Peran Perempuan dalam Pemberantasan Korupsi

0
260

BincangSyariah.Com – “Di balik laki-laki yang hebat, pasti ada perempuan hebat”, kalimat ini sering kita dengar yang menggambarkan bagaimana peran perempuan terhadap laki-laki, baik ibu kepada anaknya maupun istri terhadap suaminya.

Namun, kiasan itu sekarang tak lagi terdengar bahkan sirna dari makna. Bagaimana tidak, setiap harinya kita mendengar kasus korupsi dari media massa, baik cetak maupun online, yang menyeret kalangan birokrasi serta belakangan ini banyak aksi OTT (Operasi Tangkap Tangan) yang dilakukan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terhadap pejabat publik di berbagai daerah yang menjadi bagian operasi.

Hal ini menjadi sorotan seantero negeri terhadap kasus korupsi yang terjadi, yang kebanyakan pelakunya adalah laki-laki. Namun, keterlibatan perempuan terhadap kasus korupsi tidak dapat dipungkiri.

Dalam kurun beberapa tahun belakangan, banyak aktor korupsi berasal dari kaum perempuan, ini menunjukkan laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang sama dalam menjarah uang rakyat, di mana kiasan “Di balik laki-laki yang hebat pasti ada perempuan hebat pula di belakangnnya”? atau sudah berganti “Di balik suami yang korupsi, ada istri yang mendukung di belakangnya”.

Hal ini tidak dapat terbantahkan. Bagaimana tidak, peran seorang perempuan (istri) memiliki pengaruh yang sangat besar dalam keluarga, mulai dari mengurusi segala kebutuhan sehari-hari, termasuk dalam mengatur keuangan keluarga. Seorang perempuan dapat berperan sebagai aktor utama maupun berperan sebagai aktor pendukung,  seorang perempuan (istri) dapat mendukung dan mencegah dari sebuah perilaku korupsi.

Seorang perempuan (istri) yang hebat adalah perempuan yang menolak, melarang, dan mencegah suaminya yang memiliki jabatan tertentu untuk tidak melakukan korupsi, bukan malah mendukung bahkan menyuruh suaminya yang memiliki jabatan tertentu untuk melakukan perbuatan korupsi.

Baca Juga :  Melawan Korupsi: Jihad Zaman "Now"

Dengan berkilah gaji suami tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari, sehingga perempuan (istri) mendukung suaminya untuk melakukan korupsi, itu akibat dari perempuan (istri) yang tak pandai mengatur keuangan keluarga, yang hidup dengan kalangaan sosialita istri pejabat yang hedon dan glamor.

Untuk itu, perempuan seyogyanya dapat berperan sebagai fungsinya dalam keluarga menjadi perempuan (istri) yang hebat bagi suami dan anak-anaknya dengan tidak ambil bagian dalam mendukung sebuah agenda korupsi. Mungkin perempuan yang hebat di masa ini adalah perempuan yang tidak korupsi dan tidak mendukung agenda korupsi terjadi.

Penanaman sifat anti korupsi dalam keluarga

Setiap manusia yang lahir ke dunia pasti akan lahir dari rahim seorang ibu, mulai dari anak tersebut dalam kandungan, ibu telah memberikan nutrisi kepada calon anaknya, setelah lahir, ibu juga yang menyusuinya, mengajari merangkak, berdiri, berjalan, sampai anak tersebut dapat berlari ke sana ke sini, begitulah seorang ibu membesarkan seorang anak.

Pendeknya, semua perempuan yang telah menjadi ibu dan masih calon ibu pasti akan memiliki gambaran bagaimana untuk mendidik seorang anak, yakin dan percayalah setiap ibu pasti akan menginginkan anak yang saleh maupun saleha. Tidak dapat dipungkiri, itu semua akan terwujud jika kita melihat bagaimana proses pembentukan dan penanaman nilai-nilai agama kepada anaknya.

Keluarga ibarat sekolah pertama bagi anak, sebagai pusat menumbuh-kembangkan kebiasaan mencari pengetahuan dan pengalaman dan orang tualah yang mengarahkan. Dalam hal ini, peran orang tua sangatlah besar untuk menjadikan anak tersebut akan menjadi apa di masa depan, berperan penting untuk kesuksesan sang anak.

Orang tua mendidik dengan memberi contoh, tidak hanya memberikan nasihat, menyuruh, dan membentak. Pembinaan pada anak dalam masa ini meliputi pembinaan fisik dan mental, untuk kebutuhan masa depan, agar anak kebal terhadap masalah dan cobaan. Tentu dengan tetap mengingatkan pentingnya tata krama, beribadah, dan berdoa.

Baca Juga :  Alangkah Lucunya Ulama Medsos

Pendidikan sang anak tidak hanya di lingkungan sekolah saja, pendidikan untuk anak dapat ditanamkan sejak dini oleh orang tuanya, dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan seperti ini biasanya disebut dengan pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal seperti ini orang tua sangat berperan penting untuk kesuksesan sang anak kelak.

Karena orang tua yang menanamkan pendidikan antikorupsi kepada anak dengan mengajarkan sitat-sifat integritas seperti, nilai kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, kesederhanaan, kemandirian, tanggung jawab, kerja keras, keberanian, keadilan, sejak dini kepada anak-anaknya otomatis lambat laun sang anak akan terbiasa dan bisa melaksanakan sifat-sifat tersebut.

Walaupun lingkungannya sudah termasuk ke dalam corupption system, di sinilah akan ada yang namanya perdebatan antara nalar kemanusiaaan anak tersebut dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian anak tersebut, tapi kepribadian anak yang telah di tanamkan orang tuanya akan tetap mendominasi bagaimana seorang anak untuk berpikir dan bertindak ke depannya.

Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas pernah berkata, “Perempuan punya peran sentral dalam mencegah maupun memberantas tindak pidana korupsi di negara ini. Dan itu dimulai dari keluarga.”

Dari proses pembentukan di keluarga inilah dapat membentuk karakter seorang anak yang memiliki sifat integritas, mulai dari anak-anak hingga anak tersebut menjadi dewasa yang sudah di ajarkan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran akan lebih kebal terhadap sifat koruptif ini ke depannya, dan dari keluargalah akan lahir pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang jauh dari kata korupsi.

Sesungguhnya benarlah perkataan Charles Fourrier, bahwa tinggi-rendahnya tingkat kemajuan masyarakat, tergantung oleh tinggi-rendahnya tingkat-kedudukan perempuan di dalam masyarakat itu. Atau, benarlah pula perkataan Baba Olllah, yang menulis, bahwa “laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung.” Jika sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak udara yang setinggi-tingginya; Jika satu dari dua sayap itu lemah, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.

Baca Juga :  Apakah Bertawasul Itu Musyrik?

Karena perempuan merupakan tiang-tiang sebuah negara, yang menopang kuat berdirinya sebuah negara, itu yang dapat menggambarkan peran dan pengaruh perempuan sangat besar dalam konteks berkeluarga maupun bernegara. Jika perempuan-perempuannya tidak kuat, dan sudah ikut ambil bagian dalam kasus korupsi, maka dapat dipastikan hancurlah bangunan sebuah negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.