Perbedaan Pluralitas dan Pluralisme dalam Islam

0
95

BincangSyariah.Com – Pluralitas dan pluralisme sering dianggap sama, padahal keduanya sangat berbeda. Pluralitas adalah kondisi keberagaman. Sementara pluralisme berasal dari akar kata plural yang bermakna jamak atau lebih dari satu. Maka, pluralisme bisa diartikan sebagai hal yang mengatakan jamak atau lebih dari satu.

Secara filosofis, pluralisme bermakna sebagai doktrin bahwa subtansi atau hakiki satu atau monoisme, tidak dua atau dualisme, akan tetapi banyak yakni jamak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk dan bersangkutan dengan sistem sosial dan politik.

Sementara itu, kata pluralitas memiliki makna banyak macam, perbedaan, dan keanekaragaman. Pluralitas mengungkapkan fakta bahwa ada banyak sekali keberagaman. Pluralitas keagamaan menegaskan fakta bahwa ada aneka agama dan orientasi keagamaan. (Baca: Kajian Tafsir Tematik: Pluralisme Agama dalam Al-Qur’an)

Nurcholis Madjid dalam Kebebasan Beragama dan Pluralisme Dalam Islam (1998) menerangkan bahwa kata “pluralisme” berasal dari bahasa Inggris, pluralism. Konon, kata tersebut berasal dari bahasa Latin yakni plures yang berarti beberapa dengan implikasi perbedaan.

Pluralisme merupakan pandangan fiolosofi yang tidak mereduksi segala sesuatu pada satu prinsip, tapi menerima adanya keragaman. Pluralitas bermakna keberagaman. Asal-usul kata keduy pluralisme agama tidak menghendaki keseragaman bentuk agama.

Saat keseragaman sudah terjadi, maka tidak ada lagi pluralitas agama atau religious plurality. Keseragaman adalah sesuatu yang mustahil. Allah Swt. menjelaskan bahwa sekiranya Tuhanmu berkehendak, niscaya kalian akan dijadikan dalam satu umat.

Allah Swt. berfirman dalam Qur’an Surat Al-Mumtahanah Ayat 8:

 لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

yan-hākumullāhu ‘anillażīna lam yuqātilụkum fid-dīni wa lam yukhrijụkum min diyārikum an tabarrụhum wa tuqsiṭū ilaihim, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Baca Juga :  Agar Hidup Penuh dengan Kebaikan dan Cinta, Renungi Syair Sufi Ini

Pluralisme dibangun dalam basis dialog. Bahasa pluralisme adalah bahasa dialog dan perjumpaan, saling menerima dan memberi, serta mau melakukan kritik diri. Dialog berarti berbicara sekaligus bersedia mendengarkan orang dan umat lain.

Proses dialog itu harus berusaha menciptakan pemahaman bersama atas fakta-fakta perbedaan dengan sikap hormat dan saling menghargai. Perlu juga dicatat bahwa dialog berbeda dengan debat. Dalam dialog target yang hendak dicapai adalah saling memahami bukan saling mengalahkan seperti dalam debat. Tidak ada kalah-menang dalam dialog.

Inilah makna saat Al-Qur’an menegaskan “bahwa diciptakannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal” (Q.S. 49:13). Kalimat “berbangsa-bangsa” dan “bersuku-suku” dalam Al-Qur’an adalah fakta pluralitas, sementara “untuk saling mengenal” atau ta’aruf adalah pemahaman tentang pluralisme.

Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa pluralisme setingkat lebih tinggi ketimbang toleransi. Dalam toleransi, tidak dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman atas “yang lain”. Sedangkan pluralisme mesti mensyaratkan keduanya.

Toleransi sangat diperlukan dalam hubungan antar-agama. Tapi, toleransi tidak cukup kuat dijadikan sebagai landasan dialog antar dan intra-agama. Sebab, budaya toleransi masih rawan dan rapuh untuk disusupi dan diprovokasi pihak-pihak tertentu yang mempunyai kepentingan agama dan politik.

Pluralitas dan pluralism adalah dua hal yang berbeda. Pluralitas sebagai pemberian atau anugerah Tuhan dan pluralisme bisa diartikan sebagai sebuah prestasi bersama dari kelompok agama, etnis, dan budaya yang berbeda untuk menciptakan sebuah masyarakat bersama.

Pluralitas baru bisa menjadi pluralisme apabila masing-masing umat bersedia membuka ruang-ruang dialog yang sehat dalam perbedaan dan pergumulan yang intensif.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here