Peringatan Habib Abdullah al-Haddad untuk Keturunan Nabi yang Menyimpang

0
52

BincangSyariah.Com – Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad seperti telah menerka bahwa suatu masa akan ada keturunan Nabi yang menyimpang dari sunah datuknya. Di saat yang bersamaan, juga akan ada orang-orang yang membelanya dengan dalih nasab mulia dan syafaat dari Sang Baginda. Dalam al-Fushul al-‘Ilmiyah wa al-Ushul al-Hikamiyah, Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad menulis,

“….Ketika disampaikan bahwa Fulan, salah sorang keluarga Nabi, telah melanggar dan berbuat kesalahan, sementara orang kadang berucap, “Mereka itu adalah keluarga Rasulullah. Sedang beliau sendiri akan memberi syafaat kepada mereka, barangkali dosa tak kan berbahaya bagi mereka.”

Dan kini perkataan itu pun terbukti. Hal itu benar-benar menjadi fenomena di tengah-tengah kita hari ini. Ada segelintir keturunan Nabi yang mudah mengeluarkan kata-kata kasar, melegitimasi dakwah dengan cara-cara kekerasan, dan seterusnya; ada pula sekelompok orang yang membelanya secara membabi buta dengan dalih nasab dan syafaat. (Baca: Siapakah Dia yang Layak Disebut Keturunan Nabi Muhammad?)

Adalah benar bahwa kita diharuskan mencintai dan menaruh hormat kepada dzurriyah Nabi. Juga benar bahwa Rasulullah sendiri pernah bersumpah bahwa mereka yang membenci dan mencaci ahlul baitnya akan dicampakkan Allah ke neraka. Akan tetapi, menjadi salah kalau keharusan mencintai dan menghormati itu didistorsi atau dipelintir maknanya menjadi kewajiban membela kesalahan mereka. Mengapa salah?

Pertama, Rasulullah sendiri secara tegas menyatakan tak kuasa membela keluarga, termasuk anak cucunya, di hadapan Allah kelak. Al-Thabari dalam tafsirnya, Jami’ al-Bayan, menyitir hadis riwayat Abu Hurairah yang menerangkan sikap Nabi kepada keluarganya takkala turun perintah “Berilah olehmu (Muhammad) peringatan kepada keluarga terdekatmu.” (Qs. al-Syu’ara [26]: 214).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حين أنزل عليه (وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ) : “يا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أنْفُسَكُمْ مِنَ الله، لا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ الله شَيْئًا، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ الله شَيْئًا، يا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ المُطَّلِبِ لا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ الله شَيْئًا، يا فَاطِمَةُ بِنْتَ رَسُولِ الله لا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ الله شَيْئًا، سَلِينِي ما شِئْتِ، لا أُغْني عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا

Wahai Bani Quraisy, jagalah diri kalian sebab aku tak sedikitpun bisa membela kalian di sisi Allah. Wahai Bani Abd’ Manaf, tak sedikitpun aku dapat membela kalian di hapadan Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abd al-Muth-thalib, tak sedikitpun aku dapat membela kalian di hapadan Allah. Wahai Fathimah bint Rasulullah, tak sedikitpun aku dapat membela kalian di hapadan Allah. Mintalah padaku apapun, tetapi tak sedikitpun aku dapat membela kalian di hapadan Allah.

Perhatikan bagaimana Rasulullah menyebut marganya secara umum, kemudian satu per satu menyebut anggota keluarganya, mulai dari paman hingga putrinya. Mereka semua dituntut untuk pandai-pandai menjaga diri, sebab bahkan Rasulullah pun tak kuasa membela mereka di sisi Allah kelak.

Kedua, andaikan keluarga Nabi berbuat kesalahan mereka akan tetap dapat hukum, bahkan dua kali lipat lebih berat dibanding hukuman bagi non-keluarga, sebagaimana juga kebaikan-kebaikan mereka dilipatgandakan. Demikian pemahaman dari Qs. al-Ahzab [33]: 30.

يَا نِساءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضاعَفْ لَهَا الْعَذابُ ضِعْفَيْنِ وَكانَ ذلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيراً

Wahai istri-istri Nabi! Barang siapa di antara kalian melakukan maksiat yang nyata maka ia akan akan mendapat siksa dua kali lipat. Sesunggunya hal ini mudah bagi Allah.

Lewat ayat ini, Allah mengancam keluarga terdekat Nabi, yakni istri-istrinya, dengan ancaman azab dua kali lipat manakala mereka berbuat serong. Menurut al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, hikmah dilipatgandakannya azab ini menyimpan dua hikmah.

Pertama, istri selain Nabi ketika berzina diazab tidak lebih lantaran mafsadat yang terkandung dalam zina itu sendiri. Sedangkan istri Nabi andaikan melakukan hal serupa, selain mengundang mafsadat, juga ada unsur menyakiti perasaan Nabi serta melecehkan posisi Nabi yang mulia. Di samping juga mereka sebagai istri Nabi memiliki beban moril yang lebih dibandingkan perempuan lain yang bukan istri nabi.

Kedua, hal tersebut menunjukkan kemulian derajat istri-istri Nabi dibandingkan yang lain. Sebagaimana sanksi bagi perempuan merdeka (al-hurrah) dua kali lebih berat ketimbang sanksi perempuan budak (al-amat) menunjukkan kemulian perempuan merdeka dari pada perempuan budak. Oleh karenanya, menjadi wajar jika sanksi atau pahala perbuatan mereka dilipatgandakan.

Ayat ini ditutup oleh penegasan bahwa urusan melipatgandakan sanksi, kendatipun bagi istri-istri Nabi, adalah hal yang mudah bagi Allah. Itu artinya, kemulian derajat mereka sebagai istri Nabi tak sedikitpun menghalangi Allah untuk melipatgandakan sanksi bagi mereka. Beda halnya dengan manusia yang seringkali kesulitan bersikap objektif terhadap seorang terhormat, lantaran mereka memiliki banyak simpatisan, penolong, saudara, dan seterusnya. Demikian, terang al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib.

Kembali ke persolan yang kita hadapi hari ini, bagaimana kita bersikap jika ada di antara keturunan Nabi yang menyimpang dari nilai-nilai yang diajarakannya?

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan bukan alasan bagi kita untuk membenci dan hilang hormat kepada seseorang, terlebih ia adalah ahl al-bait atau dzurriyah Nabi. Sama halnya kecintaan dan rasa hormat itu bukan alasan untuk kita membenar-benarkan kesalahan, sebab membenarkan kesalahan seseorang justru berarti menjerumuskannya ke dalam kebinasaan.

Bahkan, bagi orang-orang yang kompeten dan memiiki otoritas, sebagaimana direkomedasikan Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam al-Fushul al-‘Ilmiyah wa al-Ushul al-Hikamiyah, hendaknya tidak segan-segan menegur dan mengingatkan. Sebab kesalahan teteplah kesalahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here