Perbedaan Ibadah Mahdhah dan Ghairu Mahdhah dalam Hal Niat

0
5719

BincangSyariah.Com – Meskipun dalam pembahasan Tujuan dan Tingkatan Manusia dalam Beribadah disebutkan bahwa semua ucapan, niat (kehendak atau cita-cita), pikiran, dan perbuatan yang disukai oleh Allah dan dilakukan dalam rangka mencaririda-Nya adalah termasuk ibadah, tetapi dalam Islam terdapat ibadah-ibadah tertentu yang harus (wajib) dilakukan oleh setiap Muslim yang balig dan berakal. Ibadah jenis pertama barangkali termasuk kategori ibadah gair mahdhah (ibadah non murni).

Sedangkan ibadah jenis kedua biasanya disebut dengan istilah ibadah mahdhah (ibadah murni). Para ulama fikih (fuqahâ’) membagi ibadah (mahdhah) menjadi tiga jenis: ‘ibâdah badaniyyah mahdhah (ibadah badan murni), seperti salat, puasa, wudu, mandi besar, dan lain-lain; ‘ibâdah mâliyyah mahdhah (ibadah harta murni), seperti sedekah, zakat, kafarat, nazar, kurban, dan lain-lain; dan‘ibâdah mutaraddidah bainahumâ (ibadah badan dan harta), seperti haji (al-Mawsû‘ah al-Fiqhiyyah, 1993, XXIX: 258-259).

Selain itu, mayoritas ulama fikih membagi hukum syariat secara garis besar menjadi dua macam: ibadah (al-‘ibâdât) dan muamalah (al-mu‘âmalât). Ibadah seluruhnya ditetapkan berdasarkan wahyu dan setiap Muslim harus melaksanakannya sesuai dengan ketentuan wahyu (ta‘abbudî). Seorang mukalaf wajib mengetahui secara sadar bahwa ibadah tersebut adalah perintah Allah.

Dengan demikian, ibadah yang dilakukan harus diniati untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan urusan muamalah bersifat ma‘qûlah al-ma‘nâ (bisa dinalar dengan akal manusia) dan kadang kala sudah ada sebelum syariat diturunkan. Oleh karena itu, Islam tetap melestarikan muamalah yang baik dan menolak (menghilangkan) muamalah yang buruk serta memperbaiki muamalah yang harus diperbaiki.

Dalam muamalah tidak disyaratkan adanya niat seperti ibadah. Sehingga semua muamalah yang dilakukan oleh mukalaf tetap sah meskipun tanpa adanya niat. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala. Kegiatan muamalah akan mendapatkan pahala apabila diniati untuk mendekatkan diri kepada Allah (‘Umar Sulaiman al-Asyqar, Maqâṣid al-Mukallafîn,1981: 54-55).

Baca Juga :  Ilmu Lebih Utama dari Ibadah

Termasuk kedalam jenisi badah, menurut Wahbah az-Zuḥailî, adalah: salat, puasa, zakat, haji, jihad, tata cara bersuci, mengurus jenazah, iktikaf, sumpah dan nazar, makanan dan minuman, perburuan dan sembelihan, kurban dan akikah, dan sunat. Adapun bagian dari muamalah adalah: transaksi harta-benda, nikah, sengketa keperdataann, perjanjian, waris, dan lain sebagainya (al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhû, 1985, I: 81-83). Menurut hemat penulis, ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan jihad yang harus dilaksanakan oleh umat Islam adalah termasuk jenis ibadah mahdhah. Sedangkan persoalan muamalah yang dilakukan dalam rangka mencari rida Allah adalah termasuk bagian dari jenis ibadah gair mahdhah.

Dalam hal ini, meskipun ibadah mahdhah, seperti salat, zakat, puasa, dan haji bukan satu-satunya ibadah, tetapi ia memiliki kedudukan tinggi dan penting dalam Islam. Sehingga ia diwajibkan kepada seluruh umat Islam yang balig dan berakal.

Menurut Imam Nawawî al-Jâwî, salat merupakan ibadah badan lahir (al-‘ibâdât al-badaniyyah aẓ-ẓâhirah) yang paling utama kedudukannya; kedua, ibadah puasa; ketiga, ibadah haji; dan keempat, ibadah zakat. Salat merupakan kewajiban yang paling utama di antara kewajiban ibadah-ibadah lain dan begitu pula kesunahannya.

Dengan kata lain, salat sunah merupakan ibadah sunah paling utama daripada ibadah-ibadah sunah lainnya. Oleh karena itu, seorang Muslim yang balig dan berakal selama-lamanya tidak boleh meninggalkan salat (Syarḥ Kâsyifah as-Sajâ, hlm. 5).

Dengan demikian, aneh dan ajaib apabila kita sebagai Muslim berani meninggalkan ibadah, terutama ibadah-ibadah mahdhah yang telah diwajibkan, seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Sementara kita tau dan semoga sadar betul bahwa Allah menciptakan manusia tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk beribadah secara tulus kepada-Nya.

Baca Juga :  Ahli Kaligrafi Indonesia Angkat Bicara Soal "Bendera Tauhid adalah Bendera Rasulullah"

Dalam konteks salat sebagai ibadah mahḥdah harian (lima kali sehari-semalam: zuhur, asar, magrib, isya, dan subuh), misalnya, tidak sedikit dari kita yang berani meninggalkannya, baik karena malas, sibuk mengurus diri, harta-benda, keluarga, bangsa, dan negara, maupun karena sakit. Para ulama sepakat bahwa salat tidak boleh ditinggalkan oleh setiap Muslim yang balig dan berakal meskipun dalam keadaan berjihad ataupun sakit. Wallahualam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here