Perihal Pentingnya Niat

1
192

BincangSyariah.Com – Sepatutnya kita jangan pernah menyepelekan niat. Sebab, ibarat amal saleh itu sebuah bangunan, maka niatnya adalah fondasinya. Bukankah tegak tidaknya konstruksi suatu bangunan tergantung seberapa kokoh fondasinya?

Perihal pentingnya niat, sampai-sampai Rasulullah saw pernah bersabda,

نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ وَعَمَلُ الْمُنَافِقِ خَيْرٌ مِنْ نِيَّتِهِ وَكُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى نِيَّتِهِ فَإِذَا عَمِلَ الْمُؤْمِنُ عَمَلًا نَارَ فِي قَلْبِهِ نُورٌ

Niat orang mukmin lebih baik daripada amal perbuatannya, dan perbuatan orang munafik lebih baik daripada niatnya. Keduanya memang beramal berdasarkan niatnya sendiri-sendiri. Akan tetapi, ketika orang mukmin yang melakukan suatu amal, niscaya bersinarlah nur di dalam hatinya. (H.R. al-Thabrani).

Hadis ini tercantum dalam Mu’jam al-Kabir karya al-Thabrani dengan nomor hadis 5942. Beliau meriwayatkannya dari Sa’d al-Sa’idi melalui al-Husain bin Ishaq.

Lain lagi hadis yang bersumber dari riwayat sayidina Umar bin Khatthab r.a. yang juga barangkali cukup familiar kita dengarkan. Sabda Rasulullah itu berbunyi,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Hanyasanya segala amal kelakuan tergantung niat-niatnya dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang dia niatkan. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, niat yang dimaksud tentu tertuju pada niat yang ikhlas. Sebagaimana telah Allah swt gariskan di dalam surah al-Bayyinah [98]: 5,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya menerangkan makna ikhlas sebagai perbuatan taat yang murni dilakukan karena Allah swt dan tanpa menyekutukan-Nya. Al-Maraghi juga mengatakan, bahwa kebahagiaan di dunia maupun keselamatan di akhirat dapat diperoleh senyampang kita berlaku ikhlas lillahi ta’ala. Entah amal itu dilakukan secara diam-diam ataupun terang-terangan. Selain itu, ikhlas beramal berarti mengosongkan amal tersebut dari kemusyrikan. Begitu penjelasan al-Maraghi.

Baca Juga :  Imam Lupa Niat Imaman Lillahi Ta‘ala, Apakah Mendapatkan Keutamaan Shalat Berjemaah?

Untuk lebih jelasnya, alangkah baiknya kita pun menyimak ungkapan Sayyid Fudhail bin ‘Iyadh di bawah ini.

تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ

meninggalkan suatu perbuatan karena manusia dinamakan riya’;

وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ

dan melakukan suatu perbuatan karena manusia dinamakan syirik;

وَالإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ مِنْهُمَا

sementara yang dinamakan dengan ikhlas manakala perbuatan itu Allah bebaskan dari keduanya (yakni terbebas dari unsur riya’ dan syirik).

Walakhir, saya jadi teringat wejangan kiai saya sewaktu mengaji kitab Ihya’-nya Abu Hamid al-Ghazali. Konon, sayidina Umar menjadi sosok yang paling cerdik dalam hal berniat, karena untuk satu amal saja beliau sampai pasang lebih dari satu niat. Lebih kurang demikianlah dawuh kiai saya kala itu.

Contohnya saja, kita yang saat ini sedang menjalani masa-masa #dirumahaja. Dapatlah kita menjalani karantina di rumah sembari memasang sejumlah niat. Antara lain, dalam rangka menaati imbauan pemerintah selaku ulil amri (Q.S. an-Nisa’ [4]: 59); demi menjaga kesehatan dan menyelamatkan  jiwa orang lain (Q.S. al-Ma’idah [5]: 32); dan untuk lebih mempererat hubungan dengan keluarga di rumah (Q.S. an-Nisa’ [4]: 1); serta tambahan niat-niat yang lain sesuai kondisi dan situasi kita masing-masing.

Sekali lagi, janganlah kita sepelekan niat. Alih-alih, kita beramal dengan niat yang ikhlas semata karena Allah swt. Wa Allahu a’lam bis shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here