Peringatan Nabi bagi Orang yang Memahami Ayat Suci Al-Qur’an Secara Serampangan

0
125

BincangSyariah.Com – Kemajuan zaman membuat semua orang semakin kreatif mengolah bermacam-macam hal, tak terkecuali menjual ayat suci Al-Qur’an dan serampangan dalam memahaminya. Al-Qur’an yang dahulunya dibacakan agar dapat diresapi dan diamalkan, kini beralih menjadi dasar pembenaran hal yang ditawarkan oleh pembaca ayat tersebut.

Ratusan tahun lalu, Nabi Muhammad sudah pernah menyinggung perihal hal ini. Bahwa al-Qur’an sebagai firman Allah bisa saja disalahgunakan oleh pengucapnya. Tidak setiap orang yang membacakannya di depan khalayak umum, dia sudap pasti sedang mengerjakan sesuatu hal yang benar. Para ahli hadis semacam Imam Al-Bukhari bahkan secara vulgar menyatakan, bahwa Rasulullah pernah menyinggung orang yang mengumbar ayat Al-Qur’an untuk mencari makan

Hadis Mengenai Orang yang Mencari Makan Dengan Ayat Al-Qur’an

Sahabat  ‘Ali ibn Abi Thalib meriwayatkan sabda Nabi Muhammad:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « يَأْتِى فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

Aku mendengar Rasulullah salallahualaihi wasallam bersabda: “Kelak di akhir zaman ada sekelompok orang yang berusia muda, dungu pikirannya, mereka mengucapkan firman Allah dan keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tak sampai melewati tenggorokan mereka. Apabila kalian bertemu mereka, maka bunuhlah mereka. Membunuh mereka merupakan pahala bagi pembunuhnya di hari kiamat”  (H.R Bukhari).

Imam Ibn Hajar dalam syarah hadis di atas memberi contoh orang yang mengucapkan firman Allah, tapi di saat itu ia keluar keluar dari Islam sebagaimana anak panah dari busurnya, dengan orang yang mengucapkan “tidak ada hukum kecuali hukum Allah” dalam peristiwa peperangan antara Sahabat Ali ibn Abi Thalib dengan Sahabat Mu’awiyah. Dimana ucapan “tidak ada hukum kecuali hukum Allah” yang memang terdapat dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an, diucapkan kaum Khawarij tidak dimaksudkan untuk menegakkan hukum Allah sebagaimana mestinya, tapi sebagai pembenar tujuan politik mereka (Fathul Bari/10/412).

Baca Juga :  Makna Jihad dalam Islam Bukan Hanya Perang

Imam Badruddin Al-‘Aini menjelaskan mengenai hukum mati yang dikenakan pada mereka, hal ini disebabkan mereka telah mengacaukan perhatian kaum muslim dalam berjihad menegakkan kebenaran. Selain itu, mereka juga menimbulkan perpecahan di antara kaum muslim (‘Umdatul Qari/24/171). Dan memang selalu begitulah dampak menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk tujuan pribadi. Hal ini disebabkan karena kemudian Al-Qur’an ditafsiri secara pribadi, dan menabrak kaidah-kaidah tafsir yang dicetuskan oleh pakar tafsir

Hadis di atas secara tidak langsung berbicara, bahwa tidak setiap orang yang mengumbar ayat Al-Qur’an dari mulut mereka, ia sedang melakukan sesuatu yang benar. Bahkan ada yang dengan membacakan ayat Al-Qur’an, ia justru tengah keluar dari ajaran Islam. Hal ini bisa saja terjadi saat ia menafsirkan ayat yang ia bacakan seenaknya sendiri, atau menggunakannya tidak untuk makna sebenarnya yang dimaksud oleh ayat tersebut.

Kesimpulan tersebut diungkapkan salah satunya oleh Imam Al-Bukhari dalam Sahih Bukhari. Imam Al-Bukhari memberi judul hadis di atas dengan judul:

بَابُ إِثْمُ مَنَ رَاءَى بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ أَوْ تَأَكَّلَ بِهِ أَوْ فَجَرَ بِهِ

Bab dosanya orang yang pameran dengan bacaan Al-Qur’an, mencari makan dengan hasil membaca Al-Qur’an, atau melakukan sesuatu yang keji dengan bacaan Al-Qur’an (Sahih Bukhari/4/1927).

Hal ini menunjukkan bahwa Imam Al-Bukhari memperoleh kesimpulan dari hadis di atas, tentang keharaman membaca Al-Qur’an untuk tujuan pamer, mencari makan atau melegalkan prilaku keji. Dan ini sekaligus menunjukkan, bahwa ayat-ayat Al-Qur’an pun bisa saja disalah gunakan. Bahkan untuk tujuan hina semacam untuk mengisi perut.

Maka dalam menghadapi orang yang berbicara panjang lebar mengenai suatu hal dan menggunakan ayat Al-Qur’an untuk mendukung kesimpulannya, perlulah dicerna dengan pikiran kritis. Tidak serta merta diterima sebab adanya ayat Al-Qur’an yang seakan-akan mendukung kesimpulannya. Bisa jadi, ayat Al-Qur’an tersebut digunakan pembacanya berdasar pemahaman pribadinya saja, dan melenceng semisal dengan apa yang dijelaskan oleh pakar tafsir tentangnya.

Baca Juga :  Al-Ghazali dan Redupnya Semangat Nasionalisme

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here