Peran Akun Media Sosial dan Rekening dalam Fikih Muamalah

1
484

BincangSyariah.Com – Menurut KBBI, rekening diartikan sebagai hitungan pembayaran (uang berlangganan, uang sewa, dan sebagainya). Ada 5 jenis rekening, antara lain: a) rekening aktif, yaitu rekening bank yang sering kali bermutasi berupa penyetoran atau penarikan, b) rekening giro, yaitu: rekening bank yang menatausahakan dana yang sewaktu-waktu dapat ditarik atau disetor oleh nasabah, c) rekening koran, yaitu sebagai hubungan utang piutang yang secara periodik dilakukan penghitungan penyelesaian; atau bisa juga dimaknai sebagai “rekening pribadi” (giro); d) rekening mati, yaitu rekening koran yang sudah tidak digunakan lagi untuk penarikan dan penyetoran; dan e) rekening tagihan, yaitu surat hak menagih pembayaran kepada pihak lain.

Jadi, tujuan utama dari adanya rekening, adalah sebagai sebuah laporan transaksi, baik berupa transaksi masuk maupun transaksi keluar sehingga mempengaruhi kondisi aset terkini yang disimpan di bank administrasi. Ingat dengan rekening, maka kita digiring untuk membayangkan tata cara pembukuan suatu keuangan. Itulah wujud praktis dari rekening itu.

Istilah modern dari rekening adalah account atau “akun”. Kita jadi ingat dengan akun media sosial. Apakah akun itu juga merupakan rekening? Jawabnya adalah iya. Jadi, ketika kita bermedia sosial, dan membuat sebuah akun, maka itu sama artinya dengan kita sedang membuat rekening gratis. Ia bisa dimanfaatkan sebagai alamat semua transaksi  pembayaran, penagihan, pertanggungan risiko, gugatan, dan sejenisnya. Oleh karenanya, jangan pernah terfikirkan untuk bermain-main dengan akun media, ya?

Alhasil, akun merupakan kata yang punya banyak arti, tergantung bidang atau wilayah kajian yang hendak dibahas. Akun memiliki arti tersendiri dalam bidang ilmu manajemen. Akun juga memiliki arti tersendiri dalam kelas nomina atau kata benda sehingga ia menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua harta (total asset) dan segala hal yang bisa dipandang sebagai benda (mutaqawwam).

Dalam ilmu administrasi keuangan, akun (account) bermakna sebagai rekening. Oleh karenanya, isi dari akun (rekening) adalah terdiri dari data laporan rinci mengenai harta terkini tentang aset yang dimiliki oleh pemiliknya.

Karena berupa laporan, maka model pelaporan rekening pada hakikatnya dibedakan menjadi dua. Pertama, ia berkaitan dengan informasi rinci/detail harta terkini (laporan rinci asset berjalan = current account = wadi’ah al-hisab al-jary); dan kedua, ia berkaitan dengan ringkasan atau ikhtisar informasi / rekapitulasi harta.

Baca Juga :  Bagaimana Islam Mengatur Jual Beli dengan Tunanetra

Pertama, Rekening Penyedia Laporan Rinci Aset Berjalan (Current Account)

Istilah lain dari “current account” adalah “rekening koran.” Dasar memahami “rekening koran” ini adalah harus diawali dari akad titip (wadi’ah), sehingga dalam operasionalnya, rekening koran ini didefinisikan sebagai berikut:

وهي المبالغ التي يودعها أصحابها في البنوك بشرط أن يردها عليهم البنك كلما أرادوا

Rekening koran adalah total aset yang dititipkan oleh pemiliknya kepada perbankan dengan syarat bisa ditarik kapanpun pemiliknya mau.” (Dr. Ali Sayyid Ismail, Abhats Mu’ashirah fi al-Iqtishadi al-Islamy wa al-Mu’amalati al-Maliyah wa al-Mashrafiyah: 115)

Jika setiap harta yang masuk ke dalam “rekening” adalah berangkat dari akad titip (wadi’ah), maka segala hal yang berisi “informasi terkini” (al-hisab al-jary)” tentang harta yang mencakup a) informasi “saldo awal” disetor, plus “semua pemasukan”, b) informasi pengeluaran, dan c) informasi saldo akhir, adalah merupakan obyek dari yang dilaporkan oleh “rekening koran” (current account = wadi’ah al-hisab al-jary). Secara rinci, Simak uraian berikut!

Informasi Saldo Awal dan Pemasukan. Saldo awal merupakan total aset / aktifa / harta (muda’ bih) yang diserahkan oleh pihak penitip (mudi’) kepada pihak yang dititipi (wadi’). Adapun pemasukan, merupakan semua jenis “aset baru” yang masuk dan dihitung sebagai harta “pada saat kini”(current = koran). Informasi yang menyajikan kondisi “saldo awal” dan “pemasukan” sehingga membentuk aset saat kini (current), dinamakan dengan istilah “rekening tabungan” (savings account) dan merupakan laporan riil aktifa.

Karena harta ini berangkatnya dari awal akad titip (wadi’ah), dan setiap harta yang dititipkan adalah bisa diambil kapan saja dan dalam besaran berapa saja (tidak harus diambil seluruhnya, melainkan bertahap, sedikit demi sedikit), maka kelompok akad yang diberikan dalam label ini adalah wadi’ah al-tawfir, yaitu titip, dengan akad pengambilannya bisa dicicil.

Baca Juga :  Tiga Tips Menciptakan Rumahku Surgaku

Laporan Pengeluaran. Istilah dari kewajiban dalam akuntansi sering disebut sebagai liabilitas. Jadi, laporan pengeluaran adalah sama artinya dengan istilah laporan riil liabilitas. Dalam praktiknya, ketika seorang pemilik aset telah menitipkan uangnya di sebuah bank, maka ia secara tidak langsung dikenai beban (kewajiban) akibat aktifitas yang dilakukannya seperti menarik, mentransfer, atau memasukkan harta ke dalam aset. Seluruh kewajiban ini kemudian dikenal sebagai kewajiban / beban / biaya administrasi (ujrah / cost).

Karena merupakan biaya (cost), maka dalam lajur akuntansi, ia dimasukkan dalam bagian lajur kiri, yaitu bagian “kredit”. Karena lajur kredit sering dikelompokkan sebagai utang, maka kewajiban ini sering juga diistilahkan sebagai “utang.”

Tapi, utang ini berbeda dengan utang seseorang kepada orang lain. Utang yang ada di dalam laporan riil kewajiban ini, merupakan ekses dari penggunaan hartanya sendiri yang dititipkan di bank.

Karena menggunakan hartanya sendiri itu, maka penggunaan harta milik sendiri adalah tidak bisa disebut sebagai “utang” (dain) melainkan harus disebut “pengeluaran.” Tapi dalam lajur buku akuntansi, tetap masuk dalam lajur “kredit” yang dalam bahasa arabnya disebut dain (utang). Jadi, sampai di sini, arah pemahaman kita adalah difokuskan pada sisi cara pelaporan akuntansi (debet – kredit = pemasukan – pengeluaran), sehingga tidak boleh memahaminya secara letter leg berdasar kalimatnya begitu saja.

Contoh praktis, “uang sendiri” yang dititipkan di bank adalah sebesar 1 juta rupiah. Biaya administrasi sebesar 2.500 per bulan. Biaya administrasi ini dalam buku administrasi akuntansi, dimasukkan dalam lajur kiri (sisi kredit). Kita membahasakannya sebagai pengeluaran. Ia bisa ditarik oleh pihak yang dititipi setelah memenuhi temponya, yaitu 1 bulan.

Jadi, sampai di sini, jauh berbeda bukan, antara utang yang terdapat di “laporan riil pengeluaran” ini dengan utang (dain) dalam Bahasa Arab? Jadi, dain di situ harus bermakna sebagai “kredit” dalam lajur buku administrasi, dan bukan “utang” beneran sebagaimana kita pahami dalam relasi antar individu. Tidak ada istilah khusus mengenai laporan ini. Mungkin yang lebih pas, adalah bila dimaknai sebagai biaya ujrah al-wadi’ah. Tapi, ini hanya istilah dari penulis saja.

Baca Juga :  Agar Akad Sah, Ini Syarat Kredit Tanpa Agunan (KTA) dalam Islam

Laporan Riil Ekuitas. Ekuitas asalnya dari “harta titipan kotor” (saldo awal + pemasukan) dikurangi dengan “tariff”. Maksud dari tariff ini adalah biaya administrasi, bea transfer, bea penarikan, dan lain-lain. Jadi, ekuitas adalah saldo / modal tersisa (modal bersih).

Berdasarkan ilustrasi di atas sebelumnya, maka ekuitas bersih dari harta titipan “penabung”, adalah sebesar 1 juta dikurangi 2.500 rupiah, sehingga total bersihnya menjadi 997.500 rupiah per bulan berjalan. Laporan yang berisi informasi “ekuitas bersih” terkini ini disebut dengan istilah fixed deposite. Karena asal ekuitas adalah harta titipan (wadi’ah), maka fixed deposite ini kemudian diistilahkan juga sebagai wadi’ah al-tsabitah.

Kedua, Rekening Penyedia Informasi Rekapitulasi Harta (Laporan Nominal)

“Rekapitulasi harta” ini istilah lainnya adalah laporan nominal. Isinya hanya berupa ringkasan /ikhtisar informasi tentang a) total pemasukan dan b) total pengeluaran saja atas seluruh aset harta penitip, ditambah c) informasi saldo akhir, yang isinya harus sama dengan nilai yang terdapat dalam laporan ekuitas (saldo bersih) di atas.

Saat data rekapitulasi ini disebut laporan nomina, maka data laporan itu diibaratkan sebagai suatu wujud “kotak simpanan harta” (deposite box). Ada juga yang menyebutnya sebagai locker. Dalam fiqih, istilah nomina sendiri dikenal sebagai al-mutaqawwam (sesuatu yang dianggap sebagai benda / dibendakan).

Meskipun, wujud rielnya, kadang-kadang memang ada kotaknya, seiring barang yang dititipkan adalah berwujud sebagai emas, perak, atau benda berharga lainnya, namun, untuk titipan berupa “uang yang dijamin nilainya”, maka istilah dari deposite box ini bisa merujuk pada server admin.

Kesimpulan

Walhasil, bicara soal rekening adalah sama dengan bicara soal pelaporan akuntansi. Setiap akuntansi selalu berisi laporan keluar masuknya aset / harta secara riil dan berbasis waktu terkini. Itulah sebabnya ia dinamakan sebagai wadi’ah al-hisab al-jary (current account = rekening koran). Adapun wujud pelaporan yang didasarkan pada aspek nominanya (mutaqawwam), ia disebut sebagai rekapitulasi harta.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Sebuah syarat agar seseorang bisa melakukan transaksi online, adalah dia harus memiliki sebuah akun (account). “Account” atau “akun” dalam dunia ekonomi, sering dimaknai sebagai “rekening”. Oleh karenanya, akun media sosial, dalam bingkai kajian ekonomi, adalah juga bisa diistilahkan sebagai rekening media sosial. Di dalamnya terdapat alamat transaksi digital, dan sekaligus sarana melaporkan transaksi yang pernah dilakukan. (Baca: Peran Akun Media Sosial dan Rekening dalam Fikih Muamalah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here