Mengapa Kelompok Radikal Tak Mengikuti Dakwah Nabi yang Lembut?

0
696

BincangSyariah.Com – Media massa baik cetak maupun elektronik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, tidak pernah sepi dari pemberitaan aksi-aksi yang mengganggu ketenangan publik, yang dilakukan sebagian kelompok yang terindikasi radikal. Ini menambah panjang catatan cara-cara radikal sebagian kolompok yang mengaku sedang mendakwahkan Islam. Dan mengkaburkan metode dakwah Islam yang mengedepankan tujuan menyampaikan ajaran Islam secara halus dan bertahap.

Cara sebagian kelompok muslim yang berniat mendakwahkan Islam dengan cara kekerasan dijadikan bahan pembuktian sebagian orang, bahwa cara-cara radikal kadang perlu dilakukan untuk mendakwahkan agama Islam. salah satunya saat umat Islam sedang terdesak. Terutama seperti saat dimana masyarakat yang notabene beragama Islam, emosinya sedang diaduk-aduk oleh beberapa hal. Seperti kebijakan pemerintah yang diduga tidak pro rakyat, juga narasi kebencian yang disebarkan bara buzzer di media sosial.

Saat Nabi Muhammad ditolak oleh sekelompok kaum

Pada saat-saat seperti ini penting kiranya membaca sejarah bagaimana Nabi Muhammad salallahualaihi wasallam menghadapi kesulitan hidup serta kesulitan dalam mendakwahkan Islam. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari sahabat Urwah bahwa suatu kali istri nabi; Sayyidah ‘Aisyah bertanya pada Nabi Muhammad: “Pernahkah engkau menghadapi hari yang lebih berat dari perang Uhud?” Nabi Muhammad kemudian bercerita:

“Aku telah bersua dengan kaummu. Dan pertemuan terberat adalah di Hari ‘Aqabah. Dimana di hari itu aku hendak meminta pertolongan pada anak cucuk ‘Abdu Yalil ibn ‘Abdi Kulal, lalu tidak ada satupun yang menanggapi permintaanku. Akupun menapaki jalan di hadapanku dalam keadaan sedih. Lalu aku ada di Qarni Tsa’alib. Aku mendongakkan kepala, ternyata ada mendung yang meneduhiku. Aku memperhatikannya, ternyata disana ada Jibril.

Jibril kemudian berkata padaku: ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar jawaban kaummu padamu dan penolakan mereka atasmu. Allah mengirim padamu malaikat gunung yang bisa engkau perintah sesuka hati.’ Lalu malaikat gunung menyapaku; berucap salam padaku. Kemudian ia berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu. Dan aku; malaikat gunung telah diutus Allah agar bisa engkau perintah sekehendak hatimu. Kalau engkau mau, aku timpakan dua gunung Makkah pada mereka.’

“Aku malah berharap Allah mentaqdirkan dari mereka lahir orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukannya.” Balas Nabi Muhammad. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga :  Konteks Islamophobia di Barat, Benarkah di Indonesia Juga Ada?

Kejadian ini, berdasar penuturan Ibn Hajar; pensyarah Kitab Sahih Bukhari, terjadi di bulan syawal tahun ke-12 semenjak terutusnya Nabi. Dan itu adalah pada saat Nabi dirundung duka sebab meninggalnya paman serta istri beliau, yaitu Abu Thalib dan Siti Khadijah. Dan Nabi menuju ke Thaif, ke tempat Bani Tsaqif; kaum yang diceritakan dalam hadis tersebut, demi meminta perlindungan serta pertolongan dari tekanan kaum Quraish Makkah. Tapi, Nabi justru memperoleh penolakan. (Fathul Bari/10/16)

Perbedaan cara dakwah Nabi Muhammad dan kelompok radikal

Ada beberapa hal penting dalam membandingkan antara dakwah para gerakan radikal dengan Nabi Muhammad. Pertama, keduanya sama-sama dihadapkan pada pemilik kekuasaan. Kedua-duanya sama-sama dialami pelaku yang dalam keadaan kesulitan. Tapi antara pelaku gerakan radikal dan Nabi Muhammad memilih cara yang berbeda dalam menghadapi.

Kedua, Nabi Muhammad tentu berposisi sebagai yang lebih mudah dalam bertindak keras, andai beliau mau. Sebab beliau adalah nabi yang saat itu sudah difasilitasi oleh Allah dengan malaikat yang kapan saja siap menimpakan gunung, tidak sekedar menabrakkan pesawat. Nabi Muhammad tidak perlu berusaha keras serta merepotkan seperti mempelajari cara mencari waktu yang tepat, untuk melakukan gerakan radikal.

Ketika, berbeda dalam cara bersikap. Kemudahan Nabi dalam bertindak dengan keras ternyata tidak dilakukan oleh-Nya. Beliau memilih pergi, dan mungkin oleh sebagian orang akan disebut bersikap putus asa serta pengecut dalam mengibarkan bendera dakwah.

Keempat, yang cukup penting dari dakwah Nabi Muhammad adalah kebijaksanaan Nabi sendiri. Bahwa meski suatu kaum enggan masuk Islam dan malah memusuhi Islam, bukan berarti keturunan mereka akan sama seperti mereka. Hal ini terbukti dengan keberadaan para sahabat yang gigih membela Nabi, padahal notabene mereka adalah keturunan orang-orang yang paling memusuhi nabi. Hal ini seperti Ikrimah ibn Abu Jahal dan Khalid Ibn Walid. Keduanya merupakan keturunan orang yang paling memusuhi Nabi, yaitu Abu Jahal dan Walid ibn Mughirah.

Baca Juga :  Akademisi Muslim ini Apresiasi Sikap PM Selandia Baru atas Tragedi Teror Christchurch

Ibnu Hajar berkomentar, hadis di atas menunjukkan bagaimana sikap belas kasih, kesabaran, serta kebijaksanaan Nabi Muhammad pada kaumnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah salah satunya dalam surah al-Anbiya’: “Dan tidak aku utus kamu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (Q.S. al-Anbiya [21]:107). Lalu, mana yang kita pilih? Cara berdakwah pelaku gerakan radikal, atau Nabi Muhammad? Wallahu a’lam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here