Perhatikan Empat Hal Ini Sebelum Mengikuti Asuransi

1
357

BincangSyariah.com – Di zaman modern saat ini, persiapan menghadapi risiko yang akan muncul adalah satu keharusan. Jika tidak siap, maka akan banyak akibat buruk yang akan muncul. Inilah tujuan dari asuransi pada umumnya, yakni melindungi masyarakat dari risiko yang kemungkinan akan dialaminya. Namun di kalangan masyarakat Muslim, masih menjadi pertanyaan bagaimana hukum mengikuti asuransi?

Mengikuti asuransi adalah boleh. Asuransi merupakan bagian dari muamalah. Hubungan kemanusiaan yang hukum dasarnya adalah halal, selama tidak terdapat unsur-unsur yang mengharamkannya. Setidaknya ada lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu maysir, gharar, haram, riba atau disingkat dengan ”maghrib”, dan zalim.

Pada prinsipnya, asuransi diperbolehkan karena tujuan utama dari asuransi adalah tolong menolong. Tolong menolong antarmasyarakat ketika terjadi kesulitan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” ( Q.S. al-Maidah ayat 2)

Namun perlu diingat bahwa ada juga asuransi yang tidak boleh. Dalam hal ini kita hanya menekankan pada asuransi yang tidak boleh. Pertama, ketika asuransi mengelola keuangannya di tempat atau melalui proses riba atau pada objek yang diharamkan, seperti investasi di perusahaan minuman keras. Asuransi yang seperti ini tidak boleh untuk diikuti.

Kedua, asuransi yang kontraknya membeli risiko atau bisa juga disebut dengan mengalihkan risiko kepada perusahaan asuransi, dalam istilah bahasa Inggris disebut transfer of risk. Karena risiko bukan barang yang dapat diperjualbelikan.

Ketiga, asuransi yang dijalani dengan niat atau iktikad tidak baik. Misalnya mendaftar asuransi tapi data yang diberikan adalah palsu.

Keempat adalah adanya niatan untuk untung-untungan atau spekulasi. Misalnya dia berasuransi untuk tujuan premi yang dia bayarkan akan mendapatkan untung dari risiko yang baru mungkin akan terjadi. Setidaknya empat alasan tersebut bisa menjadi pedoman kita dalam memilih asuransi yang tepat sesuai dengan tuntutan hukum Islam.

Baca Juga :  Prinsip-Prinsip Mu’amalah Terhadap Non-Muslim

Pada masa Rasulullah saw. praktik semacam asuransi telah dilakukan. Pada masa Rasulullah saw. ada adat bantuan timbal balik dalam pembayaran uang darah (denda yang dibayarkan pelaku pidana kepada korban/keluarga korban). Adat seperti ini diperbolehkan Rasulullah saw. Adanya tolong menolong dari keluarga agar pelaku dapat membayar denda yang dijatuhkan kepadanya.

Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

  1. mas mau tanya jika asuransi ad nilai investasi gimana hukum islam mengatur nya kan kalo investasi bersifat tidak pasti tergantung situasi politik dan ekonomi dll walaupun saham yang di tanamkan tidak mengandug unsur maghrib , bagaimana pandangan islam tentang asuransi yang menawarkan investasi di dalam perjalanan nya investasi sendiri bukan tabungan yg nilai ttp sebuah usaha untuk mengembang nilai uang dengan bagi hasil bisa tinggi atau malah rendah dari nilai awal bukan itu sebuah ketidak pastian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here