Perbedaan Wakaf Uang dengan Shadaqah

1
840

BincangSyariah.Com – Shadaqah secara bahasa sering dimaknai sebagai :

ما يعطى للفقراء على وجه القربة إلى الله تعالى

“Sesuatu yang diberikan kepada orang faqir  sebagai bentuk pendekatan kepada Allah Ta’ala.” (Taj al-‘Arus, Juz 12, halaman 26).

Raghib al-Ashfahany di dalam Kitabnya Al-Mufradat, menjelaskan, bahwa shadaqah itu merupakan:

ما يخرجه الإنسان من ماله على وجه القربة كالزكاة، لكن الصدقة في الأصل تقال للمتطوع به، والزكاة للواجب، وقد يُسمَّى الواجب صدقة إذا تحرى صاحبها الصدق في فعله

“Sesuatu yang diambil dari sebagian hartanya seorang insan dan dikeluarkan karena maksud sebagai pendekatan, sebagaimana layaknya zakat. Akan tetapi, pada shadaqah, hukum asal pengeluaran ini adalah untuk maksud kesunnahan saja, sementara zakat untuk maksud melaksanakan kewajiban. Namun kadang juga diucapkan, bahwa harta yang dikeluarkan karena upaya menunaikan kewajiban adalah shadaqah, manakala pelakunya meniatkannya sebagai pembenar terhadap perbuatannya.” (Al-Mufradat, Juz 1, halaman 480).

Adapun secara istilah, Imam Al-Nawawi mendefinisikan shadaqah sebagai:

إعطاء المال ونحوه -دون عوض- بقصد ثواب الآخرة

“Pemberian harta dan sejenisnya kepada pihak lain tanpa adanya imbal balik ganti dengan niat semata berharap atas fahala di akhirat.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Juz 6, halaman 246).

Alhasil, dari ketiga pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam penggunaan secara umum, shadaqah itu mencakup perkara wajib maupun perkara sunnah. Adapun secara khusus, penggunaan istilah shadaqah hanya berlaku untuk maksud kesunnahan semata. Dan ini merupakan istilah yang masyhur di kalangan fuqaha’. Para fuqaha menyebut istilah shadaqah wajib sebagai zakat.

Imam Nawawi di dalam Majmu’ Syarah Muhadzab, menyampaikan: karena dimaksudkan untuk kesunnahan semata, maka harta shadaqah boleh diberikan kepada semua kalangan, bahkan termasuk kepada orang yang kaya.

تحل صدقة التطوع للأغنياء بلا خلاف، فيجوز دفعها إليهم ويثاب دافعها عليها، ولكن المحتاج أفضل

Baca Juga :  Bolehkah Wakaf Uang?

“Halal menyampaikan shadaqah karena niat kesunnahan kepada orang-orang kaya dengan tanpa khilaf. Bagi orang yang menyerahkan, maka ia beroleh fahala, akan tetapi menyerahkan kepada orang yang membutuhkan adalah lebih utama.” (Majmu’ Syarah Muhadzab, Juz 6, halaman 236).

Pendapat Imam Nawawi ini juga didukung oleh Imam Khathib Al-Syirbiny di dalam kitabnya Mughny al-Muhtaj, sebagai berikut:

الصدقة على الغني جائزة ويثاب عليها إذا قصد القربة، فخرج بذلك ما لو ملَّك غنيًّا من غير قصد ثواب الآخرة

“Shadaqah yang disampaikan kepada orang kaya hukumnya adalah boleh. Orang yang menyerahkan beroleh fahala bila diniatkan semata taqarrub kepada Allah. Dan ini yang mengecualikannya dari pemberian lain kepada orang kaya, yaitu bila penyerahannya tanpa disertai niat mencari fahala akhirat.” (Mughny al-Muhtaj, Juz 3, halaman 553).

Shadaqah sendiri dalam istilahnya sering dianggap sebagai bentuk majaz dari semua bentuk amal kebaikan yang disampaikan kepada orang lain. Tidak harus berupa penyerahan harta. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Imam Nawawi sembari menyitir sebuah hadits riwayat Muttafaq ‘Alaih, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

“Semua amal kebaikan adalah shadaqah” HR. Muttafaq ‘Alaih

Berdasarkan hadits ini, selanjutnya dalam halaman 246, dari Kitab Majmu’ Syarah Muhadzab, Imam Nawawi menyampaikan:

اعلم أن حقيقة الصدقة إعطاء المال ونحوه بقصد ثواب الآخرة وقد يطلق على غير ذلك

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya hakikatnya shadaqah itu adalah pemberian suatu harta atau yang semisal dengan niat beroleh fahala akhirat, dan kadang ia dipergunakan untuk menyatakan pola pemberian selain keduanya itu.” (Majmu’ Syarah Muhadzab, Juz 6, halaman 246).

Sampai di sini, jelas sudah bahwa maksud dari shadaqah adalah untuk melaksanakan kesunahan dengan berharap fahala di akhirat. Masalahnya, kemudian adalah, bahwa shadaqah itu adakalanya 1) temporer dan berbatas waktu (manqadliyah) dan adakalanya 2) tidak  berbatas waktu (jariyah).

Baca Juga :  Islam dan Strategi Pengentasan Kemiskinan

Contoh dari shadaqah yang temporer, adalah shadaqah manfaat mobil selama terjadinya korban bencana. Ketika bencana telah usai, dan situasi kembali normal, maka mobil itu kembali kepada pemilik asalnya. Sementara contoh shadaqah jariyah, adalah menshadaqahkan sebuah mobil atau aset tak bergerak lainnya kepada lembaga donasi tertentu, atau personal tertentu untuk dipergunakan guna melakukan operasional lembaga atau personal tersebut. Shadaqah seperti ini, fahalanya terus mengalir, semenjak harta / aset itu diserahkan, hingga barang itu lenyap, atau bahkan orang yang bershadaqah meninggal.

Nah, di sinilah titik persamaan dan sekaligus titik perbedaan antara shadaqah jariyah dengan wakaf dimulai. Persamaan kedua shadaqah jariyah dan wakaf itu, adalah baik pada wakaf maupun pada shadaqah jariyah, terjadi penyerahan barang kepada seseorang atau instansi tertentu dan diharapkan fahalanya terus mengalir sampai akhir hayat pihak yang bershadaqah maupun pewaqif. Persamaan ini berangkat dari kesamaan hadits yang dipergunakan sebagai landasan, yaitu:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seorang insan meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: karena shadaqah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Syeikh Izzudin ibn Abdi al-Salam mengomentari hadits ini sebagai berikut:

الصدقة الجارية تحمل على الوقف وعلى الوصية بمنافع داره وثمار بستانه على الدوام، فإن ذلك من كسبه لتسببه إليه، فكان له أجر التسبب

“Istilah shadaqah jariyah itu memuat didalamnya pengertian wakaf dan wasiat seumpama pemanfaatan rumahnya, buah dari kebunnya tanpa batas waktu akhir. Karena semua itu berangkat dari jerih payah pihak yang menyerahkan kepada pihak yang hendak dijadikan sebab mengalirnya fahala, maka fahala itu akan terus mengalir kepada pihak yang menyerahkan disebabkan pencarian sebabnya tersebut.” (Qawa’idu al-Ahkam, Juz 1, halaman 136).

Baca Juga :  BWI Gandeng 18 Bank Syariah untuk Dukung Gerakan Wakaf Uang

Sekilas, disampaikan oleh Sulthanu al-Auliya’ Syeikh Izzuddin ibn Abdi Al-Salam bahwa wakaf, wasiat dan shadaqah jariyah itu memang ada kesamaan, dan kesamaan itu disebutkan secara umum yaitu sama-sama menjadi sebab mengalirnya fahala kepada pihak yang menyerahkan. Akan tetapi, beliau juga tidak menampik bahwa shadaqah dan wakaf memiliki perbedaan. Perbedaan itu bersifat khusus. Wakaf itu masuk bagian dari shadaqah jariyah, akan tetapi tidak setiap shadaqah jariyah bermakna wakaf.

Kiranya yang membedakan keduanya itu bisa dirinci sebagai berikut:

Pertama, Aset wakaf tidak bisa diwaris dan dijadikan hak milik oleh perorangan tersebut, sehingga tidak bisa dijual, dihibahkan, atau diwariskan. Hak milik barang wakaf adalah Allah SWT. Sementara pada shadaqah, aset yang diserahkan bisa diwaris, dihibahkan, dan bahkan dijadikan hak milik oleh lembaga atau perorangan.

Kedua, Pihak yang mendapatkan wakaf hanya berhak atas hasil pengelolaan dari aset wakaf, sementara pada shadaqah, pihak yang menerima shadaqah berhak atas barang dan hasil pengelolaan secara mutlak. (Baca: Apakah Wakaf Tunai Diperbolehkan dalam Islam?)

Walhasil, dalam wakaf uang dan shadaqah jariyah – sebagaimana dalam tema tulisan ini disampaikan – juga memiliki perbedaan dalam aplikasinya. Wakaf yang disampaikan dalam bentuk penyerahan uang ini tidak bisa dimiliki oleh perorangan. Ia tertahan dari diwaris, dihibahkan atau dijual kembali. Lain halnya dengan uang dishadaqahkan. Wallahu a’lam bi al-shawab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here