Perbedaan Manhaj Ijtihad antara Imam al-Ghazali dan Imam as-Syafi’i

0
1264

BincangSyariah.Com – al-Ghazali merupakan sosok ulama kenamaan. Banyak ulama-ulama besar berguru dari kalangan ahli fikih, nahwu, tasawwuf yang pernah menjadi muridnya.

Ibnu Aqil, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Abu Bakar Ibnu al-Arabi, Tajuddin as-Subkiy dan ulama-ulama besar lainnya merupakan satu deretan contoh betapa mereka sangat antusias mendengar ajaran-ajaran imam al-Ghazali. Banyak ahli yang mengatakan bahwa beliau adalah punggawa Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah setelah al-Baqilani dan al-Juwaini.

Karena ilmu yang diajarkannya banyak menarik decak kagum berbagai kalangan ulama besar, apalagi kelihaiannya dalam mendebat lawan sangatlah tiada bandingannya, sampai-sampai al-Ghazali dimitoskan sebagai ulama yang lebih tinggi derajatnya daripada Nabi Musa AS. Dalam pandangan para sufi, terutama yang didasarkan kepada ilham dan kasyf, al-Ghazali lebih utama daripada Nabi Musa.

Dari sekian para Nabi, Musa memang terkenal sebagai ahli berdebat. Namun bagi para sufi, Musa akan kalah debatnya jika dihadapkan dengan Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali. Perdebatan ini misalnya dapat kita temukan dalam kutipan-kutipan yang ditemukan dalam buku al-Ghazali wa at-Tasawwuf al-Islami karya Ahmad as-Syarbashi.

Glorifikasi terhadap al-Ghazali tidak hanya di kalangan para intelektual Islam klasik. al-Jabiri dalam at-Turath wa al-Hadathah bahkan menilai bahwa pemikiran al-Ghazali merupakan representasi pemikiran Islam secara keseluruhan meski dengan catatan kritis di sana-sini.

Terlepas dari berbagai macam pandangan positif terhadap al-Ghazali, Tajuddin as-Subkiy dalam Tabaqat as-Syafi’iyyah pernah menyitir perkataan murid al-Ghazali yang bernama Muhammad bin Yahya yang menahbiskan bahwa gurunya ialah imam as-Syafi’I kedua. inilah pandangan yang saya kira menarik untuk dibahas lebih jauh.

Pertanyaan yang  muncul ialah layakkah Imam al-Ghazali dipandang sebagai Imam as-Syafi’i yang kedua? Apa criteria mendasar yang dengannya al-Ghazali diberi gelar sebagai as-Syafi’i kedua? apakah ada kesamaan antara metode yang digunakan al-Ghazali dengan imam as-Syafi’i sehingga yang pertama merupakan pembaharu atas pemikiran yang kedua?

Baca Juga :  Alim yang Fasik atau Bodoh yang Taat?

Pertanyaan-pertanyaan ini tentu akan muncul jika kita tidak sekedar menerima apa yang dikemukakan oleh Muhammad bin Yahya, murid yang menaruh banyak kekaguman kepada gurunya, imam al-Ghazali.

Baiklah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ada baiknya kita kutipkan di sini pandangan imam as-Syafi’i dalam basis yang melandasi ijtihad keagamaannya. Imam as-Syafi’i dalam kitab ar-Risalah mengemukakan demikian:

لا يعلم من إيضاح جمل الكتاب أحد جهل سعة لسان العرب وكثرة وجوهه وجماع معانيه وتفرقها، ومن علمه انتفت عنه الشبه التي دخلت على من جهل لسانه.

“Seseorang tidak akan mengetahui makna-makna yang terkandung dalam teks-teks keagamaan jika dia tidak memiliki pengetahuan bahasa Arab dengan berbagai tingkatan makna, cara pengartikulasian ide dan gagasannya. Orang yang mengetahui bahasa Arab akan lebih dapat menyibak makna-maknanya daripada orang yang tidak mengerti bahasa ini.”

Dalam kutipan ini, paling tidak kita menemukan satu metode dasar ijtihad keagamaan Imam as-Syafi’i, yakni adanya pertalian dan hubungan yang sangat logis antara bahasa Arab dan kemampuan melakukan ijtihad-ijtihad keagamaan. As-Syafi’i di sini membaca teks-teks keagamaan dalam bingkai linguistik, yakni hal-hal yang berkenaan dengan aspek kebahasaan dan keindahan gaya bahasa Arab.

Dalam kutipan di atas, seolah As-Syafi’i mengaitkan kemampuan berbahasa Arab dengan baik dengan kemampuan berijtihad soal agama. Bagi as-Syafi’i minimnya pengetahuan tentang lisan Arab akan menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan berpikir dalam agama dan bahkan akan terjerumus ke dalam bidah-bidah.

Pertanyaannya, lalu apa relevansinya dengan pemikiran al-Ghazali?

Dalam kitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazali mengemukakan bahwa: “Barang siapa yang tidak menguasai ilmu logika, maka kredibilitas ilmunya sangat dipertanyakan.” Kata-kata ini jelas ditujukkan kepada ahli fikih dan ahli usul fikih.

Baca Juga :  Etika Setelah Berbuka Puasa Menurut Imam Ghazali

Berdasarkan pada kutipan tersebut, kita melihat bahwa Imam al-Ghazali sedang membangun satu metode baru yang sangat berbeda dari Imam as-Syafi’i sebelumnya. Jika imam as-Syafi’i mensyaratkan pengetahuan bahasa Arab yang mendalam untuk menggali hukum-hukum agama, al-Ghazali justru mensyaratkan penguasaan logika Aristoteles sebagai standar bagi kebenaran ijtihad dalam fikih dan ilmu-ilmu lainnya.

Berangkat dari dua fondasi epistemologis yang berbeda ini, jelaslah bahwa Imam al-Ghazali mempertanyakan bahasa Arab sebagai cara untuk menggali hukum-hukum agama seperti yang digaungkan oleh Imam as-Syafi’i. Sebaliknya, al-Ghazali mensyaratkan keharusan untuk mempelajari logika Aristoteles sebagai alat untuk memahami kebenaran ijtihad fikih, usul fikih dan kalam.

Dari sini kemudian kita dapat menemukan perbedaan yang sangat berarti antara Imam al-Ghazali dan Imam as-Syafi’i ini.

Seperti yang dikutip oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Shaoun al-Manthiq wa al-Kalam an Fann al-Mantiq wa al-Kalam, As-Syafi’ bahkan menegaskan:

ما جهل الناس ولا اختلفوا إلا لتركهم لسان العرب وميلهم إلى لسان أرسطوطاليس.

“orang-orang tidak akan mungkin berbeda pendapat dan tidak akan mungkin keliru dalam memahami agama kalau seandainya mereka memahami betul bahasa Arab (lisan al-Arab)”.

Lebih jauh lagi, as-Syafi’i seperti yang dinukil oleh as-Suyuthi dalam kitab Shaoun al-Manthiq, mengatakan demikian:

ما حدث في زمن المأمون من القول بخلق القرآن ونفي الرؤية وغير ذلك من البدع إنما سبيلها الجهل بالعربية والبلاغة الموضوعة فيها…وتخريج ذلك على لسان يونان ومنطق أرسطوطاليس الذي هو في حيز ولسان العرب في حيز.

“Inkuisi untuk mengakui keterciptaan al-Quran, penafian melihat Tuhan di akhirat nanti dan bidah-bidah lainnya yang terjadi di era al-Ma’mun dapat dikembalikan semuanya ke dalam satu sebab: minimnya pengetahuan bahasa Arab dan ilmu Balaghah…sebabnya karena banyak yang mengadopsi bahasa Yunani dan logika Aristoteles di satu sisi serta mengadopsi bahasa Arab di sisi lainnya.”

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Begini Cara Meyakini Allah itu Wujud

Kutipan-kutipan di atas menunjukkan betapa Imam al-Ghazali melakukan keterputusan secara epistemologis dengan metode yang digunakan oleh Imam as-Syafi’i. Jika Imam as-Syafi’I menekankan kemampuan bahasa Arab dan menolak logika Aristoteles sebagai cara memahami agama, al-Ghazali justru sebaliknya, menerima logika Aristoteles sebagai jalan kebenaran pemahaman terhadap agama. Sampai pada titik ini, kita melihat kekurangtepatan Muhammad bin Yahsa dalam menilai al-Ghazali sebagai imam as-Syafi’i kedua. Allahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here