Perbedaan al-Ghazali dan Ibnu Hazm dalam Mengadopsi Logika Aristoteles

0
738

BincangSyariah.Com – Ibnu Hazm al-Andalusi lebih banyak dikenal oleh berbagai ahli sebagai ahli fikih bermadzhab adz-Dzahiri yang sangat tekstualis dalam menghasilkan produk-produk ijtihad. Jikapun ditambahkan ekspertasi lainnya, beliau hanya dikenal sebagai seorang intelektual yang  menganalisis secara tajam konsep cinta dan perilaku para pecinta seperti yang tertulis dalam karyanya yang terkenal, Thauqul Hamamah. Padahal tidaklah demikian kenyataannya.

Mereduksi pemikiran Ibnu Hazm hanya sebatas pada pemikiran fikih dan analisisnya tentang cinta merupakan sebuah kezaliman besar. Dalam karyanya Bunyat al-Aqal al-Arabiy, al-Jabiri mengatakan bahwa Ibnu Hazm ialah salah satu sosok pembaharu terbesar dalam sejarah pemikiran Arab-Islam. Ibnu Hazm, kata al-Jabiri, adalah perintis babak baru dalam sejarah pemikiran Islam.

Disebut sebagai seorang pembaharu bagi al-Jabiri karena jika dilihat dari konteks sosial-politik yang membentuk kecenderungan pemikiran sekaligus menentukan arah ijtihad-ijtihadnya yang cemerlang, tekstualitas atau ke-dzahiriyah-an Ibnu Hazm tidak lain ialah  proyek ideologis yang menjadi lawan bagi ideologi negara Fathimiyyah dan negara Abbasiyah.

Dua negara kerajaan ini saling bersaing dalam memperebutkan pengaruh dan merupakan musuh sejarah paling besar bagi negara kerajaan Bani Umayyah di Andalusia dimana Ibnu Hazm dibesarkan dan menjadi ideolognya. Baik Fathimiyyah maupun Abbasiyah kedua-duanya memerangi kerajaan Bani Umayyah di Andalusia dengan menggunakan senjata ideologi.

Namun terlepas dari peranan sebagai ideolog negara, Ibnu Hazm juga memiliki pandangan yang tak kalah menariknya dengan al-Ghazali terkait pengadopsian logika Aristoteles.  Ibnu Hazm memiliki karya tentang logika yang berjudul at-Taqrib li-Hadd al-Mantiq wa al-Madkhal ilaihi bil Alfadz al-Amiyah wa al-Fiqhiyyah. Karya ini ditulis kurang lebih lima puluh tahun sebelum diterbitkan karya al-Ghazali yang berjudul Mi’yar al-Ilm, sebuah karya yang menyajikan logika Aristoteles dengan sangat menarik dan sistematis.

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Ulama Pihak yang Paling Banyak Dikritik

Dalam at-Taqrib li-Hadd al-Mantiq ini, Ibnu Hazm menjelaskan:

أن النظر في الفقهيات لا يباين النظر في العقليات، في ترتيبه وشروطه ومعياره، بل في مآخذ المقدمات فقط.

“Cara kerja ilmu fikih tidak berbeda dengan cara kerja ilmu aqli/mantiq, baik dari segi susunan penyajian, syarat-syarat maupun standar-standarnya. Yang berbeda hanya dalam premis-premisnya saja. ”

Ibnu Hazm dan al-Ghazali memiliki titik temu dan titik beda dalam pemikiran-pemikirannya. Ibnu Hazm dan al-Ghazali memiliki titik temu dalam soal perlawanan mereka terhadap kebatinan Syiah Ismailiyyah. Syiah Ismailiyyah berpandangan bahwa pengetahuan mengenai hakikat doktrin-doktrin keagamaan hanya bisa digapai melalui doktrin ta’limiyyah dari Imam mereka. Ini artinya, bagi gerakan kebatinan Syiah Ismailiyyah, pengetahuan hanya dapat digapai melalui ajaran sang Imam sementara ajaran dari selain imam tidak mengandung kebenaran yang pasti. Sikap ini jelas mengabaikan peranan rasio yang menjadi sarana sekaligus sumber bagi pengetahuan.

Lebih dari itu, Ibnu Hazm dan al-Ghazali sepakat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui indera dan rasio dan pengetahuan yang diperoleh melalui kedua-duanya secara bersamaan. Sementara itu, kebenaran pengetahuan yang dicapai melalui indera dan rasio ini  hanya dapat diraih dengan memperhatikan hukum-hukum logika.

Ibnu Hazm dan al-Ghazali memiliki sikap yang berbeda dalam hal yang berkaitan dengan praktik-praktik kebatinan, baik kebatinan ala Syiah maupun ala Sufi. Misalnya dalam soal ilham ketuhanan atau tersingkapnya tabir Tuhan di mata sang penganut tasawwuf. al-Ghazali sangat akomodatif terhadap kebatinan sufi sedangkan Ibnu Hazm menolak keras kebatinan sufi dan  syiah secara sekaligus.

Ibnu Hazm dan al-Ghazali sepakat mengenai perlunya mengadopsi silogisme logika Aristoteles untuk menggantikan posisi qiyas dalam ijtihad keagamaan pada umumnya. Kendati berpandangan sama, mereka berdua berbeda dalam spesifikasinya.

Baca Juga :  Hukum Menjual Rambut Manusia yang Sudah Dipotong

Ibnu Hazm memandang perlunya menerapkan logika Aristoteles dalam ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu aqli secara sama tanpa ada pembedaan yang berarti. Sedangkan al-Ghazali hanya membatasi peran logika kepada ilmu-ilmu aqli seperti ilmu kalam bukan pada ilmu fikih. Hal demikian seperti dapat dilihat pada kutipan berikut:

ينبغي أن يترك في الفقهيات رأسا…فالظنون المعتبرة في الفقهيات هي المرجح الذي يتيسر به عند المتردد بين أمرين، إقدام أو إحجام.

 “Logika Aristoteles selayaknya tidak digunakan dalam ranah fikih…dzhan terkuat dalam fikih menjadi penentu kebenaran bagi orang yang ragu antara dua keputusan: mengambil atau menolak.”

Karena itu kata al-Ghazali, qiyas para ahli fikih saja sudah cukup untuk menyelesaikan persoalan-persoalan fik. Hal demikian karena bagi al-Ghazali:

لأن الجزئي المعين – في الفقهيات- يجوز أن ينقل حكمه إلى جزئي آخر باشتراكهما في وصف.

“Hukum partikular (juz’iyy) dalam fikih boleh dipindahkan ke hukum partikular (juz’iyy) lainnya dengan catatan memiliki kesamaan ciri dan karakter.”

Dari sini kita dapat melihat bahwa Ibnu Hazm sedang memberikan pondasi baru bagi  ilmu-ilmu keagamaan yang berbeda dari yang dirumuskan oleh al-Imam as-Syafi’i dalam bidang fikih dan yang dirumuskan oleh al-Asy’ariy dalam bidang akidah.

Pondasi ini didasarkan kepada logika atau rasionalitas bukan tekstualitas kering seperti yang disangkakan sebagian ahli. Jika pun disebut tekstual, maka tekstualitasnya Ibnu Hazm ialah tekstualitas yang kritis dan fundamental.

Oleh karena itu, Ibnu Hazm justru berbeda secara fundamental dari al-Ghazali dalam menggunakan logika Aristoteles.

al-Ghazali tidak menjadikan logika Aristoteles sebagai pondasi pengetahuan bagi ilmu agama dan ilmu aqli tapi sebagai senjata untuk membela madzhab as-Syafi’i dalam fikih dan  membela madzhab al-Asyari dalam akidah.

Baca Juga :  Kiat Pintar Memilih Waktu Berdoa

Kalaupun qiyas diganti posisinya dengan logika dan itu artinya memberikan pondasi rasional bagi ilmu agama, tetap saja al-Ghazali dianggap sebagai ulama yang mengadopsi logika Aristoteles untuk dijadikan senjata dalam memperkuat madzhab yang dianutnya dan melindunginya dari serangan luar. Ini tentunya bukan basis pengetahuan yang dibangun. Yang dibangun justru adalah basis madzhab. Allahu A’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here