Peran Penting “Nama” dalam Ekonomi Syariah

1
590

BincangSyariah.Com – Dalam bingkai kajian fikih madzhab tentang ekonomi syariah, kedudukan individu yang terlibat dalam suatu entitas usaha yang dilalui tanpa penyertaan harta sama sekali olehnya, sering ditempatkan pada maqam jah (reputasi) atau abdan (jiwa)/keahlian. Keterlibatan individu yang berbasis jah, diistilahkan dengan syirkah wujuh. Keterlibatan yang berbasis keterampilan, diistilahkan dengan syirkah abdan. Ilustrasi dari keduanya dalam definisi syirkah adalah sebagai berikut:

Pertama, syirkah wujuh:

هي أن يشتري اثنان فاكثر من الناس دون أن يكون لهم رأس مال اعتمادا على جاههم وثقة التجار بهم، على أن تكون الشركة بينهما في الربح، فهي شركة على الذمم من غير صنعة ولا مال

“Gambaran dari syirkah wujuh, adalah seumpama ada dua orang atau lebih masyarakat, tanpa disertai adanya pokok harta yang diserahkan oleh mereka, melainkan sekedar berbekal reputasi yang mereka miliki atau kepercayaan pedagang terhadap mereka untuk mengadakan suatu akad kerjasama dengan keuntungan dibagi berdua, maka akad kemitraan semacam ini merupakan syirkah yang tercela karena tanpa disertai peran, atau modal yang dilibatkan.” (Abu al-Hasan Ahmad al-Qudury (w. 428 H), Mukhtashar al-Qurdury fi al-Fiqh al-Hanafy, Beirut: Dar al-Kutub Al-Ilmiyah, tt., 111)

Kedua, syirkah abdan:

شركَة الابدان وَهِي بَاطِلَة كشركة الحمالين وَسَائِر المحترفين ليَكُون كسبهما بَينهمَا سَوَاء كَانَ مُتَسَاوِيا أَو متفاوتاً وَسَوَاء اتّفق السَّبَب كالدلالين والحطابين أَو اخْتلفَا كالخياط

Syirkatu al-Abdan, merupakan akad kemitraan yang bathil (dalam madzhab Syafii). Polanya, seperti akad kemitraannya dua orang yang bekerjasama dalam menggotong beban, atau kerjasama mencakup semua model ladang profesi, dengan pembagian kerja yang sama di antara masing-masing anggota mitra atau bahkan berbeda, baik motif awal kemitraannya sama atau tidak, seperti dua orang yang berprofesi sebaga dilal, atau sama-sama berprofesi sebagai tukang kayu, atau berbeda seperti yang terjadi pada usaha konveksi.” (Taqiyuddin al-Hushny, Kifayatu al-Akhyar fi Hilli Ghayati al-Ikhtishar, Damaskus: Dar al-Minhaj: 177) (Baca: Macam-macam Kemitraan Bisnis dalam Islam)

Baca Juga :  Fintech dalam Pandangan Hukum Islam

Terlepas, apakah kedua akad kemitraan tersebut sebagai diterima atau tidak dalam konsep Madzhab Syafii, namun 3 madzhab fikih lainnya menyatakan bahwa ketiga akad syirkah di atas diakui sebagai yang muktabar meski senantiasa diperselisihkan kesahihannya setiap waktu (mukhtalaf). Dalam konteks Madzhab Syafii, syirkah wujuh masuk dalam rumpun akad qiradl, yaitu akad permodalan. Pihak yang tidak memiliki modal, merupakan pihak yang bertindak selaku ‘amil (pelaksana atau orang yang menjalankan) lewat relasi yang ditengarai sebagai amanah. Sebab:

والقراض أمانة

Qiradl merupakan amanah (kepercayaan).” (Fathul Qarib, halaman 194)

Sementara syirkah abdan, masuk dalam rumpun akad ijarah (sewa jasa) atau bisa juga dimasukkan dalam akad dlaman bi al-nafsi (jaminan berupa jiwa) atau yang biasa dikenal sebagai akad kafalah.Sebnarnya masing-masing dari hal ini membutuhkan banyak penjelasan dan uraian yang panjang. Namun, nampaknya dalam pembahasan ini, kita hanya fokus pada peran penting dari sebuah “nama”. Ya, nama individu, sebagaimana nama anda, atau nama orang tua anda, saudara anda, atau bahkan teman anda.

Dengan menilik dari berbagai relasi di atas, nampak bahwa di dalam sebuah nama, tersimpan memiliki banyak potensi yang dimilikinya, lengkap dengan segala identitas yang disandangnya. Tanpa potensi ini, sudah barang tentu, tidak ada yang dinamakan syirkah jah (reputasi) atau syirkah abdan, atau qiradl, dlaman, atau bahkan sekedar ijarah. Karena potensi yang dimilikinyalah, maka ada pedagang besar yang mempercayakan dagangannya kepada orang dengan reputasi tertentu. Karena potensi keahlian dan keterampilan yang dimilikinya, maka lahir perkumpulan para ahli ekonomi, jasa konsultan, dan lain sebagainya. Karena potensi dan keterampilan seorang amil, maka seorang rabbu al-mal (pemilik harta), berani memodali seseorang agar menjalankan modal yang diberikan kepadanya untuk dikelola. Dan karena keterampilan seorang penjahit, maka ada orang berani menyerahkan kain bahan baku baju untuk dijahit.

Baca Juga :  Macam-macam Kemitraan Bisnis dalam Islam

Alhasil, bagi 3 madzhab selain Madzhab Syafii, berani menempatkan “nama” sebagai sebuah aset yang bisa distandartkan sebagai harta modal (ra’su al-mal) yang besarannya tergantung dari sebuah serikat dalam menilainya. Sebab, dalil syirkah itu adalah persekutuan dua orang pemodal yang masing-masing menyodorkan harta. Jika salah satu peserta syirkah tidak bermodal, dan hanya memiliki jah atau abdan (profesionalitas bekerja), maka kedudukan modal dari pihak yang tak mengeluarkan harta itu, adalah digantikan oleh jah atau abdan yang dimilikinya. Alhasil, berapa besaran jah itu dinilai oleh sebuah syirkah, maka disitulah nilai jah itu diketahui.

Dalam Madzhab Syafii, “nama” dan individu tidak dihitung sebagai harta, walaupun ia bisa dikategorikan sebagai harta manfaat. Harta dalam syirkah, menurut konteks madzhab Syafii, hanya berlaku dan terdiri dari nadlin, atau naqdin, atau barang yang sejenis, misalnya sama-sama mengumpulkan uang dalam bentuk mata uang rupiah. Jika ada salah satu pihak tidak mengeluarkan harta, maka dia tidak bisa menjadi anggota syirkah, melainkan hanya sebagai ‘amil (pelaksana) atau orang yang diupah sebab kerjanya.

Alhasil, jika menilik dialektika dari keempat fikih madzhab tentang ekonomi syariah di atas, tentang “nama” dan kedudukannya dalam fikih, maka dapat disimpulkan bahwa “nama” merupakan aset penting yang melekat terhadap seorang individu. Penyalahgunaannya dapat berbuntut pada kerugian yang bisa disandangnya sesuai konteks fikih madzhab yang mengkajinya. Menurut 3 madzhab fikih selain Syafiiyah, penyalahgunaan nama dapat berujung pada turunnya nilai jual reputasi (jah) dan profesionalitas (abdan) yang dimilikinya. Adapun pada Madzhab Syafii, penyalahgunaan nama dapat berakibat pada hilangnya kepercayaan pada pemiliknya.

Turunnya reputasi dan profesionalitas akibat nama, secara tidak langsung merupakan kerugian. Demikian halnya, hilangnya kepercayaan dari orang lain kepada pemilik “nama”, secara tidak langsung juga merupakan kerugian (dlarar). Setiap dlarar (kerugian) menghendaki pertanggungjawaban kerugian (dlaman). Kerugian itu bisa disetarakan dengan sejumlah aset (modal) bila dipandang dari konteks Madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali. Adapun, dalam konteks Madzhab Syafii, kerugian akibat hilangnya kepercayaan, tidak bisa diukur dengan aset, melainkan harus memulihkan kepercayaan orang yang telah dirusak “nama”-nya. Sebab di dalam nama tersimpan reputasi pemiliknya, antara bisa dipercaya atau tidak. Wallahu a’lam bi al-shawab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here