BincangSyariah.Com – Musik menjadi salah satu alat propaganda kaum jihadi. Hal ini dapat dilihat dalam setiap publikasi mereka melalui media sosial. Bila anda memperhatikan video yang tersebar melalui jaringan akun mereka, maka anda akan menemukan bahwa video yang mereka buat berkualitas baik lengkap dengan soundtrack musik. Jenis musik yang digunakan memiliki kekhasan tersendiri. Mereka dan kelompok Islam politik pada umumnya yang menggunakan jenis musik tersebut, musik itu mereka sebut dengan istilah nasyid.

Nasyid diambil dari bahasa Arab nunsyindal yang berarti ucapan (al-dzikru) (lihat Ibnu Faris entri nasyada). Secara khusus, kata ini digunakan untuk menyebut aktifitas para penyair yang membacakan puisi-puisi mereka. Puisi dalam bahasa Arab disebut syi’r. Puisi Arab klasik pada umumnya menggunakan pola wazn tertentu dan diakhiri dengan rima yang saling bersesuaian. Ada yang menyebutnya dengan qafiyah. Namun puisi Arab kontemporer tidak selalu menggunakan pola baku tersebut.

Dalam nasyid yang digunakan kelompok jihadi tidak selalu menggunakan pola baku di atas, namun tetap mempertahankan keharmonisan rima atau akhir kalimat.

Nasyid populer sekitar dua puluh tahun belakangan bersamaan dengan aktivitas kelompok Islam politik. Mereka meminjam musik-musik yang dikembangkan seniman-seniman Muslim aliran acapella yang mengkampanyekan pesan-pesan Islami. Sepertinya jenis musik ini lebih dapat mereka terima dibanding –katakanlah, qasidah – yang populer di kalangan kelompok-kelompok Islam pasca kolonial sebagai alat kebudayaan melawan serbuan budaya Barat atau lokal, dan mulai mengalami penurunan aktifitas pada era belakangan.

Namun kelompok politik Islam yang berkembang di kemudian hari yang lebih banyak dipengaruhi oleh gerakan Ikhwan al-Muslimun dan Wahhabi, menilai qasidah masih kurang Islami. Karenanya, mereka mencari musik alternatif yang dinilai lebih mencerminkan nilai-nilai Islam.Pilihannya jatuh pada jenis musik acapella. Aliran musik ini dikembangkan sejumah seniman seperti Native Deen, Raihan, Yusuf Sami, dan lainnya.

Baca Juga :  Reinterpretasi Makna Kafir

Musik jenis ini tidak terlalu bergantung kepada instrumen musik seperti gitar, kendang atau lainnya. Ia lebih bertumpu pada suara vokal dan olahan audio komputer. Dalam konteks kontemporer, nasyid telah menjadi tradisi kaum jihadi dalam propaganda-propaganda mereka. Nasyid banyak dijadikan soundtrack video jihad. Apapun kelompok jihadnya. Baik Al-Qaida, Taliban, Pejuang Cechnya, Mujahidin Indonesia Timur (MIT),  maupun dua sempalan Al-Qaida yang saling membunuh; ISIS dan Jabhah al-Nusrah.

Mereka menggunakan nasyid sebagai media propaganda, baik yang ditujukan kepada internal kelompok mereka guna membangkitkan semangat. Di samping itu musik ini juga digunakan untuk membuat gentar lawan. Uniknya kelompok ini dikenal banyak menolak ‘hiburan’, ternyata membutuhkan dan menggunakan musik untuk suatu tujuan tertentu. Mereka tidak menolak secara total segala bentuk musik, sekalipun dalam konteks doktrinal mereka, musik diasosiasikan dengan penyimpangan dari ajaran agama (baca: bidah).

Fungsi musik dalam video propaganda mereka bertujuan untuk penyemangat, reduksi kekerasan, pembenaran atas jalan yang mereka pilih, dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilihat dalam lirik-liriknya yang tajam dan jenis musik yang cenderung tenang mirip lagu rohani.

Nasyid yang berfungsi sebagai penyemangat dapat kita lihat di nasyid yang berjudul ksatria baqaya al-majd. Diproduksi oleh divisi jihad media, kelompok pendukung khilafah, nasyid ini berisi tentang kemuliaan yang hanya dapat diperoleh melalui luka, rasa sakit, kematian dan jihad. Hal ini sebagai bentuk suport terhadap praktik kekerasan yang sudah menjadi tradisi mereka. Orang awam mungkin akan mengalami trauma ketika menghadapi kekerasan dan pembunuhan. Para tentara terkadang membutuhkan obat-obatan untuk menguatkan mental mereka. Beberapa berita menyebutkan bahwa tentara ISIS mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk meningkatkan stamina dan mental mereka.

Baca Juga :  Abu Bakar dan Riwayat Pembakaran al-Fuja’ah as-Sulami

Musik dengan pesan-pesan sejenis itu memberikan daya ‘bius’ tertentu bahwa karena kekerasan yang mereka lakukan bernilai kemuliaan, maka seperti apa pun itu, tetap dapat ditolerir dan bahkan dianggap bagian dari kemuliaan yang disiapkan oleh Tuhan. Nasyid jenis ini juga dikembangkan oleh kelompok jihad di Indonesia, khususnya kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Nasyid lain yang dipublikasikan dengan judul Nasheed Mujahid Indonesia. Di dalamnya terdapat pesan yang ditujukan kepada pemerintah, para ulama dan pemikir yang mereka anggap bersikap munafik, picik dan hanya mencari keuntungan duniawi. Pesan utama nasyid tersebut adalah ajakan untuk melawan pemerintah dan mengubah kondisi sosial-politik agar sesuai dengan kitab suci. Nasyid ini menyebar secara viral melalui jaringan media di lingkungan pendukung gerakan jihad seperti blog, misalnya dapat dilihat dan mendownload ratusan nasyid dalam situs Allnasheed.wordpres.com.

Di sana juga tersedia pilihan beberapa bahasa seperti Arab, Inggris, Urdu, Pastun dan lainnya. Untuk nasyid berbahasa Arab terdapat 200 buah judul. Nasyid jihad merupakan genre musik yang terang-terangan mengkampanyekan paham Muslim radikal, kekerasan dan menyebar secara viral. Ritme musiknya tenang mempesona dapat memperdaya pikiran pendengarnya dengan lembut namun dengan pesan-pesan yang dapat langsung dicerna.

Bagi pembuat kebijakan, nasyid jihad merupakan media penyebaran ajaran radikal yang perlu diwaspadai. Karenanya, pengawasan bukan saja ditujukan kepada situs-situs berita, akun-akun radikal, blog-blog pribadi, namun juga kepada musik-musik jenis ini.

Ditinjau dari hukum Islam, gerakan yang mengatasnamakan jihad pada umumnya merupakan gerakan perlawanan terhadap otoritas resmi. Para ahli hukum Islam menyebutnya dengan bughat atau pembelot. Syariah mengizinkan dilakukan penindakan terhadap kelompok ini sesuai dengan tingkat kejahatan yang dilakukan. Pembelotan adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam, sekalipun terhadap pemerintahan dianggap menyimpang. Mengajak orang lain melakukan perlawanan bersenjata terhadap otoritas resmi, baik atas nama dakwah Islam, menegakkan kebenaran maupun menuntut keadilan, merupakan bentuk kejahatan yang sama dengan praktik bughat itu sendiri.

Baca Juga :  Penyesalan Sang Iblis

Dakwah Islam harus disampaikan menurut kaidah-kaidah dakwah sebagaimana dijelaskan dalam Alquran; menggunakan kebijaksanaan, nasihat, dan dialog. Menegakkan kebenaran dan menuntut keadilan, sebagai bagian dari amar makruf nahi mungkar yang merupakan kewajiban agama, harus dilakukan melalui cara-cara yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw.

Penolakan gerakan bughot bagi warga sipil dilakukan secara pribadi, bagi para cendekiawan dan ulama melalui nasihat dan kritik, dan bagi aparat adalah melalui penegakan hukum. Khususnya dalam hal ini adalah pengawasan terhadap musik-musik yang mendukung gerakan terorisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here