Peran Aisyah dalam Penyebaran dan Kritik Hadis

1
267

BincangSyariah.Com – Suatu ketika sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anha, datang kepada Siti Aisyah radliyallahu ‘anha dan menanyakan mengenai sebuah hadits berikut:

يقطع صلاة المرء المسلم إذا لم يكن بين يديه مثل مؤخرة الرحل، المرأة والحمار والكلب الأسود أخرجه مسلم

“Shalat seseorang bisa batal karena ketiadaan dihadapannya pembatas yang menghalangi melintasnya seseorang, disebabkan melintasnya perempuan, himar dan anjing hitam.” HR. Muslim

Hadis ini diriwayatkan dengan jalur sanad, yaitu dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari dan sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anh. Untuk hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, tidak terdapat kata aswad.

Ketika mendengar hadits ini, Siti Aisyah radliyallahu ‘anha memprotes sahabat Abu Hurairah yang kebetulan menyampaikan hadits itu kepadanya. Siti Aisyah berkata:

شبَّهْتُمُونَا بِالحُمُرِ وَالكِلاَبِ؟! وَاللهِ! لَقَدْ رَأيْتُ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي، وَإِنِّي عَلى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ القِبْلَةِ مُضْطَّجِعَةٌ، فَتَبْدُو لي الحَاجَةُ، فَأكْرَهُ أنْ أجْلِسُ فَأوذِيَ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم، فَأنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ

“Kalian telah menyerupakan kami kaum hawa dengan himar dan anjing. Demi Allah! Aku telah melihat Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat, sementara aku tiduran telentang di atas tikar yang berada di antara beliau dan qiblat. Lalu timbul niat dariku, untuk tidak duduk sehingga mengganggu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku biarkan kakiku terjulur di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Bukhari, Juz 1, Nomor Hadits 773, dan Muslim, Juz 4, Nomor Hadits 229).

Meskipun, penjelasan Siti Aisyah radliyallahu ‘anha ini ditolak oleh sahabat sebab apa yang dilakukan Aisyah itu bukan masuk kategori murur (melintas) melainkan tiduran semata, namun bagaimanapun juga dilihat dari sisi pemahaman, menurut Aisyah radliyallahu ‘anha, bahwa tiduran di depan mushalli itu adalah masuk kategori yang aqwa (lebih kuat illatnya) disbanding murur. Alhasil, menurut Aisyah, ada orang yang shalat, kemudian di depannya ada seseorang yang melintas, maka shalat orang tersebut tidak batal sebab apa yang pernah dipraktikkannya dan tercermin dari hadits di atas.

Baca Juga :  Suami Mengajak Bercinta, Bolehkah Istri Melanjutkan Puasa Sunahnya?

Lain halnya dengan ulama yang menyatakan batalnya shalat sebab mengambil dhahir hadits itu, bahwa melintasnya seorang perempuan di hadapan orang yang shalat, adanya anjing berwarna hitam dan melintas, serta adanya himar yang melintas di hadapan orang yang shalat, maka shalat orang tersebut dihukumi batal.

Ada pelajaran menarik dari kisah di atas, dalam perspektif sejarawan hadis. Apa yang dilakukan oleh Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha di atas, menunjukkan pentingnya meneliti terlebih dulu terhadap semua berita yang datang, meskipun itu diatasnamakan sebuah hadis. Karena apa yang menjadi obyek pembicaraan hadis tidak selalu menunjukkan hukum yang satu, melainkan ada banyak qarinah yang dibutuhkan sehingga siap untuk dipergunakan sebagai hujjah dan penjelasan hukum.

Pelajaran pertama adalah aspek sanad hadis. Dalam hal ini, Siti Aisyah berhasil menunjukkan bahwa sejak awal masa perkembangan hadis, penting artinya memperhatikan sanad hadits dan kritik terhadap matan hadis. Kritik itu disampaikan dengan berpedoman bahwa “tidak ada satupun prinsip-prinsip penting dalam agama Islam, saling bertabrakan antara satu dengan lainnya. Kalaupun terjadi pertentangan di antara nash-nash yang dipergunakan, maka yang patut dicurigai terlebih dahulu adalah siapa yang menyampaikan.” Sebab, pemahaman yang kurang, dapat berujung pada pertentangan di kalangan bawah. Model kritik seperti ini, kemudian dikembangkan oleh para ulama’ dalam melakukan metode al-jarh wa al-ta’dil dalam memahami hadits. (Jalaluddin al-Suyuthi,  Ayn al-Ishabah fī Istidrak ‘Aishah ‘ala al-Shaḥabah. Kairo: Maktabah al-‘Ilm, 1988, halaman: 78)

Pelajaran yang kedua, adalah pelajaran dalam memahami hadits dan perlunya kritik matan hadits. Salah satu faktor yang paling mendukung bahwa Siti Aisyah berperan aktif dalam penyebaran hadits dan melakukan kritik matan hadits adalah, karena beliau tinggal berdekatan dengan Masjid Nabawi.

Baca Juga :  Apa Itu Hadis Aziz? Ini Pengertian, Macam dan Contohnya

Di awal sejarah, masjid Nabawi merupakan pusat penyebaran ilmu-ilmu agama, baik saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan sepeninggal beliau. Saat itu, beliau sering mengikuti pengajaran Nabi kepada para sahabat dari balik tirai kamarnya. Kesempatan ini menjadi sangat langka bahkan tidak dimiliki oleh istri-istri Baginda Nabi yang lain. Maka karena alasan inilah, kemudian rumah beliau Aisyah, menjadi pusat madrasah hadits. (Jalaluddin al-Suyuthi,  ‘Ayn al-Ishabah fī Istidrak ‘Aishah ‘ala al-Shaḥabah. Kairo: Maktabah al-‘Ilm, 1988, halaman: 78)

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beberapa madrasah hadits didirikan dan diasuh oleh sahabat terkemuka seperti Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit. Di antara madrasah yang terbesar adalah yang diasuh oleh Sayyidah Aisyah radliyalahu ‘anha, bahkan beliau seolah menjadi kiblat bagi para sahabat senior lainnya.

Siti Aisyah dikisahkan dalam tarikh, telah mengajarkan hadits kepada sanak famili, kerabat, laki-laki maupun perempuan. Untuk yang memiliki hubungan mahram dengannya, maka diajarkannya secara langsung. Namun, untuk orang lain, maka diajarkan dari balik tirai. Yang menarik adalah, ketika beliau acap menanyakan beberapa persoalan aktual, lalu beliau memberikan solusi berdasar hadits. Jumlah orang yang pernah belajar langsung kepada Aisyah radliyallahu ‘anha mencapai ratusan sahabat dan tabi’in.

Khalifah Umar bin Khathab sering mengirim utusan untuk menghadap kepadanya guna menanyakan beberapa persoalan terkait dengan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hanya diketahui oleh Aisyah secara pribadi. Tidak hanya itu, bahkan sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan, saat menjadi penjabat Gubernur wilayah Damaskus, juga sering mengirimkan utusan kepadanya. Siti Aisyah kemudian memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang sulit dipecahkan oleh mereka.

Sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, juga tercatat sering berkonsultasi kepadanya terkait dengan persoalan pemahaman hadits. Mereka berusaha mencari keyakinan pemahaman terhadap hadits yang diterimanya. Bahkan ketika terjadi perselisihan tentang sebuah persoalan, seperti yang terjadi antara Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah serta antara Ibnu ‘Abbas dan Zayd bin Tsabit, mereka biasanya menjadikan Aisyah radliyallahu ‘anha sebagai hakim pemutusnya. (Al-Sayyidah Aisyah, halaman 191-192). Wallahu a’lam bi al-shawab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here