih dari Mazhab Maliki yang terkenal gemar bersedekah, zuhud dan wara’. Dalam mimpinya Rasulullah mengabarkan bahwa pasukan muslim akan mendapat pertolongan dan ia akan mati syahid. Mimpi yang tersiar di kalangan pasukan muslim ini begitu menambah semangat mereka dan rasa optimisme mereka dalam melawan pasukan Kristen.

Baca Juga :  Ulama Berpengaruh di Era Bani Hud dan Akhir Kekuasaannya di Zaragoza

*dikelola dari kitab Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here