Perbedaan antara Hibah dan Warisan dalam Islam

0
530

BincangSyariah.Com – Dalam kitab fiqih sudah dijelaskan mengenai hukum masing-masing dari hibah dan hak waris. Setidaknya, ada tiga perbedaan antara hibah dan warisan, yaitu dari segi akad, hukum dan pembagiannya. (Baca: Menunda Pembagian Harta Warisan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?)

Di antara perbedaan antara hibah dan warisan adalah pada waktu akadnya. Akad dan pindahnya kepemilikan dari hibah dilakukan oleh pemberi dalam keadaan sehat wal afiat, bukan dalam keadaan sekarat atau setelah mati. Hibah adalah akad pemberian secara sukarela (baik karena Allah atau tidak) di saat sang pemberi masih hidup.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

والهبة في الاصطلاح الشرعي عقد يفيد التمليك بلا عوض حال الحياة تطوعا

Hibah dalam istilah syariat adalah akad kepemilikan tanpa adanya imbalan, yang diberikan semasa hidup dengan sukarela.

Sementara akad dan pindahnya kepemilikan dari waris dilakukan setelah pemilik sudah wafat dan diberikan hanya kepada ahli waris yang masih hidup karena ada hak warisan. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah berikut;

حَقٌّ قَابِلٌ لِلتَّجَزُّؤِ يَثْبُتُ لِمُسْتَحِقِّهِ بَعْدَ مَوْتِ مَنْ كَانَ لَهُ ذَلِكَ لِقَرَابَةٍ بَيْنَهُمَا أَوْ نَحْوِهَا

(Waris) adalah hak yang bisa dibagi dan diberikan kepada yang berhak menerimanya setelah pemiliknya mati karena ada kekerabatan di antara keduanya atau lainnya.

Adapun dari segi hukum, semua ulama sepakat bahwa hibah hukumnya adalah sunnah. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Kifayatut Tanbih fi Syarh Al-Tanbih berikut;

الهبة منوب إليها؛ لقوله تعالى: وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا قيل: المراد منه الهبة

Hibah hukumnya dianjurkan, berdasarkan firman Allah; Jika kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik atau balasan serupa. Dikatakan bahwa maksud penghormatan dalam ayat tersebut adalah hibah.

Baca Juga :  Apakah Anak Susuan Mendapatkan Warisan?

Sementara waris hukumnya adalah wajib. Jika seseorang meninggal dan dia meninggalkan harta, setelah hak-haknya ditunaikan, maka sisa hartanya wajib dibagi waris pada ahli-ahli warisnya. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Kifayatut Tanbih fi Syarh Al-Tanbih berikut;

من مات وله مال ورث

Barangsiapa mati dan meninggalkan harta, maka harus dibagi waris.

Selain itu, perbedaan ketiga adalah pembagian hibah boleh diberikan kepada siapa saja dan kadar bagian harta yang dihibahkan tidak dibatasi. Sementara waris hanya boleh diberikan kepada ahli waris yang berhak menerimanya dengan kadar jumlah bagian tertentu yang sudah ditentukan oleh syariat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here