Cara Menjadi Alim Ulama

0
563

BincangSyariah.com – Saya pernah berbincang dengan abang kelas saya di kampus. Perbincangan kami banyak. Mulai dari masalah politik kampus hingga isu-isu yang sedang hangat-hangatnya terjadi di negeri ini. Saat itu abang kelas saya menyinggung masalah kiai atau ulama. Ia berujar bahwa kiai itu mempunyai salah satu dari tiga ciri berikut. Apa saja? Yaitu nasab, nisab dan nasib.

Yang pertama, nasab. Ya, untuk menjadi kiai kebanyakan berawal dari nasabnya atau keturunannya. Bila bapaknya kiai maka biasanya anaknya juga menjadi kiai. Tentu hal ini tidak bisa menjadi dasar pijakan bahwa semua anak kiai bakal jadi kiai. Tetapi, tak sedikit juga yang demikian itu terjadi. Dari nasab itulah seorang anak yang mempunyai ayah yang kiai menjadi kiai. Dasar lainnya adalah  keberkahan ayahnya yang dibarengi dengan doa dan bimbingan.

Yang kedua, nisabnya. Dalam dunia zakat maksud nisab adalah jumlah batasan kepemilikian muslim dalam satu tahun. Dalam hal ciri kiai ini, abang kelas saya mencirikannya dengan umurnya. Ya, ciri kiai berdasarkan nisab adalah apabila umurnya sudah mencapai 40 tahun.

Banyak ustadz-ustadz yang umurnya di bawah 40 tahun belum disebut kiai. Barulah, ketika umur mereka sudah sampai umur 40 dan atau lebih, maka ‘gelar’ kiai ditampatkan pada nama mereka. Umur 40 dianggap sudah matang secara umur, arif, emosinya stabil dan tentu dibarengi dengan keilmuan yang matang.

Dan terakhir berdasarkan nasibnya. Biasanya akibat kesungguhan si anak. Dengan belajar serius mengenai agama, menimbu ilmu dengan banyak guru, mengulang dan menghafal pelajaran, dan dibarengi juga dengan ibadah yang matang, anak tersebut menjadi kiai dengan sendirinya. Meskipun ia anak tukang becak, anak pemulung, tetapi sebab kesungguhan ia dalam menuntut ilmu maka nasibnya jatuh kepada menjadi kiai.

Baca Juga :  Kajian Hadis: Larangan Tidur Sebelum Isya dan Mengobrol Setelahnya

Itu tiga ciri yang dijelaskan oleh abang kelas saya sekitar 2-3 tahun yang lalu. Dan kini fenomena itu sedang ramai dibicarakan, kosakatanya bukan kiai tetapi ulama. Meski berbeda namun maknanya sama secara bahasa yaitu sama-sama orang berilmu. Ya, ada calon pemimpin negeri ini yang digelari ulama oleh sebuah partai pengusungnya.

Pertanyaannya, dari ketiga ciri di atas, ciri apa yang pantas disematkan dalam keulamaan tokoh ini ?, Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here